Karya; Ali Munir Sangkakala
Pagi itu begitu cerahnya, bersinar menelusup jendela rumah-rumah warga. Amin terbangun dari tidurnya, mengedip matanya yang sayu setelah bermimpi semalam. Perlahan dia gerakkan tubuhnya yang kaku, beranjak keluar dari kamar.
Dia adalah anak kos dan merupakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga daerah Yogyakarta. Di kampus itulah dia memulai perjalanan cintanya. Cinta yang hanya terjalin dalam persahabatan, cinta yang membuatnya semangat menempa kehidupan yang dijalaninya. Cinta itu jugalah yang memberinya keindahan dan kekuatan. Namun, sayangnya cinta itu tak kunjung sampai. Semua sebatas sahabat.
![]() |
| Foto Editor by Riskiana: Pilihan Rakyat |
Hari itu adalah hari terakhir ujian akhir semester genap Amin yang sedang duduk di semester dua. Amin sudah menyiapkan sebuah buku majalah dan dimasukkan dalam tasnya. Majalah itu ingin dia berikan kepada Rika, seseorang yang selama ini dia kagumi. Rika-lah yang memberikannya semangat untuk menyelesaikan majalahnya itu. Di dalamnyaada beberapa sajak Amin yang lahir dari nuraninya, sajak yang melukiskan harapannya.
***
Suasana kelas begitu sepi, ujian sudah dimulai. Semua mahasiswa fokus mengerjakan soal ujian. Rika duduk jauh di sudut kiri kelas itu. sementara Amin duduk di bagian tengah. Sesekali dia menoleh ke arah Rika.
Beberapa saat kemudian, Rika maju ke depan kelas untuk mengumpulkan lembar jawaban ujiannya. Lalu dia keluar dan duduk di bangku istirahat luar kelas. Amin pun menyusul, menyetor lembar jawabannya dan keluar menghampiri rika.
“Rik, Rika!”. Sapanya lirih. “Opo, e?”. Rika membalas sambil senyum.
“Aduh, amin. Duduk sini lah!”. Tiba-tiba Jejen, temannya,yang duduk di samping Rika menyahut dengan nada has daerahnya di bandung.
Tanpa berkata lagi, Amin langsung duduk di tengah-tengah mereka. Kemudian dia mengambil majalah yang ada dalam tasnya dan diberikan kepada Rika.
“Ini buat aku!”. Rika sontak mengambil majalah itu dari genggaman amin.
“Wih….”. jejen nyeleneh.
“Sini dulu!”. Pinta amin sambil menepukkan tangan ke bangku sebagai tanda agar Rika duduk di sebelahnyadan Rika pun duduk.
Mereka melanjutkan obrolan tentang beasiswa. Sebelumnya rika memang meminta Amin membantunya dan mengurusi berkas pendaftarannya. Di sela obrolan itu, Amin mengusik isi hatinya.
“Rik, aku terlanjur sayang, lo. Sama kamu.” Bisik Amin.
“Apa, lah.” Jawab rika sambil ngguyu seakan bersikap bodoh.
“Serius!” Amin meyakinkan dengan nada senyum.
“Ini. i… ni…!” rika berkata sambil menunjuk kertas catatan berkas-berkas beasiswa yang Amin berikan kepadanya dengan nada rendah dan raut yang awalnya ceria menjadi sedih.
“Embuh, jangan sedih!” Amin melerai suasana dengan nada halus penuh keyakinan. “Nggak!” Rika menjawab lalu menunduk.
Suasana menjadi tegang. Sangatlah wajar karena Amin belum pernah menyatakan isi hatinya secara langsung dihadapan Rika. Sebenarnya Rika sudah tahu isi hati amin sejak awal. Namun Rika meminta hubungan mereka sebatas teman. Rika beralasan bahwa tidak ada istilah pacaran dalam islam.
“Ya udah. Aku pulang duluan, ya.” Amin pamit dengan perasaan tegang tak karuan, tak mau memaksa.
“Ini buat aku?” tanya Rika sambil memperlihatkan majalah yang di pegangnya.
“Iya. Sebagai tanda terimakasihku. Berkat motivasi dari kamu, aku mampu menyelesaikan majalah itu.” Amin menjelaskan.
“Apalah”. Timpal Rika seperti tak percaya.
“Ya udah. Semangat!” Amin pamit pulang.
“Iya.” Rika mengangguk dengan nada lirih.
Hari itu adalah hari terakhir Amin dan Rika bertemu di kampus sebelum pulang ke kampung halaman masing-masing. Mereka berasal dari dua daerah yang berbeda, Amin dari madura dan Rika dari Purwodadi Jawa Tengah. Mimpi yang cukup tekad bagi Amin, berharap pada seseorang yang tidak berasal dari daerahnya. Tetapi apalah daya, embun terlanjur jatuh pada bunga yang sedang mekar dengan senyum manisnya.
***
Senja tenggelam menuju cakrawala, gelap sunyi menemani Amin yang baru selesai sholat isya langsung menuju tempat tidurnya.Segera dia merobohkan tubuhnya telentang dengan tangan di atas keningnya. Terbesit dalam pikirannya tentang rencana program di moshollah milik tetangga dekat rumahnya selama satu Bulan Ramadhan ke depan. Kebetulan keesokan harinya adalah hari pertama puasa.
Rupanya Amin terbawa rasa lelahnya, setelah satu hari perjalanan pulang dari Yogyakarta. Pikirannya melayang kemana-mana, termasuk Rika. Seraut wajah cantik yang dia puji itu membayangi benaknya. Sehingga tangannya ikut bergerak mengambil HP sekedar untuk kirim SMS, menanyakan kabar cintanya yang tak kunjung jelas.
“Rika, di saat hari demi hari kulalui, aku berharap semuanya akan menjadi nyata. Aku tak tahu kemana jiwaku akan berlabuh andai semua sia-sia.” Demikian pesan singkat Amin.
“Kita hanya berteman lo, ya…” Rika membalas SMS-nya.
“Tidak lebih dari itu?” Amin membalas kembali.
“Mbok, aku aja masih sakit hati. Aku masih trauma karena dia. Tolong jangan paksa aku masuk dalam lingkar cinta.” Rika membalas penuh bela diri.
“Emang kapan kamu putus hubungan sama dia?” Amin membalas dengan pikiran yang agak risau.
“Hubungan mulai tidak baik sejak April kemarin. Ternyata dia bertunangan lalu nikah.” Rika menjelaskan.
Sontak Amin bangun dari tempat tidurnya. Pikirannya tak karuan. Bayangkan, dia tak kunjung jadian dengan Rika selama 4 bulan menunggu kepastian hanya karena Rika beralasan tidak ada istilah pacaran dalam islam, dan Amin menurutinya. Ternyata selama ini Rika bermain di belakangnya.
“Oh, gitu. Kenapa tidak jujur dari awal? Terimakasih untuk hari-hari yang terlanjur hilang” Balas Amin kemudian, mengakhiri percakapannya dengan Rika lewat SMS. Lalu Amin membanting HP-nya dengan keras hingga berhamburan.
Amin benar-benar hancur. Raganya mengamuk menendang apa saja yang ada di kamarnya. Matanya merah seakan ingin muntah airmata darah. Setelah mimpi demi mimpi yang selama ini dia rajut harus hancur oleh kebohongan seorang gadis yang penghianat tak punya perasaan.
Kini Amin menjalani hari-harinya sendiri, mengija waktu setelah hatinya tak berbunga lagi. Dia berjalan tanpa arah dan tujuan. Barangkali luka mampu membawanya mati.
Ali Munir Sangkakala, Lahir pada tahun 1994 di Sumenep Madura. Sekarang tinggal di daerah Sapen, Demangan Yogyakarta. Tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Aktif menulis puisi dan cerpen, tergabung di Komunitas Sastra Gajahwong dan Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma UIN Sunan Kalijaga. Buku antologi puisi dan cerpen bersama-nya yang pernah terbit sebanyak 5 buku, salah satu diantaranya berjudul “Potret Langit ” yang diterbitkan oleh Oase Pustaka (Surakarta) dan “Sekeping Hati Di Langit Kelabu” oleh FAM Publishing (Kediri). Penulis bisa di hubungi lewat: HP. 087738783823. E-Mail: [email protected]. FB. Ali Munir





