PILIHANRAKYAT.ID, Jogjakarta-1 Oktober adalah momentum nasional yang tak bisa dilepas dari fikiran para penerus generasi bangsa. Maka dari itu, Pusat Studi Pancasila (PSP) UPN “Veteran” Yogyakarta, mengelar ziara ke makam pahlawan dikusuma negara, Bantul Yogyakarta.
Kunjungan ziarah yang dilakukan oleh PSP bersama dengan mahasiswa UPN itu, tak lain hanya memperingati para pahlawan kita yang susah payah mempertahankan Indonesia dari penjajah sekaligus dalam rengka memperingati “Hari Kesaktian Pancasila”.
Lestanta Budiman, yang akrab disapa dengan Pak Lobo mengatakan bahwa itu para pahlawan yang susah payah berjuang hanya mempertahankan Indonesia dari penjajah. Oleh sebab itu, kita harus mengingat para pejuang pahlawan kita.
“Para pemuda jangan sampai melupakan, yang di katakan oleh Soekarno itu betul, jangan sampai melupakan (jas merah). Hal itu penting diingat oleh generasi penerus bangsa, karena melihat perjuangan pahlawan tentu menjadi semangat gerakan pada pemuda pada situasi hari ini,” kata Pak Lobo, saat di temui oleh wartawan Pilihanrakyat di Makam Pahlawan, Kota Yogyakarta, Selasa (1/10).
Pak Lobo juga menjelaskan bahwa dalam perjuangan para pahlawan bukan hanya urusan melawan penjajah akan tetapi mampu membendung isu-isu yang ingin meruntuhkan Pancasila. Itu yang harus diketahui oleh segenap generasi bangsa.
“Mari resapi nilai-nilai yang beliau dulu lakukan saat melawan penjajah, karena itu yang akan membangkitkan sifat nasionalisme kita dalam mempertahankan bangsa Indonesia dari orang yang ingin menghancurkan NKRI”, ujarnya.
Dia juga menambahkan bahwa dalam Hari Kebangkitan Nasional harus ada Refleksi kesadaran pemuda Indonesia yang mengingat para perjuangan pahlawan terutama, Jedral soedirman. Beliau banyak sekali sumbangsih terhadap bangsa Indonesia. “Maka hari ini generasi muda harus sadar. Gunakan semua, bukan hanya menggunakan fikiran saja akan tetapi juga gunakan hati nuraninya,” katanya.
Ayo para generasi muda, para penerus bangsa harus mengenang para pahlawan. Dan jangan sampai hanya mengenang para pahlawannya akan tetapi harus mengenang prilaku, perjuangannya pada zaman dulu. Itu baru mengenang para pahlawan Indonesia yang sejati. (Rifa’i/PR.ID)




