Ratna Sarumpaet Tahanan Terakhir Orde Baru, Haruskah Ia Berakhir di Penjara?

 Ratna Sarumpaet yang baru saja bikin heboh media sosial sejatinya seorang akvitis sosial yang sangat vokal bahkan sejak Orde Baru berkuasa. Kini Ratna Sarumpaet telah ditetapkan sebagai tersangka penyebar berita bohong yang dia ciptakan. Haruskah Ratna mengakhiri karir dan perjuangannya di dalam penjara? Sebuah akhir yang tidak bermartabat karena kebohongan luar biasa yang dia ciptakan?
PILIHANRAKYAT.ID – Ratna Sarumpaet yang baru saja bikin heboh media sosial sejatinya seorang akvitis sosial yang sangat vokal bahkan sejak Orde Baru berkuasa. Kini Ratna Sarumpaet telah ditetapkan sebagai tersangka penyebar berita bohong yang dia ciptakan. Haruskah Ratna mengakhiri karir dan perjuangannya di dalam penjara? Sebuah akhir yang tidak bermartabat karena kebohongan luar biasa yang dia ciptakan? Sebaiknya kita tunggu perkembangannya.

Ratna dikenal sebagai aktivis yang vokal memperjuangkan keadilan, dia juga aktor teater yang luar biasa. Maka wajar apabilah kasus pembunuhan Marsinah, aktivis buruh yang tewas pada 1993, menjadi salah satu kasus yang mendorongnya untuk aktif secara politik. Yang selanjutnya ia tulis naskah pementasan orisinal pertamanya dengan judul “Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah” pada 1994.

Ratna menulis naskah teater tersebut selama satu tahun dengan gambaran jalan cerita yang lebih universal. Naskah ini memang tidak secara spesifik menyoroti Marsinah, namun mengenai nasib orang-orang yang diberlakukan tidak adil yang menuntut hak pada pihak berkuasa.

Roh Tokoh yang diperankan Ratna Sarumpaet, prihatin pada ketakadilan di muka bumi – Tabloid Nova edisi September 1994
Baca juga  Perkembangan Kondisi Wartawan WNI Yang Tertembak Di Hong Kong

Pertunjukan teater Marsinah dipentaskan di Teater Arena, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 16-19 September 1994. Drama sepanjang dua jam itu mengambil setting di alam barzakh.

“Siapa yang peduli keadilan, selain korban ketidakadilan. Mereka jarang dibela,” ucap Ratna Sarumpaet, sang penulis, sutradara, dan sekaligus pemeran roh wanita di atas panggung, kepada Tabloid Nova edisi September 1994.

Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah ditulis sedemikian rupa sebagai ungkapan kegelisahan Ratna terhadap kasus-kasus semacam Marsinah. Itulah sebabnya, tidak ada kemunculan tokoh Marsinah dalam pertunjukkan. Sebaliknya, Ratna hanya menampilkan esensi penderitaan yang dialami Marsinah. Dan itu bisa menimpa siapa saja, termasuk pada kaum lelaki sekalipun.

Selain penulisannya yang memakan waktu lama, latihan untuk pentas itu pun membutuhkan waktu 5 bulan. Sebelum berlatih, Ratna dan teman-temannya bahkan menyempatkan diri ke Nganjuk, Jawa Timur, untuk berziarah dan mengunjungi keluarga Marsinah untuk meminta izin atas pemakaian nama Marsinah.

Setelah berlarut-larut, atas kasus pembunuhan Marsinah, pada September 1997, Kepala Kepolisian RI menutup kasus itu dengan alasan bahwa DNA Marsinah dalam penyelidikan telah terkontaminasi. Segera setelah penutupan kasus, Ratna menulis monolog “Marsinah Menggugat” untuk dipentaskan dalam sebuah tur ke sebelas kota di Jawa dan Sumatera.

Baca juga  KKI 2018 Gelar Wayang Kulit, Mendikbud: Waktu Kecil Saya Nonton Wayang
Pentas Drama Marsinah, Nyanyian dari Bawah Tanah oleh Ratna Sarumpaet

Monolog ini kemudian dianggap sebagai karya provokatif dan tak jarang dibubarkan oleh pasukan anti huru-hara di beberapa kota saat dipentaskan. Hal itu membuat rumah Ratna terus diawasi intel.

Semakin kecewa dengan tindakan otokratik Orde Baru Soeharto, selama pemilihan umum 1997 Sarumpaet dan kelompoknya memimpin protes pro-demokrasi. Hingga akhirnya, pada Maret 1998, Ratna Sarumpaet ditangkap atas salah satu aksinya untuk kemudian dijebloskan ke penjara. Ia menjadi aktivis terakhir yang dipenjara Orde Baru sebelum Soeharto lengeser pada Mei 1998.

Setelah 70 hari dalam kurungan, sehari sebelum Suharto resmi lengser, barulah Ratna Sarumpaet dibebaskan.

Kini, drama yang dia perankan tentang dirinya sendiri yang berhadapan langsung dengan para elit dan seluruh rakyat Indonesia. Dimana atas perbuatannya yang berani menyebarkan kebohongan dia harus menjadi tersangka. Mungkin, keputusan hukum akan menempatkan Ratna ke Lapas kembali.

Sumber: Bangka Pos
Catatan Redaksi: seluruh isi tulisan ini milik penulis. Pilihanrakyat.id sebatas menyebarkan gagasan segarnnya kepada publik. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *