PILIHANRAKYAT.ID, Sidoarjo-Bank Indonesia meluncurkan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jawa 2026 di Jawa Timur pada Rabu, 13 Mei 2026. Program ini diarahkan untuk memperkuat pengendalian inflasi pangan melalui penguatan pasokan, distribusi, dan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan GPIPS merupakan penguatan dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Program tersebut difokuskan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan petani di tengah tantangan perubahan iklim serta fluktuasi harga pangan.
“Yang ingin kita lakukan adalah memastikan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan finansial sejalan dengan Astacita pemerintah,” kata Aida dalam peluncuran GPIPS di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu.
Menurut Aida, strategi GPIPS tetap mengacu pada empat aspek utama pengendalian inflasi, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif. Namun, dalam implementasinya, program ini akan lebih menitikberatkan pada penguatan ketersediaan pasokan dan distribusi pangan.
Ia menjelaskan, stabilitas harga pangan menjadi perhatian utama pemerintah dan Bank Indonesia karena komoditas pangan memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat berpenghasilan rendah. Kelompok masyarakat tersebut diketahui mengalokasikan sekitar 60 hingga 80 persen pendapatannya untuk kebutuhan pangan rumah tangga.
Dalam pelaksanaannya, GPIPS akan diperkuat melalui sinergi bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Program itu juga akan dijalankan melalui tujuh program unggulan yang diarahkan membangun model bisnis pangan terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Beberapa program yang akan dikembangkan antara lain hilirisasi pangan, penguatan pengolahan pascapanen, hingga dukungan terhadap program pemerintah seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Menurut Aida, langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga stabilitas harga.
Jawa Timur dipilih sebagai lokasi peluncuran GPIPS karena dinilai memiliki posisi strategis sebagai lumbung pangan nasional sekaligus pusat distribusi kawasan timur Indonesia. Provinsi tersebut tercatat menjadi produsen utama padi, jagung, cabai, tebu, dan susu nasional.
Selain itu, sekitar 80 persen distribusi pangan untuk 19 provinsi di kawasan timur Indonesia juga ditopang dari Jawa Timur. Kapasitas penyimpanan Perum Bulog di Jawa Timur disebut mencapai 22,81 persen dari total kapasitas nasional.
“Kami memilih Jatim juga untuk meminjam semangat patriotik arek-arek Suroboyo dalam menjaga kemerdekaan Indonesia, demi memastikan ketahanan pangan nasional semakin kuat,” ujar Aida.




