Oleh: Achmad Sulaiman
Sesekali aku menyesal, menangis ketika melihat sosok selendang tergeletak di lemari, terlipat rapi di antara tumpukan-tumpukan kain yang kapan saja membungkus tubuhku sesuka hati. Tentu kalian bertanya, dengan cerita atau curahanku ini, atau bahkan tidak mau tahu sama sekali, pun aku turut senang jika sama sekali tidak ada yang perduli, tapi aku turut kecewa pada siapa saja yang sama sekali tidak tahu menahu setelah membaca cerita atau cerahanku ini. Bukan maksud aku menggurui, barangkali memang harus demikian adanya yang sudah semestinya aku katakan disini.
Kenapa tidak, toh aku menulis semua ini bukan tanpa ada sebab dan alasan. Walaupun alasan dan sebab itu, menurut orang-orang sangat tidak masuk akal. Bahkan bisa jadi, aku ini yang sudah tidak masuk akal, karena telah mebahas sesuatu yang tidak perlu dibahas. Mungkin itu benar. Tetapi bukan berarti aku tidak boleh meneruskan catatan kesaksian ini. Aku yakin, suatu saat orang-orang setelah aku, akan mempertanyakan banyak hal perihal catatanku ini, tentang selendang, bahkan tentang kebiasaan yang tidak terpuji ini, kebiasaan baik yang tidak semua orang melakoninya, dan bisa jadi aku seorang.
![]() |
| Foto Editor by Sel: Pilihan Rakyat |
“Aneh, sudah sinting kali ya…” seorang perempuan bicara diantara teman-temannya yang sedang berkumpul di taman di kampusku, tetapi matanya tertuju padaku yang sedang lewat di sampingnya, kebetulan aku sedang tidak buru-buru, jadi langkahku pelan saja.
“Hush.! Ngomong opo kamu? Kedengaran orangnya baru tahu rasa!” Tandas salah seorang temannya yang sempat aku lirik, dan terlihat seonggok tubuh perempuan yang tidak sama dengan teman-temannya yang lain, sebut saja perempuan yang peduli menjaga perasaanku adalah perempuan gendut.
Serentak katawa kecil tumpah diantara mereka, mungkin menertawaiku, bungkin pula menertawakan dirinya masing-masing karena tidak sanggup untuk mengerti tentang diriku. Lagi pula siapa aku di mata mereka. Siapa pula mereka buatku, dan tidak untung juga meladeni orang-orang yang bisanya cuma menertawakan orang lain. Bahkan mencari-cari kesalahan orang lain, betapa tidak senangnya diriku. Bukan maksud hati untuk menilai baik buruk mereka. Mohon dicatat, biar tidak jadi fitnah, aku hanya sekedar bercerita.
Sungguh aku terpuruk saat ini, ketika selendang benar-benar aku tinggalkan untuk beberapa waktu entah sampai kapan. Aku membiarkannya istirahat biar tenang dengan kehidupannya sendiri. Sebab aku telah rapuh untuk menyebut namanya sebagai pangilan namaku. Betapa kejam diriku!
Selamat berpisah selendang kebanggaanku, selendang yang telah menjadi almamaterku, identitasku, bahkan menjadi teman karib dalam perjalanan rantau hidupku. Selendang kumuh kumal kata orang-orang, selendang warna kuning keemasan dengan bunga-bunga warna coklat, samper batik khas Madura warisan nenek tercinta yang ibu berikan padaku. Selendang yang senantiasa setia melingkar di leherku empat tahun ini. Selendang yang tengah merintih dalam lemari atas kekalahanku.
Sebagaimana rintih selendang sejak pertama aku tingalkan. Terngiang di telinga ia menjerit-jerit meraung-raung menangisi kekalahanku. Aku kalah. Kalah pada prasangka dan pada kemungkinan-kemungkinan yang membimbangkan hatiku bahkan mengombang ambingkan hidupku di tengah orang-orang bereputasi, berprestasi dan dapat dikata sudah memiliki nama dan sukses. Tak lain dan tak bukan, akulah itu yang sedang kalah dengan keadaan sekitar tetapi aku menang atas waktuku. Kini aku bangkit atas nama selendang.
Yogyakarta, Februari 2012
Achmad Sulaiman adalah pemangku blog pilihan rakyat (pilihanrakyatnews.blogspot.co.id). Juga seorang blogger dan penulis lepas. Sesekali diundang menjadi Notulen, moderator, dan pembaca puisi.





