Acara yang bertajuk Malam 3 Jarak yang diselenggarakan Balai Soedjatmoko Solo dan Buletin Sastra Pawon ini akan dimoderatori langsung oleh Karisma Fahmi. Sedangkan para pembicara yang akan menggeliatkan audien di forum nantinya terdiri dari 3 pembedah pula untuk membahas ketiga antologi tersebut.
![]() |
| Poster: Arsip Balai Soedjatmoko Solo dan Buletin Sastra Pawon |
Sesuai dengan urutan yang telay out di poster acara ini, pembicara pertama akan diampu oleh Puitri Hati Ningsih yang akan membahas “Biru Magenta”. Selanjutnya akan hadir pembicara kedua, yakni Kalis Mardiasih yang sudah siap memperbincangkan karya-karya cerita pendek terbaik Gunawan Tri Atomojo dalam “Sundari Keranjingan Puisi”. Terakhir adalah penyaji yang juga penyair perempuan, yaitu Seruni Unie yang akan mengupas tuntas isi dari “Suluk Senja” –nya Dimas Indiana Senja yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka Senja.
Stimulan Bagi Calon Audien
“Biru Magenta”
“Biru Magenta” karya Stebby Julionatan dan Ratna Satyavati ini diterbitkan Ruang Kosong Publishing, Mei, 2015. Alasan kreatif dari kedua penulis memilih judul “Biru Magenta” sebagaimana yang mereka tulis adalah sebagai berikut:
Kedua penulis “Biru Magenta” berargument bahwa, “Biru” adalah langit yang selalu melingkupimu. Langit yang tak pernah lelah atau mengeluh meski terkadang kau menjauh. Pergi. Tak jenak pada ranah mana kau berdiri. Sedangkan “Magenta” kedua penulis menyatakan demikian, “sebab akulah Merah yang mengandungmu. Magenta adalah cinta. Magenta adalah luka. Magenta adalah wujud aku dan juga kamu. Sebuah kompleksitas penyatuan yang menjelma dalam keluguannya yang muda. Magenta, sinar yang menyala pada kelamnya biru malam. Magenta, membuat segalanya berbaur dan tertukar.”
Terkait “Biru Magenta”, Sanie B Kuncoro (Penulis novel Garis Perempuan, Ma Yan dan Silang Hati) berkomentar seperti termaktub di buku tersebut bahwa: “Biru Magenta ini tak hendak berpanjang-panjang dalam mengolah kata, tak pula memilih metafor yang berbelit, melainkan justru secara cerdik memaksimalkan diksi sederhana namun berdaya makna dalam dan jauh.”
Sedangkan penyair Mario F. Lawi menulis begini: “Meskipun menulis puisi merupakan suatu kerja pemadatan bahasa, metafora (dalam pengertian luas) yang digunakan dalam kumpulan ini ditulis dengan tidak tergesa-gesa.”
Sementara Indra Tjahyadi selaku seorang penyair menyampaikan hasil pembacaan terhadap “Biru Magenta” bahwa: “Membaca korpus wacana Biru Magenta karya Satyavati dan Julionatan seakan saya dihadapkan kembali pada kesadaran bahwa kita (masih) manusia: makhluk yang dinamis, penuh pergulatan, dan haru biru dalam keberadaannya.”
“Suluk Senja”
Antologi puisi Suluk Senja karya Dimas Indiana Senja merupakan antologi puisi yang kedua setelah antologi puisi Nadhom Cinta yang terbit tahun 2012 dan Sastra Nadhom sebuah kumpulan Esai yangditerbitkan bersamaan dengan Suluk Senja.
Menurut Pengakuan Dimas sebagai senag penyair dari Suluk Senja, Suluk Senja menjalani proses persiapan yang cukup panjang dan tentu saja lama. Suluk Senja memiliki tebal 80 halaman dengan 33 puisi tentang persahabatan dan percintaan yang ditulisnya selama bepergian ke sejumlah kota baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dari 33 Puisi tersebut juga banyak ditulis sebagai puisi ode kepada banyak penyair yang ditemui oleh Dimas.
“Sundari Keranjingan Puisi”
Sundari Keranjingan Puisi yang terdiri cerpen-cerpen pilihan karya cerpenis Gunawan Tri Atmodjo diberi komentar-komentar oleh penyair-penyair nasional seperti Joko Pinorbo dan M. Faizi.
Joko Pinurbo memberi komentar demikian di dalam buku “Sundari Keranjingan Puisi”, “Sastra yang inspiratif adalah sastra yang antara lain mampu mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu. Itulah yang telah diupayakan oleh Gunawan Tri Atmodjo melalui sejumlah cerita yang dituturkannya dengan bersahaja. Beberapa karyanya mencoba mempertanyakan kembali penghayatan dan pemahaman kita tentang berbagai perkara yang kadang pelik, misalnya mengenai doa dan keberuntungan.”
Sedangkan M.Faizi seorang kiai yang juga penyair dan cerpenis memberikan komentarnya terhadap kumpulan cerpen Gunawan Tri Atmodjo. Inilah komentar M. Faizi, “Jika hal lucu itu harus selalu diperoleh dari banyolan, pelecehan, atau satir terhadap sesuatu yang serius, maka unsur humor dalam cerpen-cerpen ini tidak termasuk dalam kategori itu. Cerita-cerita Gunawan Tri Atmodjo ini cerita biasa, santai, tapi serius dalam berkelakar.”
Epilogue
Acara yang digagas oleh Balai Soedjatmoko Solo dan Buletin Sastra Pawon ini, menarik untuk dihadiri dan diikuti forumnya. Bagi peserta yang hadir akan bisa langsung bertatap muka dengan para penulis dari ketiga buku kumpulan tersebut. Luangkan waktu senggang Anda untuk berangkat ke acara tersebut. Gratis dan Gratis! (Sel)





