Bisik Bisik Cinta di Jendela #6

Kontributor: Selendang Sulaiamn 

Selasa, 12 Juni 2012 I/ 09:36 

“Selamat siang kehidupan!”

Ucapan selamataku kirim pada beberapa teman dari meja warung kopi ini. Pagi yang cerita dan tenang. Pagi semacam matahari terangdengan awan putih tipis di udara penghias angit. Aku berdaya pagi ini. Ada banyak hal yang luruh tiba-tiba, seolah beban dan masalah menjadi tak memberatkan langkah serta pikiran. Perasaan sepertinya kembali pulih. Barangkali sebab semalam aku beristirahat dengan damai. Tidur tanpa mimpi buruk – tanpa mimpi apa-apa. Sebangun tidur, nafas lega ringan sekali tanpa hembus resah bercamput kesedihan. Padahal tak ada yang berubah dari yang kujalani pagi ini. Selain hanya aku bisa tidur tenang semalaman suntuk. Tidur yang normal. Sempurna percakapandingin di luar badan atau percakapanku dengan cintaku sebelum mata benar-benar menidurkan segala yang bergejolak dalam bati.

Pagi ini, pagi yang entah penuh arti atau pagi yang biasa terjadi. Atau entah hanya berasaanku yang tidak biasa dan atau entah ini hanya bualan gombal. Baiklah, tidak semestinya alasan-alasan ini dituliskan sedemikian rupa. Bukankah keriangan sudah niscaya.

Sumber Gambar: Coret yang tidak Perlu, Via Panit oleh Selendang Sulaiman

Pagi ini, aku merasa ada yang lain, ada yang hadir merasuki jiwaku. Entah apa yang lebur dengan rasa dan pikiranku. Aku hanya mampu tersenyum kecil sesederhana mungkin, tanpa maksud membiarkan ketidak mengertian berjelaga dalam pikiran. Aku pun hadir di sini dengan keriangan yang lama tak aku rasa. Keriangan hati yang lama tertambal oleh debu-debu cemburu dan candu asmara bersama kebencian yang sialan. Hanya kecerobohan biasa barangkali, bukankah pagi juga senantiasa berganti setiap hari.

Sebagaimana bumi. Seperti halnya musim, hanya butuh pikiran sehat dan perasaan wajar untuk membiasakan diri bertindak sederhana dan menganggap sesuatu seadanya dan maklum. Barangkali aku saja yang pesakitan beberapa hari ini, yang merasa bahwa cintaku sudah tidak lagi memiliki arti bahkan sempat mengatakannya cacat. Padahal hanya butuh waktu untuk sekedar memahaminya. Begitu adanya tentang rasaku padamu bahwa, cintaku tidak akan rapuh, cintaku akan terus menerus tumbuh subur bersama usia yang kian menua. Mungkin aku teralalu berlebihan ketika kedengeran di telingamu, bibirku mengeluarkan bahasa putus asa bahkan mengigau tentang kematian. Sungguh hanya cinta.

Baca juga  Pengasuh Cinta dan La Noche

Catatan ini, catatan cinta yang akan kuisi dengan butir-butiran sisa peristiwa yang sempat menegangkan perjalanan hidup dan kehidupan. Kaupun sudah terbiasa dengan hal itu, bukan! Kupikir kau akan maklum tanpa bujuk rayu dari bibirku dan dari catatan ini. Sebagaimana ini pagi, aku merasa hadir padamu dengan wajah riang yang sempat datang padamu dengan aura kesedihan yang teramat sendu.

Betapa benar: keriangan duduk di hadapanku. Tersenyum melihatku yang ceria oleh rindu.

“Meja dan kursi yang saya tempati masih kosong. Tak baik jika saya dibiarkan sendiri.”

Aku sempat membujuk yang datang dengan serpihan-serpihan persoalan di bibirnya yang melintas senyuman mawar. dan…

“Baiklah, di meja ini hanya ada secangkir kopi dan sebatang lisong. Cukup untuk beberapa menit untuk menanti.”

 Pengertianku pada yang akan datang dengan segenggam keinginan di masa depan, biar bukan cinta tetapi tetap buat kehidupan. Sebab yang punyai cinta di sini, hanyalah aku. Cinta yang subur untukmu yang berdiri di pintu.

Seperti mereka yang masih ambigu, aku tidak akan mencoba untuk memaksamu.

Cintaku, memaksamu adalah luka yang kian nyeri di tubuhku. Sebab cinta di hatiku bukan untuk mengikatmu. Aku ingin cintaku tetap sebegini indah dan subur tanpa menjadi parasit di hatimu. Aku ingin kau mencintaiku dengan cinta yang sebenarnya cinta tanpa cinta yang cacat oleh hasrat yang selain air cinta yang menetes setiap waktu setiap hadirku.

Cintaku, mencintaimu adalah merawat hadir ruh di lubuk jiwaku. Sebab cinta dan ruhmu adalah catu yang tak terpisah oleh apapun. Sebagaimana kopi dan candu atau rasa dan manis-pahit. Bukankah hidup pula tak jauh dari hal yang demikian.

Baca juga  Sảnh game bài tại Nhà cái fun88 có đủ đa dạng và hấp dẫn? - Khám phá đẳng cấp trong thế giới game bài trực tuyến

 Baiklah, catatan ini akan terus mengalir bersama daya cintaku padamu, bersama ruh yang meniup dadaku dengan aroma kamboja setaman. Catatan ini tidakakan ada ujungnya, akan terus tumbuh menjadi pohon dengan ranting-ranting gemuk, daun-daun hijauyang lebat, akan berbunga indah warna-warna dan lalu menjadi buah kehidupan dengan segala rasa lezat. Kehidupan pun akan menerimanya sebagai anugerah, sebagai sumber berkah yang terberkahi oleh sang Maha Pengasih . Itulah cintaku padamu dalam kehidupan ini. Keabadian senantiasa ada dan terjadi.
******

II/ 12:30 
Matahari sudah tinggi. Tetap di atas kepala. Aku masih duduk di bawah atap warung kopi. Aku sudah pindah duduk empat kali, empat meja, empat kursi. Tepatnya aku menemui empat kumpulan orang-orang kopi yang berbeda.

Sebagaimana prinsip bahwa, dalam 24 jam aku mesti bicara-bercakap dengan (minimal) 10orang yang berbeda. Dan dalam hitungan jari tangan telah enam orang yang mengajakku bicara tentang apa saja. Persoalan akademik, bisnis, ekonomi, karya tulis, puisi, perempuan, cinta dan tentang hal-hal yang konyol yang tidak penting untuk dibicarakan, selain hanya untuk menjadikan suasana lebih cair dan lucu. Sebab keadaan ini sudah tegang dan mulai kurang sehat perjalanannya. Ya, suasana di warung kopi Jogja semacam medan atau arena pertempuran saja.

Catatan ini, juga lahir dalam suasana yang dipertegang oleh sekian kepentingan murahan, dengan alasan demi tegaknya idealisme dalam sebuah koloni-koloni kehidupan. Aku di antara meraka. Aku yang ditinggalkan dan sedikit aku mencoba memainkan mereka dengan cara berpura-pura kalau aku bagian dari mereka. Mereka terlena dan aku tumpas.

Bersambung…. baca selanjutnya…. #7

Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *