Cerpen berjudul Perempuanku ini bercerita tentang seseorang tokoh laki-laki (anonim) yang tengah diburu oleh “orang-orang berseragam”. Bersama kawan-kawanya dia lari, berusaha menyelamatkan diri, hingga akhirnya dia berhasil meloloskan diri dari kejaran orang-orang besaragam itu dengan bersembunyi di sebuah gubuk reyot milik seorang cewek.
![]() |
|
(Sumber Gambar: Ilustrasi Cerpen “Gadis di Balik Telepon.
Judul Ilustrasi “Astral” karya Loui Jover,
dalam https://1t4juwita.wordpress.com/2014/10/15/gadis-di-baliktelepon-cerpen/”)
|
Dia perjumpa dengan empunya rumah dan berdialog tentang kehidupan masing-masing. Dia bercerita tentang nasibnya, dan perempuan yang belakangan diketahui bernama Silvia itu pun saling bertukar cerita. Dalam dialog inilah pengarang menghidupkan identitas serta karakter para tokohnya (hanya dua orang). Semua informasi dan penjelasan tentang tokoh itu pun bisa kita ketahui. Bahwa si laki-laki yang tidak disebutkan namanya oleh pengarang itu ternyata bekas seorang pejabat dan kini hidup menggelandang sendirian, dan perempuan pemilik rumah itu ternyata seorang pelacur.
Tentang identitas si laki-laki pengarang mendiskripsikan, Semenjak ditinggal istri dan anak-anak, aku tinggal sebatang kara. Rumah mewah dan sedan corolla kupunya sewaktu menjabat pegawai Negara musnah seketika. Di sita balai lelang milik Negara. Katanya: aku terlibat dalam skandal dana merugikan Negara milyarran rupiah. Sungguh, aku tak tahu. Seingatku, orang itu hanya menyuruh untuk menandatangani secarik kertas kosong dan setelahnya pergi entah kemana. Aku hanya di suruh diam yang tak kutahu maksudnya. Yang ternyata membuat aku tersingkir dari kursi strategis diincar banyak orang waktu itu, ceritaku Sementara tentang si perempuan, pengarang menulis, Begitulah keseharianku sebelum malam menjemput yang memaksaku mengenakan gaun serba ketat. Tak terbayangkan satu hal yang sebelumya sangat kubenci ketika tinggal di desa, ternyata kukerjakan sendiri. Sambil ngobrol sering kali para pelangganku minta nomor HP.
Dalam perjumpaan ini pengarang mulai membangun konfil para tokohnya. Yaitu ketika dua tokoh yang sama-sama merasa teralienasi dari nilai-nilai masyarakatnya, -yang satu menjadi pelacur, yang lain menjadi gelandangan- saling bertemu dan bercerita. Tapi apa sebenarnya konflik yang ingin digarap pengarang? Pertanyaan ini tidak terhindarkan karena cerpen ini tidak fokus menggarap alurnya. Keterangan yang paling bisa diandalkan untuk mereka-reka konflik adalah kalimat-kalimat di bawah ini, yang kebetulan diulang-ulang oleh pengarang.
Pengarang menulis, Perempuan bertubuh seksi dengan rambut sebahu dan kulitnya yang merangsang birahiku itu, mengenakan kebaya tipis. Ia berdiri dekat pintu kamar. Atau di paragraf lain, Hembusan segar angin malam ini, membawaku dalam lamunan ketika hendak bersetubuh dengan istriku. Dekapan tangan kanan perempuan itu, mendidihkan darahku. Atau, Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tak rela jika pagi nanti kau pergi tanpa kesan sangat berarti. Aku tak terima jika kesepian selalu menghantuiku. Betapa teganya dirimu.” Katanya setengah sadar. Aku masih menangkap tatapan mata yang sayu itu. Meski aku tahu: kebutuhan biologis juga sangat penting. Aku hanya bisa membenamkan tubuhnya dalam balutan selembar kain wol tebal. Aku pandangi lekat-lekat aura kecantikan Silvia, yang sempat menipu penilaianku terhadapnya. Sama halnya ketika penilaian orang terhadapku. Hal yang wajar dilakukan setiap orang sebelum mengenalnya.
Dari paragraf-paragraf di atas, maka jelas konflik yang dibangun adalah persoalan ketertarikan secara seksual, karena persoalan daya tarik si perempuan itulah yang sering diulang. Bagaiman si perempuan digambarkan cantik, seksi, sementara laki-laki digambarkan tertarik, bangkit nafsunya dan semacamnya. Keterangan teks yang menyatakan bahwa cerpen ini juga berbicara mengenai ketimpangan sosial, korupsi, atau kebobrokan moral misalnya, tidak ditemukan.
Setelah itu, pengarang kemudian menutup cerpennya dengan kalimat yang bernada dilematis, “Tuhan! Aku tak kuat panasnya api neraka tapi aku juga tak pantas mendiami taman surga,” bisikku di hati menengadah.
********
Menurut saya, perbedaan paling mendasar antara cerpen dan novel hanya satu, yakni panjang tulisan. Perbedaan inilah yang mengakibatkan efek ikutan, seperti perbedaan luas tema, detail cerita, alur atau bahkan jumlah tokoh. Novel bisa ditulis panjang dan setebal bantal seperti novel Musashi karya Eji Yoshikawa, Dragon karya Tom Clancy, Harry Poter dan novel tebal lain. Tapi kalau cerpen, konvensi umum membatasi tidak lebih dari 3000 kata saja, atau tidak sampai 5 halaman spasi 1. Cerpen terpanjang yang pernah saya baca hanya karangan Kuntowijiyo, Di Larang mencintai bungan-bunga,yang panjangnya sampai dua belas halaman. Selain itu, jarang -atau bahkan tidak ada-, cerpen yang melebihi panjang 3000 kata, yang diseseuaikan dengan ruang pada surat kabar yang terbit di Tanah Air.
Panjang cerpen yang tidak sampai separuh novel ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya. Di satu sisi, cerpen menjadi sarana yang efektif untuk bercerita karena tidak banyak butuh ruang, pembacapun bisa membaca cerpen sekali duduk saja, berbeda dengan novel yang membutuhkan setidaknya tidur satu kali untuk melahapnya sampai tandas.
Tapi di sisi lain, menurut saya, cerpen menuntut hal yang tidak dituntut oleh novel, yaitu pertama, efektifitas atau efisiensi kalimat. Inilah tantangan seorang penulis cerpen. Bagaimana membuat kalimat dan paragraf yang efektif, bagaimana menulis disdrikpsi suasana, baik lahiriah maupun psikologis, dengan jelas dan hidup tanpa banyak makan kalimat. Bagaimana menulis tanpa terpotng-potong. Intinya, dalam cerpen, bagaimana menulis dengan simpel, praktis namun tidak mengganggu dinamika alur.
Kedua, tingkat kompleksitas yang lebih rendah. Tidak hanya cukup dengan kalimat yang efektif, cerpen juga menuntut redusir atau simplifikiasi dari realitas. Jika novel diibaratkan jendela karena kemampuannya memandang cakrawala secara luas, cerpen dalam fungsi yang sama tidak lebih dari sekedar kaca-mata kuda. Novel bisa melihat realitas dengan banyak pilihan pada saat bersamaan, seperti orang yang menengok lurus kedepan melalui jendela, pada waktu itu dia tetap bisa melihat kalau ada benda berkelebat di sampingnya matanya. Berbeda dengan kaca mata kuda, apa yang dilihat hanyalah apa yang berada di depannya, apa yang berkelabat di sampingnya tidak tampak.
Ketiga, mengenai persoalan yang dihadirkan. Cerpen umunya menghadirkan persoalan yang bisa “diselesaikan” hanya dalam ukuran kemampuan ruangnya, yakni 3000 kata tadi. Tidak mungkin cerpen menceritakan dimensi sejarah kolonial Belanda seutuh yang dilakukan novel-novel karya Pram. Atau tidak mungkin cerpen itu menceritakan bagaimana Italia abad pertengahan seperti novel In The Name of The Rose karya Umberto Eco. Maka dari itu persoalan yang ingin digarap harus ditakar sedemekian rupa, agar cocok dengan ruang cerpen. Di sini pengarang hanya bisa mengambil fragmen saja, bukan keseluruhan dari tema. Ibaratnya, jika cerita tentang perempuan, maka jangan sekaligus tentang emmosinya, emansipasinya, ruang ekonominya, ruang politiknya, kesabarannya atau kasih-sayangnya. Cukup pilih satu.
Membaca cerpen Perempuanku karya Santoso El-Mozart, pengarag berhadapan dengan tiga tuntutan di atas. Dalam hal efektifitas kalimat, pengarang belum sepenuhnya mampu membuat kalimat yang efektif, sehingga energi kalimat habis untuk sekedar mendiskripsikan peristiwa sederhana. Pemborosan kemudian yang terjadi. Misalnya pengarang menulis, Sisa aroma wewangian selalu menggoda birahiku yang aku tahan sejak duduk berhadapan denganya. Membangkitkan imajinasiku untuk menyetubuhinya, seperti yang aku lakukan pada istriku. Sayang, perempuan itu belum halal bagiku. “Jika malam sebelumnya aku sudah mengikatmu dalam hubungan tertentu maka tentu saja malam ini akan berlalu dengan sejuta kenangan,” gumamku.
Kalimat di atas adalah salah satu contoh pemborosan dalam cerpen. Ketika menjelaskan suasana atau peristiwa dengan kalimat tidak langsung (indirect), tidak perlu dijelas atau diperkuat lagi dengan kutipan atau kalimat langsung (direct). Pengarang sebaiknya hanya memilih satu opsi, menjelaskannya dengan kalimat langsung, atau kalau tidak jelaskan dengan kelimat tidak langsung. Sayang, perempuan itu belum halal bagiku adalah penjelasan dengan kalimat tidak langsung, tidak perlu lagi diikuti kutipan“Jika malam sebelumnya aku sudah mengikatmu …….” Karena keduanya memberi informasi yang sama, yakni status mereka yang bukan-suami istri. Dalam penulisan berita pun pola semacam ini sudah lama ditinggalkan.
Dilema kedua, pengarang terlalu luas memasukkan unsur yang sebenarnya di luar penglihatan “kaca-mata kuda” cerpen tadi. Kodrat cerpen adalah melihat dengan kaca-mata kuda. Dia tidak bisa memandang banyak hal, jadi jangan dipaksakan melihat hal-hal yang di luar batas kemampuannya. Ketika memandang seksualitas dan libido, maka jangan direcoki dengan hadirnya simbol orang-orang berseragam, yang pada saat bersamaan justru mengaburkan fokus cerita. Di pembukaan cerpen pengarang menulis, “Cepat lari…!” teriakku membangunkan mereka yang sedari tadi terlelap. Sontak mereka pun buru-buru mengemas barang bawaannya dan berlalarian tunggang-langgang menyusuri trotoar. Namun ada pula salah satu di anatara mereka yang berbaring pasrah menerima nasib yang bakal terjadi. Sepertiku juga, mungkin dia menganggap emper pertokoan di sepanjang jalan ini adalah rumah keabadian. Ah, percuma saja aku mikiririn dia seorang. Yang penting aku bisa lolos dari kejaran itu.
Pembukaan cerpen ini sama sekali tidak merujuk (reference) pada apa yang ingin dibangun pengarang. Dalam pembukaan ini pembaca digiring emosinya untuk mengasosiasikan dengan tema seperti penggusuran, ketimpangan sosial, dunia gelandangan, dan sejenisnya, tapi ternyata fokus cerita bicara tentang seks. Dan anehnya, di bagian ending pengarang menyebut lagi “orang-orang berseragam itu” seolah ada pesan tersirat yang ingin disampaikan, hingga akibantya merusak struktur konflik yang dibangun. Pengarang menulis di bagian akhir cerpennya, Kewajaran yang layak terjadi pada malam ini jika aku menghendaki. Namun, kehendak illahi yang menuntunku terlepas dari kejaran beberapa orang berseragam. Kebencian itu masih tersimpan dan sangat pahit. Dan kepahitan yang akan mulai kutempuh kembali setelah keluar dari rumah ini.
Kalimat-kalimat itu sangat menganggu fokus cerita karena orang-orang berseragam itu pengulangan dari pembukaan cerpen, seandainya cukup pembukaan saja, masih bisa ditolerir. Tapi yang dipasang dua-duanya. Akibatnya, cerpen ini seperti novel yang belum rampung. Ditambah identitas “orang-orang berseragam” itu juga kabur. Siapa dia? Apa tugasnya? Satpol PP kah? Kenapa tidak diinformasikan sekali saja untuk membuat pembaca tidak bertanya-tanya, meksi pembaca juga tidak bodoh. Dalam teori kaca-mata kuda, orang-orang berkacamata dan peristiwa pengejaran sebagaiman diceritakan di awal cerpen itu hanya kelebat peristiwa saja yang berada di samping fokus, dan karenanya tidak perlu dimasukkan.
Tuntutan ketiga dari cerpen adalah titik persoalannya yang harus sederhana. Dari perjumpaan antara pelacur dan gelandangan, ada banyak kemungkinan yang bisa digarap. Seperti kesulitan ekonomi, status sosial di mata masyarakat, moral, seksual, atau pesimisme hidup (hopeless). Maka, jika persoalan yang ingin diangkat itu lebih dari satu, maka dibutuhkan kepiawaian, bukan sekedar keinginan. Dan sayangnya, cerpen Perempuanku ini belum sepenuhnya mampu merepresentasikan kepiawaian pengarangnya.
Perlu disinggung juga persoalan judul. Ketika karya sudah jadi, karya apapun selain puisi, bukan judul yang menentukan isi, tapi isi yang menentukan judul. Ketika judul di tulis sementara isi belum ditulis, maka koreksi kembali judul tersebut setelah isinya rampung. Karena resiko penyimpangan isi dari judul sangat besar. Kalau saya sarankan, judulnya bukan Perempuanku, tapi cukup Silvia saja atau Perempuan di Gubuk Reyot. Alasannya, karena antara tokoh aku tidak ada ikatan yang dalam. Pengertian Perempuanku, dengan akhiran-ku, menandakan adanya kenyataan kepemilikan, atau minimal keinginan memiliki dari si laki-laki sebagai orang pertama. Tapi dalam konteks cerpen ini tidak ada keinginan ke arah sana.
Terakhir, pengarang masih belum sepenuhnya lancar menggunakan bahasa Indonesia dalam tulisan. Inilah kelemahan paling mendasar dari sekian kelemahan yang ada. Termasuk juga kewaspadaan terhadap segala kemungkinan “salah tulis” atau “salah ketik”. Maka, sambil berpikir tentang hal lain dalam cerpen, menulislah dengan lancar dulu. Itu yang panting bagi kita semua sebagai penulis. Menulis dengan lancar.
*Dipresentasikan pada acara Lesehan Sastra KUTUB, Yogyakarta 31 Januari 2009.
M.Sanusi adalah pegiat Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta dan aktif sebagai Pemerhati Sosial, Peneliti pada CSDS (Center for Social and Democracy Studies) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sejak tahun 2009-sekarang. Tulisan-tulisannya telah dimuat di berbagai media massa dan beberapa buku telah diterbitkan di beberapa penerbit di Yogyakarta.
Judul Cerpen: -Perempuanku
Pengarang: -Santoso El-Mozart
Panjang Karangan: -1556 kata/ 11.906 Karakter.
Tokoh Utama: -Seorang lelaki bekas pejabat negara yang menjadi gelandangan -Silvia, pelacur. Tokoh Pembantu: -Orang-orang Berseragam.
Tema: -Ironi hidup sebagai orang yang gagal.
Jenis Konflik: Psikologis/Batin Setting Tempat: -Kota termahal dunia, mungkin Bali (Umum). -Di sebuah rumah tua (Spesifik)
Setting Waktu: -Tidak jelas (Malam/Siang/Pagi/Sore)
Alur: -Kombinasi (Maju-mundur).
Durasi dalam Cerita: -Tidak lebih dari satu jam.
Sudut Pandang: -Orang Pertama.
Genre: Realis/Natural
Pesan: ??????????





