Intrik Politik Aktifis Kampus Putih di Warung Kopi (Bisik Bisik Cinta di Jendela #15)

Kontributor: Selendang Sulaiman 

Selasa, 19 Juni 2012 / 11.37 
Hari sudah siang. Pablo sejak pagi belum bergairah. Koneng juga masih tampak murung hingga hari ini. La Noche usianya sudah seminggu. Aku tak mengalami perkembangan apapun. Cintaku hampir menemukan peta yang terang. Puisiku mengendap lagi dan warung kopi ini masih terasa sesak. Hanya catatan harian yang ters bertambah deras.

Perhatianku sudah bercabang-cabang. Seperti mereka yang menjalani dunia dalam rumah. Perhatian mereka dan aku tumpah pada Pablo dan koneng. Aku juga tuan Marmut lebih perhatian pada marmut. Aku serta cintaku lebih perhatian pada Pablo, Koneng, dan La Noche. Aku jadi penyayang binatang. Aku tenang dan damai.

Aku selalu sedih tanpa sebab sejak beberapa hari lalu. Tidur tidak normal. Pikisan kacau.Hati dan jiwa menjadi galau. Dalam keseharian, aku lebih banyak bersenda gurau, memproduksi tawa yang berlebihan. Hanya itu. Selain sesaat meluangkan waktu untuk melaksanakan ujian sebagai kewajiban akademik. Aku tidak pernah sengaja melupakan tanggung jawab. Selain memang sadar melalaikannya karena satu alasan yang dapat aku pertanggung jawabkan, di warung kopi ini, kepura-puraan menjadi niscaya.

Kesenanganku saat ini taklain adalah menulis terus menerus catatan ini.Aku selalu menyebutnya sebagai penyakit yang mestiaku nikmati. Aku sudah terasa lemah dan kata teman aku mesti istirahat sejenak. Istirah dari jalan-jalan gelappuisi, jalan gelapdi dunia gerakan, kecuali harus tetap berjuang melawan rasa malas untuk menunaikan tugas akademik.

Foto Editor by SEL : Pilihan Rakyat

Dalam satu semester ini, usahaku mandeg di tengah jalan. Semangat yang beriring kesenangan masuk kelas, pupus di warung kopi, dan lenyapdi kamar tidur. Bangun pagiku tidak dapat diteruskan sebab senantiasa patah oleh insomnia yang disengaja. Tetapi, aku harus kuat untuk tidak sedikit pu merasa sesalang berarti adalah “kesombongan yang bukan pada tempatnya”.

Aku sadari dalam diriku ada kecemasan luar biasa. Aku hampir putus asa karenanya. Keyakinan untuk berbuat sesuatu yang sedikit menyenangkan telah membuat kecemasan menepi di sisi jalanku. Aku bukan “Aku” yang lemah. Aku adalah “Aku” yang riang setiap waktu. Oleh sebabnya, orang-orang tidak menjauhiku. Padahal intrik politik yang kurang dewasa telah berjelaga di sini, di warung kopi ini, dan di cafe-cafe yang lain. Aku senang memainkan emosi dan psikologi mereka. Mereka mudah kukelabuhi.

Dengarlah, mereka sedang bicara. Kita di sini baik untuk sekedar bicara sederhana. Biarkan hanya mereka saja yang tertawa bahak sepuasnya. Bukankah kita sudah berjaya karena tawa bahak yang dibuat-buat. Mereka sedang belajar berpura-pura memancing perhatian di sekitar mereka dan kita termasuk yang mereka maksud. Tapi, tenanglah saja kita di sini. Bicara yang ringan-ringan saja. Mereka akan lelah sendiri karena gagal membuat kita terpancing.

Perhatikan mereka dari daun telinga saja. Mereka hanya bicara yang tidak berarti dan tidak mereka mengerit. Kecuali intrik tak mutu di siang bolong. Kita sudah terbiasa begitu bukan. Aih… kita sedang berburuk sangka rupanya. Baiklah, tak jadi soal buat mereka. Kita cukup lama dipandang sebelah mata, dicurigai, dan tak dianggap sama sekali oleh mereka. Kita percaya dan yakini itu. Ini bukan hal yang alami, ini semua ada karena ada yang membuat-merekayasanya.

Baca juga  Nhận định cơ hội giành 3 điểm của Brighton Cùng nhà cái keovip - Phân tích chiến thắng khả thi của đội bóng sương mù

Tentu kita lebih tahu menurut pengalaman kita masing-masing dalam buku bacaan dan film yang kita tonton sendiri-sendiri. Mari kita usaikan percakapan lelah ini, Kita mesti bertindak dan berpikir sederhana yang penuh kedewasaan. Aih.. aku pula bahwa, yang aku tulis ini tentang kita dan mereka hanya khayalan saja.

***

Ada kepuasaan tersendiri bicara dengan siapapun. Kepuasaan yang beragam dan tak dapat dinilai, pun sulit dinalar, bahkan kurang dapat dipertanggungjawakan secara ilmiah. Aku duduk di meja ini; duduk dengan ketua umum PMII Cabang DIY; duduk dengan penulis buku-buku pasar; duduk dengan cepernis yang masih menjabat kebuta Dewan Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Merdeka Banom PMII Rayon Civil Community Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aku sendiri bukan siapa-siapa, kecuali hanya keberulan sekarang jadi Pimpinan Umum LPM Literasi Badan Otonom Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Lurah Sanggar Jepit Yogyakarta, penghuni kontrakan Komunitas Masyarakat Bawah Pohon, dan menggandrungi jalan kepenyairan W.S. Rendra.

Aku “penyiar”, hanya sugestiku belaka dan hanya anggapan orang-orang yang suka saat aku baca puisi di panggung-panggung, di podium, di jalan raya, di warung kopi, dan di komunitas. Senyatanya, aku tertekan dengan sugesti dan anggapan semacam itu. Namun, cintaku resah sebab kepenyairanku yang aduhai dan juga entahlah, aku bisa menjadilupa diri, hanyut dengan suasana dan keadaan yang membentuk keadaanku di sisi yang lain. Selebihnya akulah yang membuat keadaan dalam hidupku dan suasana di lingkupku. Dengarlah apa kata mereka di warung-warung kopi ini (Blandongan, Mato, dan Kebun Laras).

***

20.30

“Kamu perlu waktu untuk istirahat, endapkan dulu semua lelahmu, kau tampak teramat payah,” ucap temanku usai aku ceritakan pengalaman-pengalaman getir di dunia gerakan mahasiswa di kampus putih. Dunia aktivis di jalanan, aktivis warung kopi, dan aktivis intrik politik abal-abal.

Banyak cerita yang aku simpan dalam memory ingatanku; dalam catatan harianku. Dunia itu kujalani selama kuran glebih tiga tahunan. Sejak awal tahun 2009 sampai sekarang, mungkin akan berlanjut sampai entah kapan akhirnya. Jika nasib membawanya sama dengan yang sudah lebih dahulu hidup. Maka ujungnya adalah senayan-ibukota. Ya, Jakarta!

Aku sudah mual dengan jalan hidup yang begini-begitu saja bersama para orator-orator gagap di jalanan, atau bersama mereka yang pandai bermain dengan retorika tentang ideologi-ideologi dunia yang tak mereka pahami, golongan-golongan, koloni, dan apapun itu. Sampai aku benar-benar jenuh dengan kata ideologi dan idealisme yang mereka bicarakan di forum-forum diskusi ngalor-nngidul tanpa ujung pangkal. Sementara di belakang akan sama sepakat untuk saling menutup rahasia, setelah usai bagi-bagi kue ulang tahun kegiatan.

 “Ujung-ujungnya duit!” Tidaksopannya begitu. Senyatanya, benar keadannya semacam itu. Sejak pengalaman pertama jadi panitia, aku sudah dihadapkan pada persoalan pelik yang sumber masalahnya serta penyelesaiannya tidak lain adalah duit – duit panas. Terus, seterusnya setiap ada momentum di kampus maupun di dalam organisasi ekstra itu sendiri.

“Aku marah, aku takut, aku gemetar, namun gagal menyusun bahasa,” kalimat keluh ini yang selalu aku bacakan untuk hati dan pikiran yang terbakar suasana. Ya, sekalimat dalam sajak “Hai Ma”-nya W.S Rendra. Sebab saat-saat menegangkan pada masa itu, aku hanya bisa marah dalam dada, merasa takut dalam pikiran, badanku gemetar sebab geram tanpa keyakinan dalam bertindak. Sehingga seluruh kata-kata berguguran di jalan-jalan gelap dan di warung-warung kopi yang pikuk. Aku jadi pesakitan yang payah. Aku lelah darinya.

Baca juga  Sikap KPU Soal Jokowi Bagi-Bagikan Sepeda di Masa Kampanye

Kepenyairanku pun rapuh setiap waktu rapat yang disi dengan kepura-puraan yang normal, rapat yang penuh dengan intrik, basa-basi, dan gelaktawa memalukan. Akhirnya, aku tak dapat berbuat apa-apa, selain hanya kaut alur dan arus kemudian pasrah pada proses yang senantiasa bertentangan dengan prinsipku. Aku sudah lama jadi pembohong, tepatnya saat aktif dalam lingkaran setan ini.

Catatan ini aku tulis dengan kujujuran yang setulus-tulusnya aku menulis dari kehendak nurani dan perintah naluri kemanusiaanku. Catatan ini, aku tulis sebagai penebusan dosa-dosaku pada semua yang telah mengganggapku ada, buat mereka yang tulus berteman denganku, khusus bagi mereka yang pura-pura bersahabat denganku, terlebih untuk orang-orang yang membesarkan usia pendidikanku, pengetahuanku, bahkan yang telah memabantuku bertahan hidup di kota Istimewa ini. Ya Tuhan, aku rindu sentuh kasih dan sayangmu!.

Cintaku, catatan ini untuk rasa resahku atas rerindu, cemburu, dan candu dalam dada. Aku yakin pada kejujuran nuraniku, aku percaya dengan bisikan-bisikan tipu muslihat dari hasrat liar kebinatanganku. Aku ingin bersandar pada pohon cintamu. Aku ingin istirah dalam setiap hadirmu. Betapa, sekian kemarahan atas keadaan dalam gerakan selalma proses itu, kau luruhkan dengan air cintamu yang sejuk. Aku selalu mabuk olehmu. Aku damai dalam peluk kasihmu.

Cintaku, catatan ini, akan terus mengalis bersama putar jam waktu. Aku ingin menulis semua gejala yang kutanam dalam ingatan. Selebihnya, catatan ini aku isi dengan ungakapan-ungkapan cemas dan getir yang akut. Dengan ini, aku akan sedikit tenang dan merasa tenteram. Sebab dengan catatan ini, aku merasa, semua masalah; dendan, amarah, kebencian, rindu, cinta, dan segala rasa yang mencekik hidup, perlahan terkikis oleh setiap kata dan kalimat yang baris berbaris di sini.

Cintaku, marahmu akan aku abadikan di sini. Kemesraanmu akan kujadikan pengharum di setiap peragrafnya. Sampai tak ada lagi yang dapat aku uraikan menjadi catatan keluh ini.

Aku memang sudah lelah. Namun dalam setiap hadirmu, aku senantiasa berdaya dan kekuatan lama kian kekar. Aku sangat sadar, siapa aku ini. Aku yang serba terbatas dan penuh dengan kekurangan namun aku tak kurang teman untuk sekedar berbagi resah cerita, berkisah dan teman untuk saling intrik tentu saja.

Cintaku, kau perlu tahu dan sepantasnya aku sampaikan padamu, jika selama ini aku bertahan; berjalan beriring dan berseberangan dengan mereka, taklain semua itu hanya demi kamu. Tak kurang dan tak lebih suatu apa.

Bersambung…. baca selanjutnya…. #16

Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *