PILIHANRAKYAT.ID, JAKARTA – Menteri Perindustrian menekankan, Kementerian yang dipimpinnya mampu menjadi salah satu ujung tombak bagi pengembangan sektor riil Indonesia. Untuk itu pihaknya pun meminta kepada seluruh jajarannya untuk tidak terjebak pada pemikiran sekotral.
“Jadi kita jangan berpikir sektoral. Kemenperin adalah satu kesatuan, sehingga yang keluar adalah program Kemenperin, bukan program sektor,” tegas Menperin Airlangga ;ada acara tahunan Kemenperin bertajuk “Gebyar Penghargaan Kemenperin 2018”, Jakarta, Selasa (14/8/2018).
Apalagi, kata dia, pihaknya tengah melakukan reorganisasi guna mengakselerasi terwujudnya visi dan misi sektor perindustrian. Dimana pemerintah juga telah menargetkan pertumbuhan industri besar dan sedang sebanyak 9.000 unit dan industri kecil mencapai 20.000 unit. Pertumbuhan tersebut diharapkan mendukung pertumbuhan PDB industri nonmigas nasional yang ditargetkan menyentuh angka 5,7-6,2 persen pada tahun 2019.
“Apalagi, kita telah masuk dan bertransformasi di era globalisasi saat ini. Tentunya harus bergerak cepat. Koordinasi antar sektor menjadi sangat penting, terutama supaya fokus menjalankan roadmap Making Indonesia 4.0 yang telah menetapkan lima sektor industri prioritas,” paparnya.
Ia optimistis, kinerja industri manufaktur semakin meningkat pada kuartal III tahun ini. “Pada kuartal II, progress masing-masing sektor terlihat cukup besar dan konsisten,” ujarnya.
Di samping itu, lanjutnya, yang perlu dipacu adalah percepatan pembangunan kawasan indutri karena untuk menarik investasi.
Kemenperin mencatat, industri pengolahan nonmigas masih menunjukkan kinerja yang positif. Pada triwulan II tahun 2018, mampu tumbuh hingga 4,41 persen atau lebih tinggi dibandingkan capaian di periode yang sama tahun lalu sebesar 3,93 persen.
Baca Juga:
- Menteri Susi Ajak Mahasiswa Universitas Columbia Kelola Perekonomian Laut Berkelanjutan
- Susi Pudjiastuti: Laut Tumpuan Hidup Bangsa Tengah Menghadapi Ancaman
- Empat Tahun Jadi Menteri, Susi Tenggelamkan 488 Kapal Illegal Fishing
Adapun sektor-sektor yang menjadi penopang pertumbuhan industri pengolahan nonmigas di kuartal dua tahun ini, antara lain adalah industri karet, barang dari karet dan plastik yang tumbuh sebesar 11,85 persen, kemudian diikuti industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 11,38 persen.
Selanjutnya, pertumbuhan industri makanan dan minuman tembus 8,67 persen, serta industri tekstil dan pakaian jadi mencapai 6,39 persen. Kinerja dari sektor-sektor manufaktur tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Oleh karena itu, dalam menggenjot pembangunan industri nasional, aspek pengembangan sumber daya aparatur menjadi salah satu hal yang penting. Dengan potensi 4.954 aparatur di lingkungan Kemenperin, diharapkan dapat terus menjaga suasana kerja yang nyaman sehingga menghasilkan kinerja optimal.
“Beberapa gerakan perbaikan telah dilakukan cukup baik di pusat dan daerah, dengan pengembangan sistem yang terintegrasi, terutama mendorong program-program prioritas sesuai Making Indonesia 4.0,” ujar Airlangga.
Editor: Didik Hariyanto




