PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Presiden Jokowi Bercerita soal kasus Korupsi besar terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. Jokowi mengatakan hal itu saat Mahfud MD ditunjuk menjadi Menko Polhukam.
Sebelumnya, Mahfud sudah menjelaskan bahwa Jokowi Sudah melaporkan terhadap KPK, akan tetapi sampai sekarang KPK masih belum mampu untuk menggungkap. Entah apa yang jadi persoalan, sehingga kasus itu masih belum terungkap sampai sekarang.
“Presiden menunjukkan, menyampaikan laporan ke KPK, ini, ini, ini, tapi enggak terungkap. Coba sekarang diperkuat itu kejaksaan, kepolisian. Sehingga kita normal kembali,” kata Mahfud saat menjamu para tokoh di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (11/11).
Mahfud MD juga sudah mempertegas persoalan itu. akan tetapi hal itu memperkuat argumen Jokowi yang mengatakan tugas KPK yang sesungguhnya. Namun ia tak menyebut secara spesifik cara memperkuat KPK yang dimaksud Jokowi itu seperti apa.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menyebut Jokowi menilai pemberantasan korupsi saat ini sudah baik. Namun ke depan harus lebih berani lagi. “Pemberantasan Korupsi lebih hadir, lebih kuat. Caranya apa? Korupsi-korupsi besar itu diungkap,” ujar Mahfud.
Bukan hanya itu, akan tetapi pada momen itu juga, Mahfud juga dititipi Jokowi terkait penegakan hukum. Ia diminta untuk menaikkan indeks penegakan hukum di Indonesia yang masih di bawah angka 50.
Selain itu, Jokowi juga menitipkan soal deradikalisasi. Mahfud sadar deradikalisasi bakal memicu polemik di publik. Karena itu, ia memulai langkah tersebut dengan mendefinisikan radikalisme untuk menghindari perdebatan lebih lanjut.
“Bagi hukum kita, radikal itu setiap upaya untuk membongkar sistem yang sudah mapan yang sudah ada dalam kehidupan bernegara dengan cara kekerasan. Dengan cara melawan orang lain yang berbeda dengan dia,” ucapnya.
Sudah selayaknya orang-orang yang sudah melakukan korupsi yang ada si Indonesia itu semua dibuka. Agar pencapaian periode kedua itu mampu dan betul-betul menciptakan Indonesia maju, bukan malah menciptakan Indonesia tanpa berkemajuan.
(Rifa’i/PR.ID)




