Jaman Teknologi
“Sekarang udah jamannya tehnologi”.
Kata itu membuatku ingin marah.
Seakan tak akan ada lagi sapi yang menderek bajak. Tak ada lagi langgar dari lapisan kayu
yang di dalamnya ramai orang mengaji. Dahulu sinar lilin adalah perenungan. Sekarang
lampu di jadikan tempat mainan.
Sepertinya nenek moyangku harus berlinang air mata. Karena alam akan segera punah.
Jangan! Kami masih ingin melihat hijaunya daun-daun, mendengar alunan burung-burung
dan mandi di air yang bening.
Tolong, jangan! Negeri kami merdeka bukan untuk manja pada kehancuran. Melainkan
bertahan melawan syetan pra-kemerdekaan.
Yogyakarta, 2015
![]() |
| Sumber Gambar: Source |
Aku Bukan Penyair
Aku bukan penyair yang bisa mengusai bilik-bilik sastra. Aku hanyalah jiwa yang terbuang,
yang rintihannya tak pernah kering dan kerontang. Hidupku tinggal sebentar lagi. Setelah
siang malam terlampaui, bulan dan tahun bukan lagi misteri. Aku menunggu desahan nafas
yang ke sekian.
Aku tak berdaya ketika langit itu menangis dari awal dia mendung. Dingin. Dia ingin berbagi
kesedihannya dengan daun-daun. Bersenggama dalam kotoran asap dan bayang kehancuran.
Yogyakarta, 2015
Kayu Itu Patah
Kayu itu patah. Kulihat seseorang mencoba menyambungnya lagi seperti semula, menyatu
bersama daun dan bunga2. Tapi semuanya hanya menyisakan bekas dan layu. Kambing turut
bersedih, tak ada lagi tempat berteduh di terik matahari. Apalagi keindahan kupu2 yang
menghinggap bunga, juga burung yg bernyanyi mematuk bijinya. Tak ada lagi.
Yogyakarta, 2015
Ibu
Bila pagi datang menjemput mimpiku
Di sana kau menjadi ruh
Kenangan dan air
Kekuatan yang lahir dari ketulusanmu
Bila malam datang menjemput kesendirianku
Aku tak lagi di pelukanmu
Sebingkai kisah mendekap
Tercurah dalam senyuman hatimu
Ibu, aku tak bisa berbuat apalagi untukmu
Hanya doa dan harapan
Menuju sucinya mimpimu
Yogyakarta, 2015
Ayah
Ayah, aku masih memanggilmu dalam dingin
Gigil menggerogoti sedikit demi sedikit ingatanku
Kehangatan di pelukanmu telah hilang
Canda dan nasihatmu terdampar di tepian masa laluku
Masa kini adalah rintihan tanpa curahan
Rapuh tanpa sandaran
Ayah, jangan katakan pada semua orang
Biar Tuhan saja
Aku tak butuh belaskasihan yang berkalung dosa-dosa
Biarkan batuku tenang!
Yogyakarta, 2015
Sahabat
Sahabat, barangkali jasadmu sudah tiada. Aku rindu canda dan sapa kita. Belajar bersama,
saling menyemangati. Perjuangan cintamu begitu berharga, sampai kau rela mengorbankan
nyawamu. Tapi sampai saat ini takdir tak jua kuterima. Tak ada yang bisa menggantikanmu
sebagaimana memahamiku, sampai citaku terus berjalan. Hari ini kau menghilang, dan aku
tertatih berjalan sendirian tanpa semangatmu lagi.
Aku merindukanmu shobat, baik2 kau di sana. Senyummu tak kan hilang dari setiap desahan
nafasku. Aku menyayangimu.
Yogyakarta, 2015
Permataku
Bila pagi adalah sejarah pertemuan kita
ijinkan aku kembali menatap hijaunya daun-daun dan
Mekarnya bunga-bunga
Semerbak harum di desahan nafasku
Kembalilah ke taman hatiku, sayang
Di sini telah kusediakan kolam ketulusa yang
Di dalamnya berlabuh buih-buih
Lalu mata kita saling memandang dan berkata:
Taman kita penuh cinta
Yogyakarta, 2015
Percayalah, Ma!
Mama, kepergianmu di kain putih tak kan lantas membuatku menjadi hitam
Selendang sukma yang kau pukulkan di kulitku telah mengisyaratkan sebuah ketegaran:
Rugi jika aku tidak menjadi orang besar, ma!
Tenanglah, ma!
Air matamu tak kan kubiarkan jatuh di liang kuburmu
Kasihan ruhmu tak punya raga
Dan dengan bismillah:
Kubungkam ocehan mereka
Yogyakarta, 2015
Aku Kekasihmu
Dalam istiharah di pemberangkatan malam
Kutulis 7 kata “ya” dan “tidak”
Dengan segala harap 14 bulir kutumpuk di ujung sajadahku
Kuambil di setiap desahan salam dengan tangan kanan dan diriku
Hatiku semakin lunglai di salam ketujuh
Kubuka 7 bulir di kananku
Tertulis huruf “YA” 6 dan “TIDAK” satu
Ah, tak perlu lagi kubuka lagi di tangan kiriku
Sudah jelas aku kekasihmu
Yogyakarta, 2015
Mari Bercinta
Sayang, lihatlah linting sukma yang membara di hati kita
Gubahan rasa meresap membahana
Tak terucap lewat gulungan kata-kata:
Mari kita bercinta
Yogyakarta, 2015
Ali Munir SF., Lahir pada tahun 1994 di Sumenep Madura. Sekarang tinggal di
daerah Sapen, Demangan Yogyakarta. Tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Aktif menulis puisi dan cerpen,
tergabung di Komunitas Sastra Gajahwong dan Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma
UIN Sunan Kalijaga. Buku antologi puisi dan cerpen bersama-nya yang pernah terbit
sebanyak 6 buku, salah satu diantaranya berjudul “Di Bawah Langit yang Terbakar” yang
diterbitkan oleh Oase Pustaka (Surakarta) dan “Sekeping Hati Di Langit Kelabu” oleh
FAM Publishing (Kediri). Penulis bisa di hubungi lewat: HP. 087738783823.





