”Awal dari segalanya, maafkanlah segala salah dan dosa-dosa. Sebab tiada kata yang paling agung kecuali kata maaf yang tulus dan ikhlas. Selajutnya, semoga Allah selalu bersamamu, memberkahi jalan terang hidupmu, merestui keputusanmu memilih pergi dari hatiku. Rentetan kata ini aku liris demi hati yang merana dan untukmu yang memendam kebohongan demi rasa yang mengganda di hatimu.
Aku masih ingat, bagaimana matamu menatapku, sampai aku terlena dan jatuh hati. Meski aku tak yakin rasa itu tulus atau sekedar rasa kagum akan kecantikanmu. Benar, aku mencintaimu lantaran paras ayumu. Tidak, tidak! aku hanya kagum. Aku masih punyak rasa pada perempuan lain yang lebih dulu meremas hatiku, Silvana namanya.
Awalnya, aku jatuh cinta padanya. Namun bertepuk sebelah tangan dan dia lebih memilih jalinan sahabat. Aku terima meski kecewa. Kemudian aku tersanjung padamu, kaupun begitu. Aku merayumu, kau suka. Akhirnya kitapun memadu hubungan yang entah statusnya apa. Engkau cemburu bila aku dekat dengan perempuan lain apalagi kalau dengan Silvana. Begitupun aku.
![]() |
| Gambar “Lebah Api”/Sel/ PIlihan Rakyat |
Tidak lama kita menjalin hubungan yang tidak jelas itu. Kita putus komunikasi. Karena sering salah paham dan bertengkar, meski hanya lewat surat. Maklum, waktu itu aku masih terlalu dini untuk mengenal ”cinta”. Mungkin kau juga.
Sejak saat itu, hati tak tentu arah. Pikiranku melayang entah sedang memikirkan apa. Yang ada hanya perempuan, perempuan dan permpuan. Perasaan tidak menentu, hasrat untuk memiliki memuncak. Sampai aku berani menulis sepucuk surat lagi untuk memikat hati yang lain. Tentunya kau dapat mengira untuk siapa surat itu aku tulis, ya, untuk Silvana. Lagi-lagi aku ditolak. Kecewa lagi. Kekecewaan itu aku lampiaskan padamu. Aku merayumu untuk yang kedua kalinya. kau tetap suka aku gombalin. Tapi apalah dayamu bila kau menaruh hati untukku. Kitapun menjalani hubungan yang tak jelas itu untuk yang kedua.
Batapa lugunya engkau sampai tidak pernah merasa bahwa aku kembali hanya untuk menenangkan pikiran. Seperti yang aku katakana sebelumnya. Aku merasa nyaman disampingmu. Sebab aku pikir, hanya kau yang selalu ada ketika aku merasa sepi atas kekecewaan sebab kecerobohanku sendiri.
Tiba-tiba, kau marah karena cemburu. Lantaran aku masih sering berkomunikasi dengan Silvana. Aku coba jelaskan tapi kau bilang, tak ada gunanya. Kau terlalu keras kepala. Akhirnya kita putus. Mungkin kau kecewa dengan keputusanku, sebab aku telah berbuat yang tidak kau sukai.
Bagiku keputusan itu tak ada pengaruhnya. Sebab aku sadar bahwa kau hanya pelarian cintaku. Lantas hasratku meronta. Rasaku pada Silvana kian memuncak. Keinginan untuk memiliki semakin dalam. Suatu waktu, aku mendatanginya sekedar untuk bercakap-cakap, bersenda gurau, tertawa, atau bertukar senyum.
Beberapa minggu berlalu. Dia mulai suka sikapku, bicaraku, dan merayu. Aku berpikir, jika aku jujur dan mengungkap rasaku, dia akan menerima. Namun sangkaanku salah. Dia masih memilih sahabat. Meski rasanya sakit sekali, aku maklumi keputusannya. Tepapi memaklumi kenyataan hidup yang perih oleh sebuah putusan tidak bisa membuat hatiku tenang, sungguh.
Entah kekuatan apa yang telah merasuki tubuhku, jiwaku, pikiranku, sampai nama “Silvana” tidak dapat aku hapus dari dinding kalbu. Sampai beberapa tahun peristiwa itu berlalu, rasa sakit yang aku rawat dengan kesetiaan, demi mendapat cintanya. Entahlah!.
Didik Hariyanto, Mahasiswa Aktif di salah satu Kampus Negeri di Yogyakarta Angkatan 2014. Kini Aktif mengelola Komunitas Mahasiswa Peduli (KMP) sebagai anggota biasa yang masih belajar menjadi pembaca dan penulis yang baik. Sehari-hari banyak menghabiskan waktu membaca di warung kopi.





