PILIHANRAKYAT.ID, JAKARTA – Pembina Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) PW Jawa Barat cum pelaku UMKM, H. Ayep Zaki menilai adanya keinginan untuk menerapkan kembali strategi mencapai swasembada pangan di Indonesia seperti yang dilakukan di masa Orde Baru itu salah besar.
“Jika kita mau kembali ke era Orde Baru (orba), itu berarti ceritanya mundur ke belakang. Dan itu salah besar,” kata Ayep Zaki melalui pesan elektroniknya belum lama ini.
Sejarah itu, kata Ayep Zaki, tidak pernah mundur. Jika kembali ke era Orba itu kemuduran dan kehancuran. “Jika kita bicara kedaulatan pangan atau swasembada pangan di Orba, mana faktanya?,” tegasnya mempertanyakan.
Dia mengatakan, pendukung Orba boleh cerita segala macam tentang keadaulatan pangan dan lain sebagainya. Akan tetapi di tetap mempertanyakan fakta atau alat bukti yang mengatakan era Orba sukses di bisang swasembada pangan. “Itu sekadar cerita saja,” ujarnya.
“Jika kita lihat, apa yang dilakukan Pemerintahan Joko Widodo untuk menuju ke kedaulatan pangan, itu sudah jelas, dan itu fakta. Dan Pak Jokowi punya tim yang siap untuk menjawab program kedaulatan pangan itu, dan saya siap menjawab siapa saja termasuk dari pendukung Orba jika ditanya mengenai program kedaulatan pangan,” kata Ayep Zaki.
Sebagai fakta sementara hari ini, ungkapnya, pertama, Preseidan telah membenahi infrastruktur. Kedua, sumber daya manusia (SDM) nanti akan ditingkatkan. “Pak Jokowi punya tim yang belum dimunculkan ke permukaan, tim yang siap membangun kedaulatan pangan dalam tempo waktu 3 sampai 5 tahun,” ujarnya.
Menurut dia, fakta-fakta di lapangan telah menunjukkan itu. Sebagai contoh di Kabupaten Buruh, Maluku dan sejumlah titik di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sudah ada pembangunan kedaulatan pangan itu. Di Solok, Sumatera Barat, sudah dalam tahapan uji coba dan pelaksanaan kedaulatan pangan ini.
“Kedaulatan pangan ini ditunjukan dengan meningkatnya produksi dari hasil pertanian itu sendiri, ini merupakan tahap pertama. Tahap kedua itu, nanti menyangkut masalah regulasi, hasil panen, dan lain sebagainya,” jelas Zaki.
Ia juga menjelaskan, dalam tahapan pertama ini, bagaimana tanaman ini di atas tanah satu hektar, menghasilkan produksi yang melimpah?. “Contoh, kita tidak bisa bicara kedaulatan pangan, jika satu hektar hanya menghasilkan 5 ton gabah saja. Jika kita mau bicara soal kedaulatan pangan, per hektar ini harus meningkat,” hematnya.
Standard rata-rata di Indonesia, sambungnya, minimal dengan bibit yang ada, varietas yang ada, per hektar minimal menghasilkan 7 ton. Dan fakta saat ini varitas yang ada baru bisa menghasilkan 5 ton gabah. Itu harus ditingkatkan menjadi 7 ton dengan varitas yang ada, tetapi apa bila ada varietas yang baik, produksi gabah kita bisa sampai 14 ton.
“Dan yang saya bicarakan ini adalah bukti. Jika kita berhasil dalam padi, kita akan berhasil juga pada jenis tanaman pangan lainnya. Sebab secara prinsip sama perlakuannya. Produksi jagung, kopi, coklat, dan sayuran yang lain, akan juga naik produktifitasnya. Karena itu semua adalah mata rantai, satu kesatuan yang sama,” jelasnya.
“Mundur ke zaman Orba, itu tidak bisa. Dalam sejarah dunia, tidak ada pernah yang namanya mundur, melainkan maju terus. Jika Indonesia kembali atau mundur ke zaman Orba, itu sama dengan bunuh diri,” tandas Zaki tegas.
Pewarta: Fahmi Junior
Editor: Didik Hariyanto





