Puisi  

Soneta Baron Van Warno: Kau Bercermin Padaku | Peri Bersayap Kitab Suci | Lelaki yang Ingin Jadi Hujan | To Celleng

Kau Bercermin Padaku 

mari berjalan mundur – sejak kaki melangkah
akhirnya tiba di tempat ini untuk cerita masa remaja
durasi dan jarak kita terlampau dekat dan lekat
dalam keterpisahan badan yang kehilangan perekat

 tiba-tiba tumpah kata yang tak kuberi makna
selain tanda-tanda di rambutmu yang berantakan
di sela-sela pertanyaannmu: apa aku masih cantik?
tatapanku memasuki terowongan kecil matamu

mataku menjadi cermin yang berkata kau cantik
percayalah padaku jika segalaku adalah bayanganmu
jika setiap kamu yang terdalam adalah bentuk diriku

sebagaimana pagi hangat oleh sinar alami wajahmu
aku meyakini adanya pemberontakan diri pada diri
dan pada segala tipu daya dan cinta di kehidupan ini

November 2013

Foto Editor by Riskiana: Pilihan Rakyat

Peri Bersayap Kitab Suci 

kepadamu, peri kecil bersayap kertas
yang kau sobek dari lembar kitab suci
kupertanyakan hakikat keberadaan duniaku
dan keduniawian yang (tak) kumiliki

demi niat hati yang digerakkan energi
kata-kata dan kecupan-kecupan birahi
tuah-tuah kebijaksanaan dan kebajikan
telah terkubur di buku-buku peradilan

Baca juga  Sajak-sajak Ahmad Faidi*

yang aku rapikan di rak bekas peperangan
dan kutitip pada seorang kakek setia
di taman makam pahlawan

hanya kepadamu, kurebahkan kegelapanku
demi satu cayaha yang kau sembunyikan
di tiap senyummu patah sebelum kutangkap

November 2013

Lelaki yang Ingin Jadi Hujan 

pada permukaan laut terang biru
aku berdoa-mendamba tubuh sublim ke langit
menjadi mendung di sore hari saat kau sedih
biar aku pecah sebagai hujan dan kau tak nangis

terimalah aku sebagai hujan sebelum tiba malam
yang hanya mendekatkanmu pada hantu keperihan
dengar setiap dentingku yang basah di pori-porimu
ia menyatakan makna yang tak butuh kata-kata

sebagai hujan, aku memasukimu dari tetes pertama
lewat kelopak matamu yan lesat menelanku
sekejap kutumbuhkan benih-benih bunga di kalbumu

kemudian aku menjadi cermin kecil pada jiwamu
dan kau senang merias senyummu di sana
aku pun tersenyum padamu sebagai senyummu

Baca juga  Puisi Seperti Bom Atom | Kupu-kupu Telaga | Cerita Satu Babak | Niat Penyair

12 November 2013

To Celleng 

ke to celleng orang-orang pajhagungan menggali batu
hitam dan keras dipecah sekuat membelah hari-hari
setiap bongkahnya untuk batu dasar rumah mukim
tempat sanak saudara merebahkan takdir legam

di batu kursia sesajen diserahkan pada arwah-arwah
biar tak celaka bagi keturunan dan naas di kehidupan
puja-puji dibacakan menyongsong asap keminyan
pemecah tujuh lapis langit demi sampai pada-Nya

 “jangan tebang pohon dan bakar dau sembarangan”
perintah tak tertulis dalam buku undang-undang

terdengar kramat dan orang-orang mematuhinya

kekuatan alam disulam jadi kekuatan hidup
orang-orang pajhagungan; tabiat nenek moyang
penyanggah ketentraman lahir dan batin di dunia

Yogyakarta, 2013/2015

Baron van Warno, Mahasiswa Ilmu Sosial dan Humanioran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Juara III Lomba Tadarus Puisi Se UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 2009. Menulis puisi dan cerpen sejak SMA. Kini tinggal di Jakarta sebagai pekerja biasa di sebuah Lembaga Peneletian. Bisa dihubungi via sms di : 081939472392

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *