Mahfud MD; Tidak Memulangkan Satupun WNI Simpatisan ISIS

Hebat! Mahfud MD Dan Habib Luthfi Rencana Ingin Mambangun Kerukunan Antar Bangsa, (Foto: istimewa)
Hebat! Mahfud MD Dan Habib Luthfi Rencana Ingin Mambangun Kerukunan Antar Bangsa, (Foto: istimewa)

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Dalam Pemulangan WNI yang merupakan Simpatisan ISIS sudah dihimbau oleh Mahfud MD untuk tidak memulangkang sebelum Kepala BNPT menyelesaikan Kajian.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD sudah mengatakan bahwa, pemerintah tidak akan memulangkan satu pun WNI eks simpatisan ISIS sebelum tim khusus yang dipimpin Kepala BNPT Komisaris Jenderal Suhardi Alius menyelesaikan kajiannya.

Dengan tegasnya, Mahfud MD Mengatakan seperti itu. “Belum, kami belum putuskan. Tidak ada yang pulang dulu atau tidak pulang dulu,” katanya di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020.

Baca juga  Dukcapil Tingkatkan Layanan Kependudukan di Qatar

Sikap ini berlaku termasuk untuk simpatisan ISIS kategori kelompok rentan seperti anak-anak yatim. “Pokoknya sekarang belum diputuskan.”

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Institute For Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, mengatakan pemerintah bisa mulai memulangkan WNI eks ISIS di Suriah secara bertahap. Ia mengusulkan pemerintah mulai memulangkan kelompok paling rentan, seperti anak yatim berusia di bawah 15 tahun dan tidak memiliki pendamping.

“Menurut saya, Indonesia seharusnya mulai dengan cepat memulangkan suatu kelompok kecil untuk mengerti prosesnya mengeluarkan mereka ke Irak lebih dulu,” kata Sidney kepada Tempo, Selasa, 4 Februari 2020.

Baca juga  Soal Pemulangan WNI Eks ISIS, Ngabalin; Apa Argumentasinya?

Sidney menyarankan pemerintah memilih mereka yang memiliki risiko politik paling rendah. Kriteria yang memiliki risiko paling rendah adalah anak di bawah umur tanpa pendamping. Sidney yakin pemerintah dan sejumlah instansi memiliki datanya.

Ia mengatakan sejumlah negara, seperti Australia, Jerman, Norwegia, dan Amerika Serikat sudah memulangkan beberapa anak dan perempuan. Hanya Kazakhstan dan Albania yang sudah mencoba repatriasi massal. (Rifa’i/PR.ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *