PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV, Arief Hidayat alias Mas Dayat, menyoroti kondisi jalur alternatif setelah Jembatan Curah Bubur yang menghubungkan Kecamatan Tegalsiwalan dan Banyuanyar ditutup total.
Mas Dayat bersama anggota DPRD dari Fraksi NasDem, Feri Gita Rahayu, turun langsung mengecek sejumlah jalur yang digunakan warga selama proses pembangunan jembatan berlangsung.
Mereka menyusuri rute Bulujaran Lor–Paras–Banjarsawah serta jalur dari sisi timur Tegalsiwalan melalui Desa Tegalsiwalan, Paras dan Bulujaran Lor.
Menurut Mas Dayat, pembangunan Jembatan Curah Bubur tetap harus didukung karena berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur dan keselamatan masyarakat. Namun, penutupan akses utama tidak boleh membuat warga kehilangan jalur yang aman untuk beraktivitas.
“Prinsipnya kami sangat mendukung pembangunan jembatan ini. Yang kami pastikan adalah bagaimana selama proses pembangunan masyarakat tetap mendapatkan akses yang aman dan layak,” kata Mas Dayat saat melakukan pengecekan lapangan.
Ia mengatakan keberadaan jalur alternatif tidak cukup hanya ditetapkan di atas kertas. Kondisi jalan, penerangan, rambu hingga kapasitas lalu lintas harus dipastikan mampu melayani kebutuhan warga.
Dalam pengecekan tersebut, Mas Dayat menemukan sejumlah ruas jalan alternatif yang masih kurang baik. Fasilitas penunjuk arah juga dinilai belum memadai.
Ia bahkan mendapati pengguna jalan yang kebingungan mencari arah di kawasan pertigaan setelah jembatan sumber air di Desa Paras.
Bagi Mas Dayat, persoalan tersebut menunjukkan bahwa penanganan dampak penutupan jembatan belum boleh dianggap selesai.
“Bagi orang yang baru pertama kali lewat, tidak adanya papan penunjuk bisa membuat mereka bingung. Apalagi malam hari,” ujarnya.
Selain rambu, ia menyoroti minimnya penerangan di sejumlah titik jalur alternatif. Jalur yang sepi dan gelap, kata dia, dapat meningkatkan risiko bagi pengguna jalan.
“Jangan sampai kita menyelesaikan persoalan akses jembatan, tetapi kemudian muncul persoalan baru di jalur alternatif,” kata Mas Dayat.
Soroti Jalur Pejalan Kaki
Mas Dayat juga mengecek jalur yang digunakan warga untuk berjalan kaki di sekitar lokasi jembatan.
Jalur tersebut memang relatif dekat, tetapi medannya cukup ekstrem. Warga harus melewati kawasan curam di bawah jembatan dengan kondisi tanah yang terjal dan berdebu.
Jalur itu tidak memungkinkan dilalui mobil dan tidak disarankan untuk kendaraan bermotor.
Mas Dayat meminta jalur tersebut ditata apabila masih akan digunakan sebagai akses pejalan kaki.
“Kalau memang ini menjadi akses pejalan kaki, paling tidak jalannya dipadatkan dan diberi penerangan. Jangan dibiarkan menjadi jalur yang berbahaya,” katanya.
Menurut dia, pemerintah tidak selalu harus membuat infrastruktur besar untuk memberikan akses yang aman. Pemadatan jalan, penerangan dan pemasangan petunjuk arah sudah dapat menjadi solusi sementara.
Pendidikan Tak Boleh Terganggu
Mas Dayat juga menaruh perhatian pada dampak penutupan jembatan terhadap aktivitas pendidikan.
Ia bersama Feri Gita Rahayu mengunjungi sejumlah sekolah yang siswanya terdampak perubahan akses. Menurut Mas Dayat, mobilitas siswa, guru dan tenaga kependidikan harus menjadi pertimbangan dalam penanganan jalur alternatif.
“Anak-anak sekolah jangan sampai harus menempuh perjalanan yang jauh lebih lama atau menggunakan jalur yang kurang aman hanya karena akses utama ditutup,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah memastikan aktivitas pendidikan tetap berjalan tanpa menambah risiko bagi siswa maupun guru.
Mas Dayat Minta Kesepakatan Segera Dijalankan
Usai mengecek kondisi lapangan, Mas Dayat mengikuti musyawarah bersama Forkopimcam Tegalsiwalan, pihak kontraktor dan perwakilan Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo.
Pertemuan tersebut membahas sejumlah persoalan yang muncul akibat penutupan total Jembatan Curah Bubur.
Mas Dayat mengapresiasi komunikasi antara pemerintah, aparat kewilayahan, kontraktor dan masyarakat. Namun, ia meminta hasil musyawarah tidak berhenti sebagai pembahasan.
“Meskipun beberapa langkah ini mungkin terlambat karena penutupan sudah berjalan, kami berharap bisa dilakukan secepatnya. Jangan menunggu sampai terjadi kecelakaan atau persoalan keamanan baru kemudian kita bertindak,” kata dia.
Mas Dayat juga meminta pemerintah mengevaluasi jalur alternatif secara berkala. Jika terdapat titik yang rusak, tidak aman atau membingungkan pengguna jalan, perbaikan harus dilakukan segera.
“Kalau di lapangan ternyata ada titik yang tidak aman, rusak, membingungkan atau tidak mampu menampung lalu lintas, jangan menunggu empat bulan selesai. Segera evaluasi dan perbaiki,” ujarnya.
Ingatkan Biaya Sosial Pembangunan
Mas Dayat menilai pembangunan Jembatan Curah Bubur bukan sekadar proyek konstruksi. Selama pengerjaan berlangsung, pemerintah juga harus memperhitungkan dampaknya terhadap kehidupan warga.
Jembatan tersebut selama ini menjadi salah satu akses masyarakat menuju pusat aktivitas ekonomi, termasuk Pasar Hewan Banyuanyar dan Maron. Jalur itu juga mendukung distribusi hasil pertanian dan perdagangan.
Karena itu, menurut Mas Dayat, tambahan jarak tempuh, konsumsi bahan bakar, waktu perjalanan dan biaya angkut merupakan konsekuensi yang ikut ditanggung masyarakat.
“Jangan sampai biaya pembangunan kita hitung dengan sangat rinci, tetapi biaya sosial dan ekonomi yang ditanggung masyarakat selama pembangunan tidak dihitung,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan yang telah direncanakan sejak beberapa tahun lalu semestinya juga memperhitungkan persoalan akses selama proyek berlangsung.
“Kalau sebuah proyek sudah direncanakan sejak 2022 atau 2023, maka kita berharap bukan hanya desain jembatannya yang matang. Jalur alternatif, rekayasa lalu lintas, keselamatan, dampak terhadap pendidikan, ekonomi, sosial dan keamanan masyarakat juga harus menjadi bagian dari perencanaan,” ujar Mas Dayat.
Ia menegaskan kritik tersebut bukan untuk menghambat pembangunan.
“Justru kami ingin pembangunan ini berjalan dengan baik. Jembatan selesai, masyarakat mendapatkan infrastruktur yang lebih baik, tetapi selama prosesnya masyarakat juga jangan sampai merasa ditinggalkan,” kata Mas Dayat.
Bagi Mas Dayat, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari selesainya konstruksi jembatan. Pemerintah juga harus memastikan warga tetap dapat bekerja, bersekolah dan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman selama proyek berlangsung.
“Pembangunan bukan hanya tentang bagaimana jembatan selesai. Pembangunan adalah bagaimana masyarakat tetap bisa beraktivitas dengan aman dan layak selama proses itu berlangsung,” pungkasnya.




