“Leman! Nanti malam bangunkan aku jam 00:00.” Aku terkejut menerima SMS dari nomor baru tanpa nama. Spontan. Tiba-tiba aku bermain-main di masa lalu. Sedang menoreh sepenggal kisah percintaan bersama Silvana. Ya, Silvana yang tiga tahun lalu resmi diperistri Usman, seorang Dosen Pertanian di Universitas Wiraraja Sumenep.
Silvana adalah adik kelasku sewaktu SMA. Paras rupanya sederhana, berperawakan biasa-biasa saja. Tetapi, sifatnya yang lugu dan polos, mampu menyihir para lelaki sebayanya, termasuk diriku. Sedang Usman, teman sekelasnya yang pendiam tapi cerdas itu tidak pernah tersemprot gosip, kalau dia suka sama Silvana. Beda dengan aku yang dengan terang-terangan mengutarakan perasaan suka pada Silvana lewat puisi-puisi indah dengan alunan suara yang sumbang.
![]() |
| Gambar Via: https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/ |
“Maaf Leman! Silva tidak bisa. Ibuku bilang, Silva tidak boleh berpacaran dalam menuntut ilmu.” Sedikit aku kecewa dengan jawaban Silvana ketika aku mengutarakan perasaanku padanya untuk yang kesekian kalinya. Namun, aku tidak pernah putus asa untuk terus memilikinya seutuhnya. Kendati aku harus selalu kecewa setelah selesai mengutarakan kejujuran dan ketulusan maksut hatiku.
Kekecewaan demi kekecewaan aku jalani dengan hati sabar. Pun aku tidak pernah menyasali peristiwa-peristiwa yang secara naluriah insani tetap menyisakan kesakitan. Lantaran cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku masih bersukur, dengan keteguhan hati yang tuhan anugrahkan padaku, yaitu cinta sejati. Cinta yang tidak harus saling memiliki atau cinta yang tidak selamanya harus bertumpu terhadap kebersamaan hidup.
Aku bahagia bisa mencintai Silvana apa adanya dan sederhana. Oleh sebabnya, aku tetap pertahankan cinta itu dalam palung hati yang terdalam. Meski kata teman-temanku, aku terlalu tolol diperbudak oleh cinta hanya pada seorang perempuan. Terkadang naluri kelakianku menyetujui perkataan teman-teman bahwa masih banyak perempuan untuk dicintai setulus hati.
Wajar saja, sebab usiaku ketika itu masih baru menginjak remaja. Jika teman-teman selalu mengingatkanku untuk mencoba mencari perempuan yang lain. Pun aku sudah mencobanya. Tetapi, setiap kali aku berusaha mencintai perempuan lain, selalu sosok Silvana yang hadir dalam ingatanku. Terkadang aku tidak percaya dengan apa yang aku rasakan. Bahkan tidak jarang apa yang aku lakukan tidak disetujui oleh hati nuraniku sendiri.
Itukah cinta sejati? Entahlah! Aku tidak sanggup mengartikannya. Hanya satu yang kutahu, tak lain tak bukan bahwa aku telah benar-benar tidak bisa menggantikan Silvana dengan perempuan-peempuan lain di ruang hatiku.
Ah, aku terlalu larut bermain-main dengan masa lalau yang indah dan menyedihkan itu. Bukankah, masa laluku dengan Silvana hanya sandiwara cinta melankolis yang hanya menyuburkan sumber air mata?.
Benar-benar menusuk kalbu, kabar baik tentang perkawinan Silvana dengan Usman tiga tahun yang lalu. Seolah aku telah mati dalam kehidupan ini, setelah menyadari bahwa cinta yang aku abadikan selama enam tahun menjadi sia-sia. Benar! Hidup memang tidak berpijak di atas harapan, melainkan berjalan dalam kenyataan.
“Berbahagialah Silvana! Atas nama cintaku padamu, semoga Usman menjadi sosok suami yang baik dan setia, sesuai dengan yang kamu harapkan. Pun aku berharap besar padamu dan suamimu, untuk turut mendoakan agar aku bisa merelakan dan melupakan dirimu seutuhnya. Amin….!” Nian perih luka cinta ini. Setelah aku tuliskan ucapan selamat beserta doa dalam agenda harianku tiga hari setelah acara perkawinannya.
Duh Tuhan! Pantaskah kata kejam aku umpatkan pada perempuan yang aku cintai? Atau untuk cinta yang semakin tumbuh besar di kalbu?.
Gelisahlah hidupku. Nian resah jiwaku. Sungguh naif diriku telah diperbudak oleh ke-egoisan cinta yang menggerogoti isi jantung dan kepalaku. Apa aku telah benar-benar gila laiknya Qays yang menjadi Majnun lantaran ketulusan cintanya pada laila?. Oh… benar-benar bodoh dan tolol aku ini. Tidakkah cinta tidak selamanya membuahkan kebahagiaan!. Enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dilalui. Bukan perjalanan yang membahagiaan hati. Bukan pula untuk menyatukan cintaku dengan ruh yang hidup di tubuh Silvana.
Enam tahun tak ubahnya merawati kekecewaan dan luka-luka yang semakin membengkak di jantung hatiku. Tetapi, enam tahun adalah waktu yang mengajarkan tentang makna air mata dan hakikat perasaan, hati dan jiwa.
Akupun bersyukur dengan utuhnya cinta di jantung hati. Aku bisa hidup di dunia ini dengan penuh kesadaran dan khidmad. Bahkan aku mampu membaca berbagai persoalan yang terjadi dalam diri hidupku dan masalah asmara yang dialami sahabat-sahabat di bangku kuliah sekarang. Ah, jadi sebal jika harus berbicara tentang kuliah. Sebab tidak boleh tidak harus diakui bahwa tercampakkannya cintaku pada Silvana lantaran kuliahku yang tidak rampung-rampung.
Telah hampir tujuh tahun aku bergelut dalam dunia kampus, bercengkrama dengan buku-buku, dan sibuk dengan urusan Ideologi dan Idealisme yang kurang aku pahami ujung pangkalnya.
Aku yakin, lantaran status pulalah, pinangan Usman di amini oleh Silvana serta keluarganya. Keluarga yang mana di kampungku yang bisa menerima lamaran lelaki untuk memperistri putrinya, jika statusnya tidak jelas. Seperti saat aku meminang Silvana empat tahun yang lalu. Dengan berat hati aku dan kelurga harus pulang dengan sekarung rasa malu yang harus kami pikul.
Walaupun Silvana bersedia untuk bersanding hidup dengan Usman. Silvana tidak pernah bersedia untuk tidak memutus komunikasi dengan aku. Dia masih sering berkirim kabar lewat Via SMS padaku, begitu pula dengan Usman. Hubungan kami masih sewaktu SMA dulu, masih sebagai sahabat. Akupun tidak pernah punyak rencana untuk merebut Silvana dari tangan Usman.
Seperti ini malam, meski SMS itu dikirin dari nomor dengan tanpa nama pemiliknya. Aku mampu membaca, dari siapa SMS itu. Tak lain tak bukan dari Silvana teman SMA yang pernah aku cintai atau si istri Usman sahabatku. Lantaran yang aku tahu, hanya Silvana seorang yang memanggilku dengan sebutan Leman.
Pasti ada apa-apa dengan keluarganya. Jika tidak, tidak mungkin Silvana mengirim pesan untuk minta dibangunin jam tengah malam. Tanpa merasa bersalah aku membalas dengan pesan bahwa aku bersedia.
“Halo… Assalamu alaikum…” terdengar kecil Silvana menjawab salamku dengan suara parau pertanda dia baru bangun tidur.
“Ada apa Silva minta dibangunkan jam tengah malam seperti ini? Apa sudah dapat izin dari suamimu?” tanyaku mengawali percakapan pada tengah malam itu.
Sepi. Tak terdengar jawab apa-apa dari batang hand Phone-ku. Pikirku, dia terlelap kembali atau si Usman bangun. Lantaran takut ketahuan, dian merijeknya. Tidak, lamat-lamat aku dengar suara paling kecil dari tempat tidurnya di sebrang. Seperti suara tangis kecil. Tapi siapa yang menangis di sampingnya?.
“Tidak ada apa-apa Leman! Silvana minta dibangunkan sama Leman, karena malam ini tanggal delapan belas Februari” terdengar suara Silvana menjawab tanyaku dengan suara yang amat kecil, hampir aku tidak bisa menangkap maksudnya.
“Ada apa dengan tanggal itu?” tandasku.
“Tidak tahu! Tiba-tiba saja Silva ingin bercerita di malam tanggal delapan belas ini.” Jelasnya singkat. Sedang aku hanya diam menjadi tidak paham akan maksud dari perkataan itu.
“Yakin, hanya itu alasannya? Leman kurang yakin! Sebab, tidak mungkin seorang Istri akan minta dibangunkan pada orang lain, jika hanya untuk melaksanakan Sholat malam. Bukankah masih ada Suaminya. Sebagaimana Silvana, malam ini.” Pertanyaanku mengalir laksana butir-butir embun yang menusuk pori-poriku tengah malam itu.
“Leman ketinggalan kereta, ya…”
“Maksud Silva?”
“Ketahuan kalau telat baca koran!” jawabnya singkat, kembali ngeledek.
“Ya sudah, lebih baik Silva tidur saja lagi. Okey!” tukasku dengan nada cuek.
Jangan Leman! Silva hanya ingin bercerita malam ini.” Cegahnya memohon. Padahal aku Cuma berpura-pura cuek. Hanya sekedar memancingnya untuk dia jujur berbicara.
“Berani apa jika sampai ketahuan oleh Usman?”
“Ya Allah, Leman…. Aku sudah tidak lagi sekamar dengan suamiku.” “Apa?” tanyaku kaget.
“Benar Leman! 27 November 2009 kemarin, kami telah sepakat untuk menanda tangani surat cerai di pengadilan,” jelasnya sambil menahan tangis.
“Jadi…”
“Iya!,” potongnya tegas. “Aku sudah berusaha untuk sepenuhnya mencintai suamiku lahir batin. Tapi….” Sejenak seuaranya putus. Aku diam saja menanti lanjutan suaranya. “Silva benar-benar tidak sanggup melawan ingatanku yang hanya padamu, Leman! Semakin aku mencoba menghapus namamu dari hatiku, semakin terang saja namamu terukir di dinding kalbu”
“Terus…” air payau menetes, tercecap di di bibir kananku. Deras saja mata air mata itu menaglir di kedua pipiku. “Aku menjadi cengeng kan, gara-gara perkataanmu tadi. Aku nangis Silva…! Lantas, maumu apa sekarang?” Lanjutku, sebelum dia mengambil kesempatanku untuk bicara.
“Tidak mau apa-apa!”
“Duh, Gusti Pangeran…. Silvana, jujur aku masih mencintaimu. Walau aku pernah mencoba untuk menghadirkan perempuan di hatiku, tapi semua usahaku nihil, posisimu terlalu angkuh, sungguh tak tergantikan.”
“Sebab namamu pula aku mengamini perceraianku dengan Usman!”
“Apa jauh hari telah kau pikirkan itu?”
“Iya! Tapi aku takut, Leman!”
“Untuk apa dan pada siapa?”
“Usman!……” sampai pada nama Usman suaranya hilang dan berganti bunyi, tut tut tut tut tut…. di loud speaker hend pone-ku.
Lama aku terdiam dalam berbagai pikiran yang tidak jelas alurnya. Sejenak aku senang bahkan sangat bahagia karena ada harapan besar bagiku, untuk memiliki Silvana yang aku cintai sejak enam tahun yang silam. Namun hati kecilku, merasa berdosa pada Usman. Sebab walau bagaimanapun, hal ihwal penyebab perceraiannya pasti lantaran adanya aku diantara mereka.
Gelisahku memuncak. Pikiranku meronta-ronta. Segalanya hadir bagai iblis yang menakutkan hendak menghabisiku. Bayangan-bayangan Silvana hadir membawa sekuntum benga, aku bersenyum sumringah. Tak kalah sering, wajah Usman muncul dengan geramnya, seolah hendak mencekik leherku dan mencakar-mencakar dadaku kemudia mengambil gumpalan daging hatiku yang berukir cinta abadi dan nama Silvana, mantan Istrinya.
Tiba-tiba, hand phone-ku berbunyi. “Silvana” gumamku beriring senyum. Bayangan yang menakutkanpun lenyap seketika dengan suara merdu dari sebrang di gagang hand phone.
“Jujurkah dirimu Leman! Bahwa hatimu masih belum dihuni oleh perempuan selain diriku?”
“Dengan sumpah apa, aku harus meyakinkanmu Silvana… ?”
“Leman… aku percaya! Tapi….” “Baiklah! Sekarang aku putuskan, untuk mengakhiri persahabatan!”
“Sungguh-sungguhkah kau berkata seperti itu?”
“Lebih dari kesungguhanku menunggumu selama ini!”
“Lekas-lekaslah kau selesaikan kuliahmu…..” kembali suaranya hilang dan berakhir dengan bunyi tut.. tut.. tut…
Yogyakarta, 2011-2012





