XXXXX
Adalah subuh ritmis
Beserta sayap kembar, yang dibentang daun dan dingin
Juga adzan yang bersahutan
Dan aku pulang
Dari kantor yang terlalu memuakkan
Serta puisi yang berbaris hendak upacara
Menyambut fajar merah
Yang kau jahit semalaman
Di hati yang keropos
Hari apa ini?
Aku lupa
Malam bersandar di bola matamu
Malam
Tirai bulu matamu
Yang mengedip sesaat
Melihat sekelas diriku
03:00
Kota mulai lelap
Hanya kelip lampu jalan yang masih setia
Pada bahu malam
Kedai yang tutup sebagian
Sebagian lagi terbuka, demi menghormati pelanggan yang baru saja pergi
Katanya, jam segitu tak menggiurkan
Katanya, jam yang tak menguntungkan
Hanya pemabuk tuhan
Yang sanggup memikul
Beratnya waktu itu
Dilema antara malam atau pagi
Tidur atau terjaga
Sebuah wajar
Bagi yang sedang kasmaran




