Puisi  

Puisi Pilihan Ali Munir SF.


Jaman Teknologi


“Sekarang udah jamannya tehnologi”.

Kata itu membuatku ingin marah.

Seakan tak akan ada lagi sapi yang menderek bajak. Tak ada lagi langgar dari lapisan kayu

yang di dalamnya ramai orang mengaji. Dahulu sinar lilin adalah perenungan. Sekarang

lampu di jadikan tempat mainan.

Sepertinya nenek moyangku harus berlinang air mata. Karena alam akan segera punah.

Jangan! Kami masih ingin melihat hijaunya daun-daun, mendengar alunan burung-burung

dan mandi di air yang bening.

Tolong, jangan! Negeri kami merdeka bukan untuk manja pada kehancuran. Melainkan

bertahan melawan syetan pra-kemerdekaan.


Yogyakarta, 2015

Sumber Gambar: Source remajasmu.blogspot.com

Aku Bukan Penyair


Aku bukan penyair yang bisa mengusai bilik-bilik sastra. Aku hanyalah jiwa yang terbuang,

yang rintihannya tak pernah kering dan kerontang. Hidupku tinggal sebentar lagi. Setelah

siang malam terlampaui, bulan dan tahun bukan lagi misteri. Aku menunggu desahan nafas

yang ke sekian.

Aku tak berdaya ketika langit itu menangis dari awal dia mendung. Dingin. Dia ingin berbagi

kesedihannya dengan daun-daun. Bersenggama dalam kotoran asap dan bayang kehancuran.

Yogyakarta, 2015

Kayu Itu Patah


Kayu itu patah. Kulihat seseorang mencoba menyambungnya lagi seperti semula, menyatu

bersama daun dan bunga2. Tapi semuanya hanya menyisakan bekas dan layu. Kambing turut

bersedih, tak ada lagi tempat berteduh di terik matahari. Apalagi keindahan kupu2 yang

menghinggap bunga, juga burung yg bernyanyi mematuk bijinya. Tak ada lagi.

Yogyakarta, 2015

Ibu

Bila pagi datang menjemput mimpiku

Di sana kau menjadi ruh

Baca juga  Hari Ini (Sajak Tan Hamzah)

Kenangan dan air

Kekuatan yang lahir dari ketulusanmu

Bila malam datang menjemput kesendirianku

Aku tak lagi di pelukanmu

Sebingkai kisah mendekap

Tercurah dalam senyuman hatimu

Ibu, aku tak bisa berbuat apalagi untukmu

Hanya doa dan harapan

Menuju sucinya mimpimu

Yogyakarta, 2015

Ayah 

Ayah, aku masih memanggilmu dalam dingin

Gigil menggerogoti sedikit demi sedikit ingatanku

Kehangatan di pelukanmu telah hilang

Canda dan nasihatmu terdampar di tepian masa laluku

Masa kini adalah rintihan tanpa curahan

Rapuh tanpa sandaran

Ayah, jangan katakan pada semua orang

Biar Tuhan saja

Aku tak butuh belaskasihan yang berkalung dosa-dosa

Biarkan batuku tenang!

Yogyakarta, 2015

Sahabat 

Sahabat, barangkali jasadmu sudah tiada. Aku rindu canda dan sapa kita. Belajar bersama,

saling menyemangati. Perjuangan cintamu begitu berharga, sampai kau rela mengorbankan

nyawamu. Tapi sampai saat ini takdir tak jua kuterima. Tak ada yang bisa menggantikanmu

sebagaimana memahamiku, sampai citaku terus berjalan. Hari ini kau menghilang, dan aku

tertatih berjalan sendirian tanpa semangatmu lagi.

Aku merindukanmu shobat, baik2 kau di sana. Senyummu tak kan hilang dari setiap desahan

nafasku. Aku menyayangimu.

Yogyakarta, 2015

Permataku 

Bila pagi adalah sejarah pertemuan kita

ijinkan aku kembali menatap hijaunya daun-daun dan

Mekarnya bunga-bunga

Semerbak harum di desahan nafasku

Kembalilah ke taman hatiku, sayang

Di sini telah kusediakan kolam ketulusa yang

Di dalamnya berlabuh buih-buih

Lalu mata kita saling memandang dan berkata:

Taman kita penuh cinta


Yogyakarta, 2015

Percayalah, Ma!


Mama, kepergianmu di kain putih tak kan lantas membuatku menjadi hitam

Baca juga  Nominasi 50 Besar Lomba Cipta Puisi "Santri"

Selendang sukma yang kau pukulkan di kulitku telah mengisyaratkan sebuah ketegaran:

Rugi jika aku tidak menjadi orang besar, ma!

Tenanglah, ma!

Air matamu tak kan kubiarkan jatuh di liang kuburmu

Kasihan ruhmu tak punya raga

Dan dengan bismillah:

Kubungkam ocehan mereka

Yogyakarta, 2015

Aku Kekasihmu


Dalam istiharah di pemberangkatan malam

Kutulis 7 kata “ya” dan “tidak”

Dengan segala harap 14 bulir kutumpuk di ujung sajadahku

Kuambil di setiap desahan salam dengan tangan kanan dan diriku

Hatiku semakin lunglai di salam ketujuh

Kubuka 7 bulir di kananku

Tertulis huruf “YA” 6 dan “TIDAK” satu

Ah, tak perlu lagi kubuka lagi di tangan kiriku

Sudah jelas aku kekasihmu

Yogyakarta, 2015


Mari Bercinta

Sayang, lihatlah linting sukma yang membara di hati kita

Gubahan rasa meresap membahana

Tak terucap lewat gulungan kata-kata:

Mari kita bercinta

Yogyakarta, 2015

Ali Munir SF., Lahir pada tahun 1994 di Sumenep Madura. Sekarang tinggal di

daerah Sapen, Demangan Yogyakarta. Tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta, jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Aktif menulis puisi dan cerpen,

tergabung di Komunitas Sastra Gajahwong dan Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma

UIN Sunan Kalijaga. Buku antologi puisi dan cerpen bersama-nya yang pernah terbit

sebanyak 6 buku, salah satu diantaranya berjudul “Di Bawah Langit yang Terbakar” yang

diterbitkan oleh Oase Pustaka (Surakarta) dan “Sekeping Hati Di Langit Kelabu” oleh

FAM Publishing (Kediri). Penulis bisa di hubungi lewat: HP. 087738783823.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *