Belajar dari Desa Kepek

Kontributor: M. Sanusi*

Desa Kepek adalah salah dari 144 desa yang ada Di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakrta. Desa yang mempuanyai luas wilayah 404.628 ha dan berpenduduk 10.174 jiwa atau 2.950 Kepala Keluarga (KK) ini telah menjadi urat nadi perekonomian di Kecamatan Wonosari, Gunung Kidul. Prestasi demi prestasi diraih desa yang memiliki 10 pedukuhan ini, baik di tingkat provinsi maupun tingkat nasional. Pada 2008, Desa Kepek mendapat Juara I Lomba Desa DIY, dan tahun in menjadi finalis lomba Desa Se-Indonesia dan bersaing ketat dengan 7 desa lain dari seluruh daerah di Nusantara. 

(Sumber Gambar: “Bersih Desa Kepek Saptosari juga diisi dengan kegiatan bersih-bersih Telaga Winong” Foto: Kandar dalam http://kabarhandayani.com/warga-desa-kepek-bersihkan-telaga-winong/)

Apa yang membuat desa yang pada dekade 60-an sempat kekurangan pangan ini begitu pesat perkambangannya dan faktor apa pula yang membedakannya dari desa-desa lain di Gunungkidul khususnya dan di desa se-Indonesia umumnya?

Pertanyaan ini patut dijawab demi terciptanya paradigma baru dalam pembangunan perekonomian nasional. Pembangunan nasional tidak akan bisa berjalan tanpa menyertakan kemampuan dan kemandirian desa. Membangun bangsa sama artinya dengan membangun desa. Fenomena Desa Kepek merupakan suatu hal yang harus diapresiasi oleh aparat pemerintahan, terutama oleh aparat desa dan yang bertugas menangni pembangunan pedesaan.

Fenomena Kepek

Secara umum, ada beberapa aspek menarik yang patut dijadikan pelajaran dan teladan dari Desa Kepek. Pertama, terkait sistem pemerintahan. Dalam hal sistem dan pelayanan aparat desa, aparat setempat memberi layanan satu atap terhadap warga dari Senin hingga Sabtu, mulai dari jam 08.00 WIB sampai 02.00 WIB. Warga sangat terbantu dengan pelayanan extra time ini mulai dari pengurusan KTP dan hal-hal yang bersifat adminstratif lainnya. Prinsip yang dibangun tentu saja prinsip kemudahan dan pelayanan yang baik bagi masyarakat setempat, tanpa pungli atau praktek administratif-crime lainnya. Balai Desa Kepek tidak pernah sepi dari kunjungan warga.

Baca juga  Jokowi Minta ASEAN Tangani Masalah Muslim Rohingya di Rakhine State

Aspek kedua adalah kreatiftas dan inovasi tanpa henti yang dilakukan oleh penduduk Desa Kepek untuk mengembangkan sektor pertanian dan peternakan, salah satu potensi besar Kepek. Saat ini Desa Kepek telah memiliki sentra peternakan unggulan yang terletak di Dusun Sumbermulyo. Sentra peternakan sapi inilah yang turut membawa Desa Kepek menjadi Juara I Lomba Desa tahun lalu. Kreativitas warga peternak sapi tercermin dari kemampuan pengembangkan energi alternatif berbahan baku limbah untuk menggerakkan pertanian. Caranya, mereka memanfaatkan teknologi pengolahan hasil tani dari pabrik tahu, penggemukan sapi, energi biogas dari kotoran sapi, ketel uap berbahan bakar sekam, serta limbah kayu.

Berawal dari pemanfaatan kotoran ternak diolah menjadi gas kemudian gas dimanfaatkan untuk mengolah kedelai menjadi tahu, dan sisa residu dari kedelai juga bisa dimanfaatkan untuk penghijauan dan juga pengemukan sapi. Tak cukup sampai disitu, para peternak di dusun itu juga mampu menemukan formula pakan sapi dari limbah tahu dan rumput gajah. Keberhasilan para peternak dusun ini dalam menciptakan energi alternatif ini sampai ke telinga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tahun 2008 lalu, salah satu peternaknya, Slamet Hadiseno, mendapat penghargaan Anugrah Riset Masyarakat 2008 dari Presiden SBY di istana negara.

Dan Ketiga, apresiasi masyarakat terhadap pemgembangan desanya yang tercermin dari kekompakan dan sikap gotong royong yang tinggi. Hal ini terbukti misalnya dalam Sistem Keamanan Lingkungan yang berjalan maksimal. Di Desa Kepek setidaknya terdapat 59 Gardu yang tersebar di 60 RT. Gardu ini terus dijalankan oleh warga dengan hasil yang optimal, yaitu hanya terjadi 1 tindakan kriminalitas (pencurian) selama rentang tahun 2007 hingga 2008, dan nol kriminalitas hingga 2009. Tidak hanya itu, warga telah mampu membangun sendiri balai desanya yang megah seharga Rp. 650 juta tanpa sepeserpun bantuan dana dari negara atau pemerintah deaerah, melainkan murni dari saku warga sendiri.

Baca juga  DPW PKB DIY akan Bagikan 10 Ribu Masker

Etos Kerja

Fenomena Desa Kepek telah menjadi sangat istimewa di tengah-tengan masyarakat Gunung Kidul yang terkenal tandus dan kering. Hal ini terjadi karena etos kerja masyarakatnya sangat kuat untuk membangun dan memajukan desa Kepek. Etos kerja itu terejawantahkan dalam berbagai dimensi kehidupan tidak hanya ekonomi dan pendidikan, tapi juga seni budaya, keamanan, dan kesehatan. Angka kematian bayi dan gizi buruk yang hingga kini masih menjadi persoalan di sejumlah daerah di DIY, di Desa Kepek justru sebaliknya. Dari tiga kasus kematian bayi dan gizi buruk pada tahun 2003, menjadi nol kasus pada 2009. Angka harapan hidup juga naik dari 75 tahun menjadi 80 tahun.

Di sini terlihat bahwa kemauan masyarakat dalam memajukan dan membangun desanya sama penting dan bahkan lebih menjanjikan dengan keinginan pemerintah dan jajarannya. Tanpa partisipasi warga, Kepek tidak mungkin menjadi finalis desa terbaik se-Indonesia. Di sini penduduk desa lain pantas iri karena Kepek tidak memiliki keistimewaan atau potensi natural (given) seperti kandungan migas dan lainnya, namun potensi itu digali oleh masyarakat dan jajaran pemerintahannya untuk kepentingan dan kemajuan desa. Apresiasi patut kita samapaikan kepada seluruh elemen desa Kepek, bukan kepada hasilnya, tapi kepada kreativitas dan etos kerjanya yang menjadi prosesnya.

*Penulis adalah Pemerhati Sosial, Peneliti pada CSDS (Center for Social and Democracy Studies) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini bermukim di Yogyakarta sebagai Penulis Lepas dan Blogger di bidang Teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *