PILIHANRAKYAT.ID, JAKARTA – Kementerian Agama RI menerika kunjungan para alumni mahasiswa Indonesia yang belajar di Syiria atau Alumni Syam Indonesia (Alsyami) di Kantor Kemenag Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta, Rabu (03/10/2018) lalu. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Alumni Syiria (Alsyami) A Fathir Hambali menyampaikan, belum lama ini Jamiah Biladis (perguruan tinggi) Syam Syiria memberikan beasiswa kepada santri santri di Indonesia, hanya saja proses seleksi calon mahasiswa dilakukan sendiri oleh alumni yang tergabung dalam Alsyami.
Menanggapi hal itu, seperti dikutip dari situs resmi kemenag, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mendorong agar pengiriman mahasiswa ke Syiria untuk memenuhi permintaan perguruan tinggi Syiria sangat baik jika dikaitkan dengan kementerian Agama dan dibenahi sistemnya.
Baca Juga:
- Doa Menteri Agama Pada Peringatan Hari Kesaktian Pancasila
- Lukman Hakim Saifuddin: Masyarakat Papua Sangat Toleran
- Menag Dukung IHDN Denpasar Jadi Universitas Hindu Negeri Pertama di Indonesia
“Supaya negara tahu, lalu kemudian bertanggungjawab atas warga negara yang ada di negara asing. Kedepan agar dibenahi sistem seleksinya. Kita harus tahu bagaimana mekanisme seleksi. Supaya juga kita bisa menjelaskan ketika ada yang tanya. Prinsipnya kami dukung penuh,” kata Menag.
Selanjutnya, ujar Menag, kaitannya dengan bagaimana pengalaman Syiria bisa didengar oleh masyarakat Indonesia, Menag mendorong bisa bekerjasama dengan Kemenag, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), atau yang terkait.
“Kita minta ulama dari Syiria untuk seminar dan disebar di beberapa provinsi. Jadi kehadiran mereka di Indonesia lebih efektif penyebarannya. Mereka bisa tinggal lalu keliling bertemu Ormas Islam, pengurus masjid. Kita bisa siapkan forumnya, yang kita belum tahu, bagaimana kita mendatangkan mereka ke Indonesia,” katanya.
“Ulama Syiria yang datang akan bisa bicara di banyak forum, misalnya di perguruan tinggi, pesantren, pengurus masjid, dan lainnya,” lanjutnya.
Ketua Alsyami A Fathir Hambali mengatakan, alumni Syiria sudah terbentuk tahun 2003 dan berbadan hukum tahun 2015. Menurutnya, alumni Syiria tidak sebanyak alumni Azhar Mesir. “Anggotanya sekarang sekitar 700 orang, berkiprah di berbagai sektor, dalam politik seperti Gus Yasin, dosen, pimpinan pesantren, dan lainnya,” ucapnya.
Belajar dari Syiria
Lebih jauh, Menag berharap Indonesia dapat belajar dari Syiria. Selain belajar soal keilmuan agama di negara yang memiliki ulama-ulama besar yang mendunia, Indonesia juga diharapkan belajar dari krisis yang dialami Syiria.
“Memang sangat baik jika dikaitkan dengan Kementerian Agama. Supaya negara tahu, lalu kemudian bertanggungjawab atas warga negara yang ada di negara asing. Tapi, prinsipnya kami dukung penuh,” ungkap Menag.
Perkumpulan alumni Syiria sudah terbentuk sejak 2003. Namun, perkumpulan ini baru resmi menjadi badan hukum sejak 2015. Saat ini tercatat ada 700 mahasiswa Indonesia lulusan dari Syiria. Mereka berkiprah di berbagai sektor, antara lain: dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), pendiri pesantren, pengelola travel, termasuk politisi seperti Gus Yasin.
Ditanya Menag tentang paradigma pemikiran keislaman alumni Syam, mereka menjawab moderat. “Mayoritas menganut paham wasathiyah, moderat. Yang radikal itu adalah yang ikut ISIS. Itu alumni perang, bukan belajar,” jawab salah satu perwakilan Alsyami.
Terkait krisis Syiria, salah satu anggota Alsyami yang hadir menjelaskan bahwa itu salah satunya karena politisasi agama. Akan hal ini, Menag berharap Indonesia bisa mengambil pelajaran dari kondisi di Syiria.
“Pengalaman di Syiria agar bisa didengar oleh masyarakat kita. Ulama ulama Syiria bisa didatangkan ke Indonesia. Mereka bisa mengisi ruang seminar dan berbagai forum di berbagai tempat di Indonesia,” harap Menag.
Pewarta: Fahmi Junior
Editor: Didik Hariyanto





