PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Pemerintah Kabupaten Probolinggo menjadi daerah pertama di Indonesia yang melaksanakan program relaksasi Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi pejabat Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama pada 2026. Program tersebut digelar Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN).
Program relaksasi RPL resmi dibuka Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ di ruang Argopuro Kantor Bupati Probolinggo, Senin (25/5/2026). Pembukaan kegiatan turut dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan M. Sjaiful Efendi, Asisten Administrasi Umum dr. Anang Budi Yoelijanto, serta Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN LAN RI Erna Irawati yang mengikuti secara virtual.
Sebanyak 16 pejabat JPT Pratama mengikuti program tersebut. Mereka berasal dari berbagai organisasi perangkat daerah, mulai dari Inspektorat, BPBD, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial hingga RSUD Waluyo Jati. Program relaksasi RPL dijadwalkan berlangsung mulai 25 Mei hingga 28 Juli 2026 melalui metode branded learning dengan sistem blended learning dan distance learning.
Asisten Administrasi Umum Sekda Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto mengatakan relaksasi RPL bertujuan memberikan pengakuan terhadap kompetensi ASN yang diperoleh melalui pengalaman kerja dan praktik kepemimpinan di lapangan. Menurut dia, pola tersebut menjadi bagian dari penguatan sistem merit berbasis kinerja, inovasi dan capaian transformasi organisasi.
“RPL memungkinkan proses pengembangan kompetensi lebih cepat, fleksibel, efisien dan sesuai kebutuhan organisasi,” kata Anang. Ia menambahkan pendekatan tersebut diharapkan mampu membentuk ASN yang adaptif, profesional dan inovatif dalam menghadapi tantangan birokrasi modern.
Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN LAN RI Erna Irawati mengapresiasi langkah cepat Pemkab Probolinggo dalam merespons kebijakan baru pengembangan kompetensi ASN. Menurut dia, pendekatan pembelajaran ASN saat ini tidak lagi hanya mengandalkan pendidikan formal atau pelatihan di kelas, melainkan juga pengalaman kerja dan pembelajaran sosial di lingkungan kerja.
“Mayoritas peserta belajar di tempat kerja dan belajar dari pengalaman serta orang lain. Inilah konsep social learning dan experiential learning yang sekarang dikembangkan,” ujar Erna. Ia menjelaskan peserta nantinya akan menjalani self assessment melalui sistem LAN dan asesmen panel sebelum memperoleh sertifikat pemenuhan kompetensi setara Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II.
Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ menyebut tantangan birokrasi saat ini menuntut ASN tidak hanya menjadi administrator pemerintahan, tetapi juga pemimpin perubahan dan penggerak inovasi. Karena itu, pengembangan kompetensi ASN dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menghadirkan pelayanan publik yang cepat, transparan dan responsif.
“Pengembangan kompetensi ASN tidak hanya berbasis pembelajaran klasikal, tetapi juga menghargai pengalaman nyata dan kontribusi kepemimpinan yang sudah dibuktikan di lapangan,” kata Fahmi. Ia berharap peserta RPL mampu menjadi motor perubahan di perangkat daerah masing-masing dan mendorong transformasi tata kelola pemerintahan serta inovasi pelayanan publik di Kabupaten Probolinggo.




