Oleh Selman Manrifaivsky**
Lelaki itu bersiap-siap seperti hendak keluar dari kamarnya. Gelisah. Sesekali diam menghadap cermin. Suram wajahnya. Ia melangkah mendekati jendela dan menyingkap kelambu. Menatap jauh ke depan. Matanya kosong. Dibukanya jendela perlahan. Tengadah. Separuh badannya di luar jendela. Merentangkan tangan kanannya, menadah menyapa mendung. “Tak ada gerimis”, gumamnya lirih sambil mengelus nyeri di dada. Tanpa sebab, lekas membalikkan tubuh, menarik jendela lalu ditutup, tirai kelambu kembali ditutup rapat pula.
![]() |
| Gambar: Sketsa Sel 18/ Pilihan Rakyat News |
Tiba-tiba mengambil tas pinggang dan beberapa kertas dan buku di atas meja. Terburu-buru keluar kamar tanpa mengunci pintu, mungkin lupa. Beberapa jengkal melangkah, ia lenyap dalam temaram malam dan entah ia menikung di tikungan yang mana. Tak ada yang tahu kepergiannya, hanya anjing penjaga kos-kosan itu menatap tajam mengantar keberangkataannya. Yang namanya anjing, pasti menggonggong karena ada kelebat bayang melukis rumput di wilayah kekuasaannya.
Benar-benar sepi larut malam itu. Orang-orang pada mati suri dalam tidurnya, merampungkan mimpi-mimpi. Kecuali lelaki kurus yang biasa dipanggil Norman, dan berkebiasaan keluyuran malam hari.
***
Tak sengaja aku membaca oret-oretan tulisan pendeknya yang tergeletak di samping tubuhnya yang terbujur kaku di atas ranjang tidurnya beberapa waktu yang sudah-sudah, Ketika itu aku berniat membangunkannya di suatu pagi untuk kuliah. Karena tidurnya pulas, ku-urungkan niat hati untuk membangunkannya. Tampakya baru terlelap tidur. Ia pulas sekali.
Diam-diam aku mengambil dan kemudian men-foto copy beberapa tulisannya. Bukan apa-apa. Hanya heran saja, sebab setiap kali aku hendak membangunkannya, sudah pasti, ia dalam keadaan tidur pulas. Aku hanya mengira kalau Norman tidak terbiasa tidur malam. Anehnya, di akhir tulisan itu bertuliskan “Rel” dan sebuah nama kota tempat Ia dilahirkan dan tempat sekarang Ia tinggal.
Sampai akhirnya, aku terhanyut untuk mengetahui tentangnya. Tentang Norman. Aku bercerita pada teman-teman. Jawabnya berbeda-beda. Kata yang satu, Norman, terkena penyakit Insomnia. Satunya lagi, bilang, ia Penyair. Yang lain, malah mengatakan jika Norman menderita Amnesia.
Badannya memang sudah tinggal tulang. Pakaiannya kumal. Wajahnya semraut pucat pasi dengan mata sedikit cekung ke dalam. Warna kulitnya yang putih telah berubah kumal. Bahkan panjang rambutnya yang lurus sudah semraut semacam sengaja digimbal.
***
Suatu malam. Ia menulis narasi panjang tentang sesuatu yang tidak aku mengerti. Kecuali kata “Rindu” yang sedikit aku pahami. Ia memberinya judul “Gerbong-gerbong”.
Gerbong Pertama
Humaira! Malam terang, itu purnama. Kelam mencekam atau gerhana adalah aku. Siang menjelang, tetaplah terik matahari. Adalah magma yang mengalir dari letusan rindu dari gunung dalam dada. Hati membara dibakar asmara lara. Jantung merengek mengeja engsel kereta melaju ke ujung waktu. Waktu yang menyudutkan kelenjar-kelenjar sukma dalam hidup yang pekat senyap angka-angka dan jarum yang mengkurun. Sampai kapan?
Aku. Rindui sesuatu di dada dalam-dalam. Rindu yang memabukkanku tanpa segelas anggur. Rindu wajahmu, rindu kampung halaman dan rindu masa kanak-kanak. (Rel)
Gerbong kedua
Humaira! Apakah gigil memelukmu, ketika musim dingin menyergap malam? Seleksa mawar di ketiak malam mengerti, bahwa tubuhku beku bagai gunung es di kutub selatan dan kutub utara yang masih belum bertemu.
Sungguh nian, kelopak mataku bengkak tak lelap kalap, padahal kantuk tak ubahnya mata belati mengiris kelopak embun di kancah malam. Tentu kau masih ingat saat menjelang tidurmu waktu dulu, Ibumu menina bobokkanmu dengan nyanyian alam dan dongeng-dongeng tentang kisah-kisah para Nabi atau tentang cicak dan buaya atau kancil yang mencuri mentimun Paman Doblang. Aku tertawa mendengar curhatanmu!. (Rel)
Gerbong ketiga
Humaira! Sungguh manis kisah-kisah yang aku sempurnakan denganmu di kampung halaman yang permai penuh rampak naung beringin rindang. Semanis madu yang kuperas dari sarang lebah yang kepungut dari pohon siwalan, tempat kita istirahat sepulang sekolah dan terkadang kita mencuri minum Nira. Tentu kau masih ingat, burung-burung kecil bercricit dan berkepak sayap menari ria di punggung sapi jantan pembajak sawah. (Rel)
Gerbong Keempat
Humaira! Kau begitu anggun waktu itu,. ketika fajar kekuning-kuningan seperti warna kunyit yang dikerat-kerat kecil oleh ibu di dapur. Meski kau masih baru belajar mandi di muara sungai, tempat kita biasa mancing. Sesekali kudengar serak suaramu memanja di daun telinga. Tak jarang, kau memintaku untuk memetikkan bunga ladang yang baunya tak sedap, untuk kusumpingkan di celah telinga kananmu. (Rel)
Gerbong Kelima
Tetapi Humaira, waktu memang sangat terlalu bengis memisahkan kita yang dini. Sebab aku harus pergi ke tanah rantau, sebuah negeri asing tanpa tuan atau negeri Para Besebah. Di mana orang-orang sibuk sindiri-sendiri mengurusi urusan perut pribadi. Sulit aku temui sepercik senyum tersungging dari bibir orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku. Apa mungkin, mereka adalah penjajah negeri ini?, bukan! Bukankah dalam buku pelajaran Sejarah di SMP-SMA disebutkan, bahwa negeri ini telah merdeka sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Lantas mereka itu siapa?. Ya, begitulah mungkin hidup di negeri orang, seperti terasing sendiri. Namun kata Bapakku, negeri ini negeriku. (Rel)
Gerbong Keenam
Humaira! Itulah takdir di tengah harapan atau sekedar impian yang tertunda. Atau, aku yang tak paham, apakah kisah indah yang tergadaikan?. Lantaran nasib diriku yang terlampau mustahil untuk melengkungkan janur kuning di beranda rumahmu, rumahku pula?.
Oleh sebabnya aku pergi meninalkanmu dengan kejam, pergi jauh darimu. Namun, bukan untuk tak kembali atau lari dari tanggung jawabku sebaai lelaki. Aku pergi untuk mempersiapkan pertemuan kita yang lebih baik nan abadi. (Rel)
Gerbong Ketujuh
Ketika dulu, kita pernah berjanji sepulang sekolah pergi memancing sekedar menikmati suasana senja. Yang terkadang kau meminta untuk segera pulang sebab harus segera berangkat ke surau untuk ngaji, kalau tidak, kau akan dimarahi bapakmu. (Rel)
Gerbong Kedelapan
Aku pergi Humaira…! Dan bila waktu akan mempertemukan kita, stasiun di ujung mana yang harus aku datangi demi menunggu kereta kenangan, di mana kau akan menggeraikan rambut dan membentangkan kedua lenganmu di tangga gerbong impian?. (Rel)
Kereta Pertama yang tak Kembali
Kau tandai malam itu di dadaku. Hingga membekas dan terasa sampai kini. Maka rindu ini kian rindang saja. Rindang tak berbuah. Pun seorang, tak ada yang tahu tentang itu selain aku. Dan malam-malam aku mengisahkan sendiri bagaimana getar getar jiwa menyatu malam itu. Aku menulis sisa-sisa dari hidup yang pernah terbingkai bersamamu. Bingkai yang kecil. Tak patut disebut sejarah bagi siapa saja, apalagi bagi negeri ini. (Rel)
***
Norman telah benar-benar lupa dengan dirinya. Sampai Ia tidak pernah peduli dengan hidupnya, apalagi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Selain dirinya tak ubahnya kereta yang berlalu tanpa sapa.
Di penghujung malam. Sebelum sesuatu terjadi Ia menulis sebuah kertas putih dengah darah yang mengucur deras dari pergelangan tangannya: Delepan belas purnama telah aku lalui hidup tanpamu di negeri rantau. Delapan belas bulan pula tak ketemui cricit burung-burung kecil di pagi buta, kecuali bising kendaraan bermotor, kereta api, dan pesawat. Munkin di sana kau masih setia menunggui musim di bawah rampak naong bringin rindang sambil menghitung jari jemari, tentang waktu kepulanganku atau gerak langkahku meniti kehidupan dalam hidup yang hanya menjadi angan dalam benakmu.
Begitu pula dengan aku, meski tak sedamai tempat kita bersama di pematang sawah. Begitu cepat semua berubah. Betapa sulitnya mencari kantor pos. namun tak disangka hidup kita sedekat ini. Kita masih bisa bertukar cerita. Meski hanya lewat tulisan singkat. Namun, kenapa harus seperti ini. Bukankah lebih romantis seperti kisah-kisah roman para pendahulu kita. Ya, tak apalah! setidaknya aku bisa menemuimu di balik nyata hidup ini. Meski hidup kita sekarang di tengah negeri Para Bedebah.
***
”Norman! Jika kelak kau temukan bunga dalam perantaunmu, selipkanlah semerbak wanginya di sayap kupu-kupu yang akan bertandang ke taman rumahmu! Kupu-kupu yang kau utus terbang mengikuti jejakku. Sebab bunga lain telah mekar di beranda rumahku yang tumbuh dari benih cinta yang kau tanam di hatiku.”
”Baiklah Humaira!. Namun, pertemuan sederhana di tempat istimewa bagi siapa terkenang, Itulah surga! Apalagi aku, yang telah berwidu-windu terapung rana dalam lara dan keterpurukan di negeri rantau.”
”Aku kurang paham!”
”Perjalanan panjang telah menggoreskan prasasti yang takkan pernah rapuh. Derita hanya rintang yang dapat mecerahkan peta kembara.”
”Yang kutahu bukan itu!”
”Katakanlah yang kau tahu! sebelum aku pergi.”
”Aku egois”
”Kamu sudah tumbuh dewasa.”
”Duh, ya tuhan…!”
”Tiada guna tangisan itu!”
”Dapatkanlah yang lebih baik dan layak menduduki kursi di hatimu.”
”Relakanlah aku bertahan”
”Aku tidak bisa!.”
”kenapa?”
“Jangan kau tanya lagi!”
“Baiklah…. selamat tinggal!”
***
Norman putus asa. Di tengah tubuhnya yang terbujur kaku, Ia masih sempat membaca selarik bait puisi kawannya yang kini berada di kota nun jauh disana.
“Aku telah berusaha menghafal wajahmu. Dari pertemuan yang belum digelar kartu nama dan empat mata. Rahasia itu tan akan ada yang tahu sebelum puisi yang pernah kutulis; kubaca, mereka dengar, dan tuhan mengerti. Aku sudah cukup usia.”
Sebuah harapan dan keyakinan yang terlepas setelah pertemuan yang sama tanpa senyum yang jujur dari sepasang bibir. Tatapan mata yang semu, dan sapa yang dipaksakan. Pertemuan untuk yang terakhir kalinya demi keteguhan hati yang perlu di pertanyakan. Tentang rindu, dendam dan cinta.
Kemudian semua berakhir tanpa apa-apa. Kecuali air mata dalam bibir yang bersenyum. Terlukis di akhir Norman benar-benar membenamkan mata di hari Minggu itu.
Yogyakarta, Februari 2012
*Cerpen ini terinspirasi dari lagu “Gloomy Sunday” yang populer sebagai lagu pengantar kematian. Gloomy Sunday berjudul asli “Szomorú Vasárnap” atau dalam bahasa Indonesianya “Minggu Yang Kelam”. Lagu ini dicipta tahun 1933 oleh seorang komposer dan pemain piano autodidak dari Budapest, Hungaria, bernama Rezső Seress. Rezső Seress sang penciptanya juga meninggal akibat bunuh diri pada tahun 1968.
** Selman Manrifaivsky, lahir 20 Februari 1990 di pedalaman Indonesia. Puisi dan Cerpennya dimuat di berbagai Media Masa dan termaktub dalam beberapa antologi bersama. Bergiat di KPU (Komunitas Panjang Umur). Bisa dihubungi di Twiiter @Rakyat2030





