Kau Bercermin Padaku
mari berjalan mundur – sejak kaki melangkah
akhirnya tiba di tempat ini untuk cerita masa remaja
durasi dan jarak kita terlampau dekat dan lekat
dalam keterpisahan badan yang kehilangan perekat
tiba-tiba tumpah kata yang tak kuberi makna
selain tanda-tanda di rambutmu yang berantakan
di sela-sela pertanyaannmu: apa aku masih cantik?
tatapanku memasuki terowongan kecil matamu
mataku menjadi cermin yang berkata kau cantik
percayalah padaku jika segalaku adalah bayanganmu
jika setiap kamu yang terdalam adalah bentuk diriku
sebagaimana pagi hangat oleh sinar alami wajahmu
aku meyakini adanya pemberontakan diri pada diri
dan pada segala tipu daya dan cinta di kehidupan ini
November 2013
![]() |
| Foto Editor by Riskiana: Pilihan Rakyat |
Peri Bersayap Kitab Suci
kepadamu, peri kecil bersayap kertas
yang kau sobek dari lembar kitab suci
kupertanyakan hakikat keberadaan duniaku
dan keduniawian yang (tak) kumiliki
demi niat hati yang digerakkan energi
kata-kata dan kecupan-kecupan birahi
tuah-tuah kebijaksanaan dan kebajikan
telah terkubur di buku-buku peradilan
yang aku rapikan di rak bekas peperangan
dan kutitip pada seorang kakek setia
di taman makam pahlawan
hanya kepadamu, kurebahkan kegelapanku
demi satu cayaha yang kau sembunyikan
di tiap senyummu patah sebelum kutangkap
November 2013
Lelaki yang Ingin Jadi Hujan
pada permukaan laut terang biru
aku berdoa-mendamba tubuh sublim ke langit
menjadi mendung di sore hari saat kau sedih
biar aku pecah sebagai hujan dan kau tak nangis
terimalah aku sebagai hujan sebelum tiba malam
yang hanya mendekatkanmu pada hantu keperihan
dengar setiap dentingku yang basah di pori-porimu
ia menyatakan makna yang tak butuh kata-kata
sebagai hujan, aku memasukimu dari tetes pertama
lewat kelopak matamu yan lesat menelanku
sekejap kutumbuhkan benih-benih bunga di kalbumu
kemudian aku menjadi cermin kecil pada jiwamu
dan kau senang merias senyummu di sana
aku pun tersenyum padamu sebagai senyummu
12 November 2013
To Celleng
ke to celleng orang-orang pajhagungan menggali batu
hitam dan keras dipecah sekuat membelah hari-hari
setiap bongkahnya untuk batu dasar rumah mukim
tempat sanak saudara merebahkan takdir legam
di batu kursia sesajen diserahkan pada arwah-arwah
biar tak celaka bagi keturunan dan naas di kehidupan
puja-puji dibacakan menyongsong asap keminyan
pemecah tujuh lapis langit demi sampai pada-Nya
“jangan tebang pohon dan bakar dau sembarangan”
perintah tak tertulis dalam buku undang-undang
terdengar kramat dan orang-orang mematuhinya
kekuatan alam disulam jadi kekuatan hidup
orang-orang pajhagungan; tabiat nenek moyang
penyanggah ketentraman lahir dan batin di dunia
Yogyakarta, 2013/2015
Baron van Warno, Mahasiswa Ilmu Sosial dan Humanioran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Juara III Lomba Tadarus Puisi Se UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 2009. Menulis puisi dan cerpen sejak SMA. Kini tinggal di Jakarta sebagai pekerja biasa di sebuah Lembaga Peneletian. Bisa dihubungi via sms di : 081939472392





