Cerpen  

Catatan Cinta Pengobral Puisi

Cerpen Sulaiman Achmad

“Pada akhirnya, kita akan menulis sejarah kita masing-masing.”

Kalimat itu lepas seketika dari mulutku di atas meja kopi. Kalimat itu pun langsung sampai di gendang telinga kawan selingkaran di kursi Cafe Kebun Laras.

“Aku masih ingat jelas ungkapanmu itu, dan masih terus melekat di benak dan pikiranku,” kesan temanku itu tadi malam, beberapa menit sebelum pertandingan sepak bola antara Club Ini vs Club Itu di Pialan Itu-itu saja, tahun ini.

Aku tersenyum tipis mendengarnya. Wajahnya penuh tanya menatap tipis senyumku dengan wajah yang sukar ia maknai. Lalu lekas-lekas ku-tengahi perkataan dan pertanyaan di kerutan keningnya dengan menunjukkan sehalaman dari catatan harian ku. Tepatnya, di halaman yang menyatakan tentang cinta dan apa yang aku baca tentang keadaan di warung kopi (Blandongan dan Kebun Laras). Ia hanya menatap tulisan-tulisanku sambil mendengarkanku membacakannya dengan suara sedang yang bisa ia jangkau kata per katanya.

Kuhisap rokok yang kian kikis-habis. Dia seruput kopinya dan kembali menyulut rokok yang ketiga. Kerutan keningnya pun hilang bersama hembusan asap yang disemprotkan ke atas. Kututup buku catatan dan meringankan badan ke belakang. Ia menjadi dingin. Begitu pun aku, lebih dingin lagi dalam percakapan. Kami sama-sama salah tingkah. Pertandingan juga belum mulai. Waktu rasanya menjadi teramat lamban.

Aku paksa diriku untuk bicara tentang hal-hal yang ringan-ringan saja. Matanya berkedip-kedip cepat saat ia bercerita tentang prosesi aksi demonstrasi di pertigaan UIN kemarin siang. Entah apa yang salah dari aksi kemarin itu. Sayang aku kurang suka menghadirinya karena suatu hal yang sangat pribadi. Kebetulan, kami sama-sama aktivis. Bedanya, dia hanya menjadi aktifis yang asik masuk di warung kopi dengan lingkaran setannya, sedangkan aku aktivis yang salalu autis dengan buku harian.

Percakapanku dengannya tak juga menepis rasa sedihku yang tumbuh satu jam sebelumnya. Ya, dalam senyum dan tawa yang cair. Aku juga menyimpan keresahan yang tiada tara. Tak lain itu lahir dari cintaku yang tiba-tiba begitu kesal padaku karena cemburu dan (mungkin) terlampau takut untuk kehilangan diriku. Aku tersanjung dengam ungkapannya dan oleh sebab itulah aku merasa bersalah.

Kebun Laras semakin ramai, meja-meja dan lesehan sudah penuh, dan para pecandu kopi juga pencinta sepek bola, termasuk yang pura-pura suka, sama-sama menjurus ke layar lebar. Petandingan antara Club Ini vs Club Itu sudah berlangsung. Sedangkan aku kambali asik sendiri dengan buku harian cinta. Sementara teman di hadapanku sudah punya alasan untuk tidak menghiraukanku.

Usai pertandingan temanku itu, pulang duluan dan aku masih bertahan di Kebun Laras dengan alasan yang tak jelas. Kecuali hanya menghabiskan malam di warung kopi. Malam semakin larut, dan datang si Cungkring, teman yang lain lagi. Ia mengajakku main catur.

Permainan pertama, aku kalah. Dan di tengah-tengah permainan kedua yang cukup menguras pikiran dan konsentrasi, tiba-tiba cintaku miss call. Sengaja aku tak mengangkatnya. Untuk yang kedua kalinya, aku tetap merasa bersalah jika aku pura-pura tidak tahu jika dia miss call aku tengah malam. Pilihan yang tepat dan benar, aku angkat telphone darinya.

Baca juga  Banuayu

Dia bicara samar, aku mendengar suaranya. Dia bertanya, aku lagi dimana. Kujawab jika aku sedang di Kebun Laras, dengan nada sedikit ketus. “Dengan siapa, sedang apa?” Lanjutnya.

“Bersama Cungkring, main catur, kenapa?”

“Aku tidak suka, kau kirim puisimu yang kau tulis untukku, kau berikan pada orang lain!”

“Sudahlah, jangan bicarakan di telephone, besok saja kita bicarakan.”

“Aku kesalnya sekarang!”

“Iya, tapi jangan dengan begini!” Tanpa ada jawaban, handphone mati.

Aku melanjutkan main catur. Sambil cerita tentang pembicaraan telephone tadi. Si Cungkring hanya tersenyum hambar. Aku tertawa kecil bersama kesal yang sesak di dada.

Lagi, aku kalah untuk yang kedua kalinya. Pikiran kosong. Bidak catur terlihat jadi labirin. Aku menyerah dan menolak tantangan si Cungkring untuk permainan yang ketiga. Dia pun pergi menemui pacarnya yang sedang garap Proposal Skripsi di lesehan. Kebun Laras mulai sepi, para pecandu dan penyuka bola sudah pada pulang. Dan aku, aku kembali berurusan dengan handphone cerdasku.

“Tidak suka! Kau tulis puisi buat apa? Diobral? Manis sekali, kupikir puisimu itu memang ungkapan hatimu waktu kita pisah khusus buat aku. Ternyata buat (…namanya) tersayang juga to..? Aku tidak persoalan kau ikut event begituan, tapi aku tidak suka kau kadi opurtunis!” Kubaca BBM darinya. Aku terkejut bukan kepalang. Betapa usahaku untuk sekedar membuka jalan untuk pintu-pintu di masa depan dengannya, telah berarti duri yang menusuk tumitnya.

“Mau bilang kau koyol, terserah! Sebab menurutku, akulah yang konyol. Sejak kapan aku menganut prinsip “Asal mbak senang?” Mencipta puisi itu ungkapan kejujuran, dan tak semurah itu harganya, bisa diperjual-belikan. Atau begitu saja harga kejujuranmu?” Belum sempat aku kirim BBM balasan padanya. Dia BBM lagi.

“Terserah kau, aku hanya butuh duit, jalan yang kulewati ini untuk masa depanku, benar aku sudah lemah, hanya mampu di hari ini untuk masa depan dengan mengobral puisi-puisi cintaku. Jika kau tidak suka, silahkan. Aku hanya yakin dengan jalan ini, aku jadi punya harapan.” Usai kubaca BBM kedua darinya, BBM ku ini kukirim padanya. Aku benar-benar merasa lemah tengah malam tadi, tapi aku terus mencoba untuk berpura-pura tegar, biar tidak terlihat galau di mata teman-teman.

Hanya selisih semenit, di sudah kirim balasan BBM lagi, “Serius aku kecewa padamu, aku benar-benar yakin tadinya puisimu itu begitu personal. Tidak masalah hendak kau ikutkan lomba apapun, tapi menyelipkan nama perempuan lain? Menyakitkanku, walaupun itu sekedar basa-basi.” Kemudian masuk BBM sususlan:

“Banyak jalan yang bisa ditempuh. Kenapa harus memilih jalan ini? Baru saja tumbuh harapan baru di hatiku, kenapa kau hancurkan begini? Belum sampai sehari kau bilang “sayang” padaku, sekarang?” Iya, aku paham, tetapi aku merasa sedih yang amat atas segala pernyataannya itu. Wajar jika aku kemudian balas BBMnya begini:

Baca juga  Selendang Penjemput Impian

“Demi Tuhan (walau aku sering melupakan-Nya) aku melakukan ini demi cinta ku padamu. Jadi penyair itu, besar resikonya. Aku hampir putus asa, pun ak sudah tahu itu, jika aku sering mengharap kematian segera datang. Itu tal lain karena puisi telah terasa jadi hidupku. Jika aku sudah berkecukupan hari ini dan untuk seumur hidup, tentu ceritanya akan berbeda. Aku sangat sedih dengan ungkapan-ungkapanmu, tadi. Sungguh sakit hatiku dengan pernyataanmu.” Entah, aku harus selalu jujur sejujur-jujurnya padanya, tetang apa yang sebenarnya aku rasakan.

“Aku paham, aku Cuma sakit, nyeri sekali, sesak di sini, di jantungku. Sajak yang begitu personal, yang dengannya kau bicara padaku, mengetuk pintu hatiku untuk kedua kalinya, tiba-tiba terselip nama lain di sana. Perih, sungguh perih. Luka kemarin bahkan belum kering sempurna.” Aku menahan sesak sejenak dalam dala. Aku berusaha melakukan sesuatu demi masa depan dan impian cinta dengannya. Malah berarti yang lain. Aku hanya mencoba bersabar untuk diam. Namun BBM selanjutnya hadir lagi:

“Kau tahu kenapa aku begini? Itu karena kau begitu mudah dicintai, sedang aku tak punya apapun untuk ditawarkan atar kau tidak pergi bersama mereka yang mencintaimu!” Sungguh, aku kian terpukul. Nyeri yang hadir terasa pilu dan mengacaukan seluruh syaraf otak. Aku jadi takut untuk bicara. Takut kian menyakitinya.

Kemudian, dalam diamku, beberapa menit kamudian, BBM bunyi lagi. Tentu darinya, dari cintaku yang dihantam batu cemburu dau tertampar rasa takut untuk kehilangan, atau entah rasa apalagi yang sedang mencekik prasaannya. “Terima kasih, kau pernah membuatku merasa begitu berarti,” Aku tidak berani berkesimpulan atas kalimat BBM yang ringkas itu. Aku ragu. Aku kaku memaknainya. Aku semacam jadi orang dungu yang kurang paham, makna isyarat dan tanda.

Namun aku mencoba memberi sedikit penjelasan. Entah akan diartikan seperti apalagi nanti olehnya. “Ya Tuhan, jika kau benar merasa takut untuk kehilanganku, kenapa mestibegini caranya? Apa usahaku selalu tidak benar di matamu. Demi ibu yang mendoakan kita, aku pun takut kehilanganmu,” gagal terkirim. Sedih pun memuncak. Tentu ini malam ia harus menikmati nyeri dari tusukan jarum-jarum kecil di hati dan kepalanya, atas perbuatanku yang konyol.

Baiklah, aku hanya bisa berharap sejak BBM aku gagal terkirim sebab paketku memang habis dan hanya pakai wifi yang juga telah habis. Tak ada jalan lain, selain pulang ke kos. Selain aku sudah merasa ngantuk dan lelah, duitku juga tak ada untuk beli voucerh wifi. Si Cungkring juga sudah tidak pengan duit katanya. Sesampainya, di kamar kosan, aku tak bisa tidur dan harus menikmati nyeri dengan catatan ini.

Catatan yang sedang kutulis ini dan sedang kau baca ini.

Sulaiman Achmad, seorang Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Cukup banyak menulis catatan harian cinta. Kini bermukim di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *