PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Motor listrik terus meramaikan pasar otomotif nasional. Salah satu yang mencuri perhatian adalah VinFast Viper 2026. Produk asal Vietnam ini menawarkan harga terjangkau dengan spesifikasi yang terbilang kompetitif di kelasnya.
Viper 2026 dipasarkan dengan kisaran harga sekitar Rp 11–15 juta. Banderol ini menjadikannya salah satu motor listrik paling murah dengan fitur relatif lengkap. Di tengah tren elektrifikasi kendaraan, harga menjadi faktor penting dalam menarik konsumen pemula.
Dari sisi desain, Viper tampil dengan gaya skuter modern. Lampu LED dan bodi ramping membuatnya terlihat futuristik, sekaligus fungsional untuk penggunaan di kawasan perkotaan. Dimensinya yang ringkas juga memudahkan pengendara bermanuver di jalan padat.
Performa motor ini ditopang mesin listrik bertenaga 3.000 watt. Kecepatan maksimalnya diklaim mencapai sekitar 70 kilometer per jam. Untuk penggunaan harian, angka tersebut dinilai cukup, meski belum ideal untuk perjalanan jarak jauh.
Salah satu keunggulan utama terletak pada jarak tempuh. Dalam sekali pengisian daya, motor ini diklaim mampu menempuh hingga 156 kilometer. Angka tersebut terbilang tinggi untuk kelas harga yang ditawarkan.
Viper juga dibekali baterai berjenis Lithium Ferro Phosphate (LFP). Teknologi ini dikenal lebih stabil dan memiliki tingkat keamanan lebih baik dibandingkan baterai konvensional. Selain itu, sistem baterai mendukung skema penukaran atau swap, yang memungkinkan pengguna mengganti baterai tanpa menunggu proses pengisian.
Fitur lain yang disematkan meliputi GPS, smart key, panel digital, serta konektivitas dengan aplikasi ponsel. Kelengkapan ini jarang ditemukan pada motor listrik di segmen harga serupa.
Namun, sejumlah catatan tetap muncul. Infrastruktur penukaran baterai belum merata, sehingga manfaat fitur swap belum sepenuhnya terasa. Selain itu, jaringan layanan purnajual VinFast di Indonesia masih terbatas.
Dengan kombinasi harga murah, jarak tempuh panjang, dan fitur modern, VinFast Viper 2026 menjadi opsi menarik bagi pengguna perkotaan. Meski begitu, konsumen tetap perlu mempertimbangkan kesiapan ekosistem pendukung sebelum memutuskan membeli.




