Pengasuh Cinta dan La Noche

(Bisik Bisik Cinta di Jendela #9)

Kontributor: Selendang Sulaiman 

Kamis, 14 Juni 2012 / 17:31 

Senja sudah turun. Sebentar lagi surup segera tiba mengantar malam yang selalu sendirian. Di sini aku duduk bersamping pinggang dengan kekasihku. Dia tau aku begitu mencintainya. Pun aku paham bagaimana perasaan kekasihku itu ini. Ya, dia itu adalah cintaku yang aku tulis di sini bersama segala kemungkinan-kemungkinan persoalan yang aku hadirkan tentang koloni-koloni hidup yang saling berebut mangsa.

Kekasihku itu, penyayang binatang (kucing, anjing, humster, kecilnci, marmut, dan mungkin aku) yang lucu dan gemar rupanya. Dia lebih senang bermain dengan binatang-binatang itu dari pada membaca puisiku atau mendengarkan pembacaan puisiku. Dia lupa bahwa puisi dan binatang kesukannya itu tak akan membuat kenyang perut yang lapar.

Merapi Adventura/Model Nina/Foto Nina

Dia yang aku cintai adalah kamu yang duduk di sampingku. Perempuan yang hadir atas nama luka dan nyeri pedihnya. Mungkin aku akan bilang, jika aku adalah sumber kebahagiaanmu dan kaulah ruh yang mengisi setiap sepi dan hening puisiku, atau engkaulah cahaya yang akan memberi terang pada puisiku yang gelap. Memang aku tidak pernah kau catat dalam angan dan impian di masa remajamu dulu.

Tetapi siapa nyana, jika Tuhanmu yang maha entah telah mempertemukan kita sebagaimana puisi yang terbangun atas kata dan bait, dengan metafor. Sebagaimana yang pernah aku tulis menjadi prosa liris tentang pertemuan kita setahun yang lalu. Mungkin kau melupakannya atay kita memang sudah sepakat tanpa sadar jika kita akan melupakan semua kenangan itu. Namun juga entahlah, Sebab di sini di warung kopi yang sama (tempat rasa kita tumpah dulu) kita masih duduk bersebelahan untuk saling mengukur dalamnya kesetiaan masing-masing. Dan aku masih menulis catatan ini yang tak lain menulis kenangan.

Baca juga  Anisah; UMKM Harus Lebih Maju

Cintaku, catatan ini aku tulis demi didi yang sepi dan hidup yang hampa dengan segenap keterbatasannya. Kepadamu aku berbagi resah, membagi kepingan duka dari reruntuhan jiwa yang fana. Sungguh, tiada nikmat dan indah dari adamu yang aku dustakan. Aku sudah cukup damai ada bersamamu, setiap waktuku tanpa beban rasa kebosanan. Aku bukan pesakitan yang diolok-olokkan oleh orang-orang pada kita, atau olokan itu hanya pada disiku semata. Memang aku menyadari segala benih-benih penyaikt yang bermunculan dari setiap gerak dan sikapku. Kau perlu tahu, akhir-akhir ini aku sering mengigau dan menggumam.

Beginilah keadaan kita sekarang. Saling bertanya tentang cinta kita (jarak kita) dan masa depan kita. Aku tidak akan menyangsikan setiap keluh kesahmu pada keseharianku yang dipenuhi dengan bualan dan omong kosong terhadap orang-orang yang memiliki selera kekuasaan yang teramat tinggi, katakanlah apa yang mereka takar kurang sesuai dengan nampan yang mereka miliki. Sebab aku bukanlah pungguk yang merindukan bulan. Aku akan jadi batang pohon jati di tengah hutan. Biarlah aku menjadi saksi dari pertempuran ke pertempuran dengan hukum rimbanya. Sungguh, demi cintaku padamu, hasrat untuk menjadi singa telah aku pendam menjadi akar yang kekar. Keinginan untuk menjadi burung elang telah aku remas-remas menjadi dedaunan yang rimbun dan hijau.

Maka cintaku, engkaulah segala zat dari pohon hayatku. Engkaulah angin, udara, air, matahari, bulan, dan bintang-bintangnya. Jika kelak waktu itu telah tiba dan menyebut dirinya buah mimpi, manis impian dan lezat cita-cita aku akan segera lahir sebagai diriku yang utuh yang mencintaimu dan akan meniupmu menjadi ratu; kau minta jadi siapa? Cleopatra, Arjumand Begun, Ratu Sheba, atau kau ingin seperti ratu-ratu dari pulau Jawa ini?

Baca juga  Phân tích lối chơi hai đội Tottenham Hotspur và Burnley Cùng nhà cái keonhacai07 – Bí quyết dự đoán chính xác từ chuyên gia

 Cintaku, tak perlu engkau risaukan pernyataan-pernyataanku yang mungkin engkau akan bisa mencipta senyum tipis yang hambar lalu kau bilang, “Kau kebanyakan menghayal!” Baiklah, tidak mengapa itu kau anggap khayalan. Bagiku itu mimpi. Mimpi iadalah juga impian dan setiap impian akan selalu ada dalam doa-doa. Udaha itu sudah keniscataan kita hidup di sini.

“Bencana dan keberuntungan sama saja,” lagi, mesti aku ungkapkan penggalan ayat dari penyair W.S Rendra. Selain lantaran aku tidak suka dengan keberuntungan dan tidak menolak hadirnya bencana. Aku pun sangat hafal bait-bait itu. Aku selalu mengalirkannya setiap resah dan sepiku. Setiap tidur dan jagaku. Bahwa aku memang benar sangat mencintaimu.

Catatan ini, aku hadirkan padamu untuk keluhmu yang paling dalam dan pengertianku yang masih teramat dangkal. Namun, aku senantiasa riang bersama cintaku padamu, yang selalu ditemani keriangan-keriangan yang selain hidup kita. Mereka adalah binatang-binatang lucu yang suka kita belai, dan bahkan sering kita menciumi bulu-bulunya: Govin, Koning, Pablo, dan Dara dan Bara.

Bersambung…. baca selanjutnya…. #10 

Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *