PILIHANRAKYAT.ID, JAKARTA – Sederet karya sastrawan WS Rendra dibacakan untuk memperingati HUT Ke-73 Kemerdekaan Indonesia di Graha Bhakti Budaya, Jakarta, Jumat (17/8) malam. Diselenggarakan, komunitas Burung Merak Rendra, acara diskusi bertema ‘Rindu Rendra’ itu menghadirkan sekelumit bahasan mengenai kemerdekaan.
Ketua panitia Selendang Sulaiman mengatakan, diskusi dan pembacaan puisi merefleksikan atau resistensi terhadap keadaan bangsa saat ini. Bertajuk Rakyat Belum Merdeka, diskusi mengupas Indonesia yang tidak pernah menganggap rakyat sebagai insan. “Diskusi ini melihat kondisi rakyat dari kacamata (karya) Rendra,” kata dia di Jakarta, Jumat (17/8) malam.
Menurut dia, dari sudut pandang politik, rakyat Indonesia masih menjadi objek, bukan subjek politik. Lembaga perwakilan, lanjut dia, hanya lembaga perwakilan partai politik, bukan perwakilan rakyat. “Negara telah merdeka, tetapi rakyat Indonesia belum,” ujarnya.
Sementara itu, politikus Rizal Ramli mengusulkan karya WS Rendra diabadikan dalam museum. Dia berharap, generasi muda Indonesia bisa belajar dan menikmati karya sastra penyair berjulukan “Si Burung Merak” itu.
Rizal menyarankan keluarga dan sahabat Rendra kompak menginisiasi pembangunan museum untuk karya Rendra. Selain sebagai refleksi dan acuan generasi muda, Rizal menilai karya Rendra sangat bagus dan layak dijadikan acuan kreativitas. “Di berbagai negara, terdapat museum bagus untuk seniman besar. Kita harus menghormati seniman,” tuturnya.
Gagasan untuk membangun sebuah museum bagi karya mendiang WS Rendra muncul dalam diskusi tersebut. Salah satu putri almarhum, Clara Sinta menyetujui ide tersebut. “Kami berencana membangun museum. Saat ini sedang diperjuangkan,” ungkapnya.
Clara menjelaskan, saat ini keluarga menyusun antologi puisi Rendra yang akan terbit pada November 2018. Melalui antologi puisi, keluarga berharap karya WS Rendra bisa dinikmati generasi muda bangsa Indonesia.
Menurut dia, antologi seperti kamus besar tentang puisi Rendra. Selain bisa dinikmati pencinta sastra, antologi bertujuan sebagai bahan refleksi karya sastra lawas yang tak lekang waktu.
Sumber: Harnas
Editor: Didik Hariyanto





