Oleh Selendang Sulaiman
Kamis, 21 Juni 2012 / 17.33
“Selematkan anak bangsa dari kekurangan kopi,” baca temanku melihat slogan di gapura warung kopi tempat catatan keluh ini dituliskan.
Tidak banyak yang dapat aku lakukan di musim transisi dalam dunia gerakan ini. Tentu saudara paham apa yang “saya” maksudkan. Aku termasuk dalam lingkaran mereka “kaum aktivis mahasiswa”. Aku masih mahasiswa kelas akhir. Catatan keluh ini, lahir dari lubuk hati mahasiswa dengan beragam pengalamannya yang penuh dengan ketegangan nikmat luar biasa.
Perlu Anda tahu, aku jadi orang warung kopi sudah sejak tiga tahun silam, banyak karya yang aku hasilkan dari warung tua ini. Proposal, laporang pertanggung jawaban. puisi, cerita pendek, dan catatan ini. Saudara boleh tidak percaya, boleh yakin dengan keluh yang tiba-tiba sadara sadari keadannya dalam diri Anda. Tentang kebenaran apa yang kutuliskan, saudara akan tertawa sendiri. Dengan catatan ini pula saudara akan belajar intrik-intrik mesra.
![]() |
| Gambar: Sketsa Sel 18/ Pilihan Rakyat News |
Catatan keluh ini, catatan kacau dari tangan kotor seorang aktivis “kata orang gerakan”. Aku menuliskannya dengan senan karena sakit yang teramat nikmat. Catatan ini sudah lama, aku inginkan. Sayang, aku tak punya kemampuan retorika yang tajam. Aku belum tuntas berlajar folsafat. Belum sepenuhnya menguasai tentang segala hal dalam ilmu sejarah. Apalagi sastra?
Dengan catatan ini, orang-orang banyak mengecam aktivitasku ini, sebagai tindakan orang yang sedang galau alias “stres”. Sebagaimana warung kopi ini, juga terasa kacau suasananya. Panas dan dingin. Semacam akan lahir perang saudara lagi. Sebentar lagi, saudara akan menyaksikan sendiri pertentangan yang memecahkan perang psikologi.
Aku tidak memaksakan kehendak diri untuk menulis-uraikan segala pengalaman dalam dunia gerakan ini. Aku tidak merasa terpaksa melakukan ini. Aku juga tidak memaksa saudara untuk membaca catatan keluh ini. Hanya saja, aku menulis catatan ini dengan kesadaran penuh. Menulis dengan kesombongan pada keadaan, menulis dengan tanpa beban pikiran dan perasaan, kecuali dengan penikmatan luar biasa. Kenikmatan di alam kesadaranku. Tentu mereka dan saudara belum merasakannya.
Sebentar, aku merasa lain saat menulis catata kali ini. Serasa ada yang pecah di sini. Ada yang kosong dari masing-masing paragrafnya; tapi, baiklah, akan segera aku isi dengan benda-benda karat dari masa lalu. Dengan benda-benda termurah untuk dibeli dengan uang.
Aku ingin berkata juga pada saudara seperti perkataanku pada seseorang di warungkopi yang terheran-heran melihat tingkahku di warung kopi: pindah dari satu meja ke meja yang lain. “Dalam sehari, aku mesti bertemu-berbicara dengan monimal sepuluh orang yang berbeda.” Kalimat itu aku yakini dalam catatan keluh ini. Seyakin aku akan ambisiku untuk menyampaikan nilai sastra dan seni kepada masyarakat. Utamanya kepada para pemimpin mahasiswa di kampus putih. Selebihnya bagi mahasiswa akar rumput (massa aksi).
Sempat aku menyodorkan sepenggal bahasa untuk lelekai pencari kebenaran teori-teori barat yang dia baca dalam setahun ini. Dia sedang gelisah oleh teori-teori yang ditelannya setiap hari. Matanya bengkak, tampak ia ingin bicara pada orang banyak tentang aktifitas dan keaktivisannya, dan setiap ada aku, dia akan duduk di depanku. Kemudian bicara. Dia dipanggil “Pras”.
Baiklah, lupakan tentang siapa sosok “Pras”. Aku tidak akan melanjutkan kisah tentang dirinya. Tentu bukan karena aku tidak ingin menuliskannya. Namun aku belum dapat izin dari dirinya. Sebagai penggantinya, aku ingin menuliskan puisi berjudul “Manusia Kopi” buat Anda yang budiman.
Manusia Kopi
1)
orang jenuh dengan lingkaran hidupnya
ia diam lalu tak berarti
pergilah dia ke warung kopi
2)
orang sibuk dengan pikirannya
ia diam lalu tak ada imajinasi
pergilah dia ke warung kopi
3)
orang kesal dengan keadaan,
ia berteriak sendiri namun tak ada mendengar
pergilah ia ke warung kopi
4)
orang mara dihianati janji, ia meratap-mengurung diri
namun prih sekamin jadi dan kian menjadi
pergilah dia ke warung kopi untuk sendiri
5)
orang bingung mencari inspirasi
ia merenung dan berkhayal namun resa mengikatnya
pergilah ia ke warung kopi untuk mati
6)
zaman sudah gila
orang-orang berbondong-bondong
istirahat di warung kopi untuk bengong
Blandongan, 2011-2012
Bersambung…. baca selanjutnya…. #18
Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.


