Minggu, 17 Juni 2015 / 22.08 Tidak banyak yang bisa aku tulis menjadi catatan. Tidak banyak jug dari catatan ini, gagasan tertuang. Tidak lain sebatas ocehan dan omelan sederhana untuk segala hati dan kehidupan di lingkupku, kini: dulu dan entah di masa mendatang, semoga!
Catatan ini, catatan kaki dari jejak-jejak hidup yang tertinggal di warung kopi (misal, Blandongan dan Kebun Laras). Ada cinta yang tak pernah tuntas dan sempurna diceritakan. Cinta yang tiada pernah tunai dijalankan. Keindahan dalam kata-kata yang aku kemas terus terang.
Menulis catatan ini, cintaku, adalah sakit mata yang jarang terjadi di kota-kota besar (dan apalagi dan abad modern yang serba instan). Mungkin juga semacam sakit perut yang begitu nikmat saat terkuras tuntas di kamar mandi atau westafel. Aku merasa lelah, sungguh merasa lelah, berjalan getir di jalan kehidupan yang kerja penuh dengan bualan-bualan -yang tidak menunjukkan moralitas atau sebut saja kekurang ajaran yang paling purna- hampa ini. Kendati aku yang menikmatinya seorang diri. Sebab aku juga pembual yang juga ptofeseonal.
![]() |
| Foto editor “Asbak Kebun Laras”/Sel/Pilihan Rakyat |
Cintaku yang mulia, inilah kelelahan yang kuar biasa. Kini, aku menikmatinya penuh sungguh, terus menerus, dan akut, sampai akhirnya aku terpuaskan sendiri berjalan dengan kepayahan yang sebenarnya adalah nikmat dari kehidupan.
Itulah “perjuangan” dari “pelaksanaan kata-kata”, cintaku. Tentu kau mengerti maksud dari kataku itu. Kata yang kunukil dari sajak “Hai Ma” WS Rendra. Tetapi, cintaku, aku menyadari bahwa aku masih baru belajar memilah dan memilih jalan-jalan yang kelak akan mengantarku pada kehidupan yang diimpikan oleh orang-orang yang lebih mengeluhkan impian dan cita-citanya. Cinta, aku ingin bahagia yang wajar-wajar saja.
Saat menulis catatan ini, entah tiba-tiba saja, seseorang menegurku dengan ringan: “kenapa engkau tampak resah, wajahmu murung.” Aku terkejut oleh tegur sapanya yang tentu saja tidak biasa kuterima. Apa benar aku kelihatan seperti orang sedih dan berduka? Padahal aku sedang menulis catatan ini dengan keadaan nyaman dan tenang. Dan aku dalam keadaan baik-baik saja. Barangkali hanya perasaan dia saja yang mau mengada-ada tentang diriku kini, saat menulis catatan ini.
Kurasa memang ada yang beda malam ini, di Blandongan. Tidak seperti biasanya. Padahal aku semestinya pesan kopi manis dan air es. Namun saat ini -entah kenapa- aku pesan jahe hangat. Manugkin aku sedang tidak sadarkan diri, jika aku sedang warung kopi. Aih, tidak! Aku dalam keadaan sadar berangkat ke Blandongan. Dan catatan ini aku tulis penuh kesadaran dan dengan keriangan yang penuh pula.
Cintaku, aku mesti bicara padamu ini malam. Ada banyak hal yang mesti kita bicarakan. Namun aku belum sepenuhnya siap bicarakan padamu langsung. Aku terkadang merasa takut untuk menceritakan semua yang mengganjal dari jalan hidupku. Jalan hidup bersama orang-orang yang pandai bicara dan sedikit mampu melaksanakan apa yang telah dibicarakan.
Aku tahu, kau mengerti bagaimana perasaanku, toh dirimu diam-diam membaca catatan harianku yang silam. Kau pernah baca ini, bukan! Baiklah, kutulis lagi buatmu:
Masa Lalu Kubaca; Masa Depan Kupandang
Kamis, 12 Mei 2011
Segala sesuatu yang meruang-mewaktu akan sampai pada titik kehancuran: kembali pada pencipta ruang dan waktu. Tentang masa lalu dan masa depan lahir pula di ruang-ruang dan waktu ke waktu, berada dari ketiadaan; tiada dari yang ada, kembali sebagai ruang, sebagai waktu, sebagai ciptaan yang tercipta dan hancur.
Selebihnya, aku belum terlalu paham, kenapa dan mengapa, antara masa depan dan masa lalu berebut ruang pada waktu di hari-hariku, kini. Barangkali hanya persoalan keinginan dan kebutuhan yang belum sepenuhnya terpetak-petakkan pada ruang dan waktunya. Masing-masing. Sehingga berseleweran di kepala, menggerakkan pikiran, berlari-lari mencari sesuatu yang jauh dari mata memandang, yang dekatdengan jangkauan khayali dan fantasi belaka.
Padahal antara masa lalu dan masa depan pada ruang dan waktu tertentu tak dapat terpisahkan keberadaannya. Begitupun dengan kebutuhan dan keinginan, terkadang begitu dekat dan tipis perbedaannya. Inilah yang menjadikan akal dan hati nurani mengalami pergolakan.
Lebih tepatnya adalah sebuah pencarian eksistensi.
Sampai di siti aku hampir tak bisa menuliskan apapun. Membaca diri untuk menemukan eksistensi, haruslah bertemu dengan orang-orang eksistensialis. Oleh sebabnya aku tak dapat berkata apa-apa lagi setelah mengigau sedikir panjang tentang masa lalu dan masa depan, antara yang ada dan tiada, kecuali tentangmu, tentang dirimu, satu.
Akhirnya, aku tak mengerti sendiri!
Bersambung…. baca selanjutnya…. #14
Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.


