PILIHANRAKYAT.ID, Sumenep-Lakpesdam MWC NU Pragaan menggelar Rajabiyah dan harlah NU ke-97 dengan Bedah Buku dan Diskusi Publik “Menjerat Gus Dur”, di Kampus STKIP PGRI Sumenep, Senin, (09/03/2020).
Acara ini bekerjasama dengan BEM STKIP PGRI Sumenep dengan alasan menumbuh sadarkan pemikiran kritis mahasiswa, supaya mahasiswa tidak melulu terjebak pada statemen sejarah yang tanpa data.
Bedah buku ini dihadiri oleh penulis buku “Menjerat Gus Dur”, Virdika Rizki Utama, Ahmad Rozali (Jurnalis NU Online) dan Abrari (Aktivis 98), serta berbagai kalangan civitas akademik, dan organisasi-organisasi yang berada dibawah naungan NU pada umumnya.

“Diskusi semacam ini juga bagian dari tradisi masyarakat Indonesia untuk mengingat para leluhur kita yang slalu memperjuangkan tanpa pamrih demi kesejahteraan bersama”, sambutan KH. Zarkasyi Rahiem selaku Syuri’ah MWC NU Pragaan.
“Hari ini kita menghadapi zaman yang serba cepat, sedikit-sedikit trending, informasi berita cepat didapat. Maka dari itu kita sebagai kader bangsa yang progres harus bisa mengkalter terkait berita apa itu hoax atau benar adanya, dengan adanya bedah buku ini menjadi sebuah refrensi dalam mengambil informasi yang akurat dan faktual dalam kehidupan generasi bangsa masa depan”, lanjutnya.
Pelengseran Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari kursi presiden terbilang politis dan penuh kontroversial. Banyak isu yang tersebar di media massa bahkan di artikel-artikel yang terkumpul dalam bentuk buku, tapi itu belum cukup menggambarkan realitas kontitusi waktu itu.
Hingga akhirnya buku “Menjerat Gus Dur” terbit, buku yang penuh data dan mencengangkan seluruh politisi nasional termasuk musuh politik Gus Dur yang menurunkan Gus Dur dari kursi presiden.
“Ada banyak fakta yang ditemukan oleh penulis sebagai bukti empiris dalam pelengseran Gus Dur (Presiden), bahwasanya lengsernya Gus Dur tidak bersalah. Akan tetapi adanya mafia politik yang akhirnya menjadi sebuah bumerang dalam kepemimpinan sang guru bangsa (Gus Dur)”, kata Virly selaku pembicara.
“Maafkan salah musuh-musuhmu, tapi jangan lupakan nama-namanya” lanjut Abrari.
(Anwar/PR.ID)




