Bisik Bisik Cinta di Jendela #5

Kontributor: Selendang Sulaiman

Senin, 11 Juni 2012 
I/ 06:46 
“Kenapa akkhir-akhir ini engkau selalu berkata tentang kematian? Kenapa?”

Pada yang Maha Entah aku pasrahkan hidup dan matiku. Cintaku padamu aku besarkan atas keindahan-Nya. Tentang pertanyaanmu itu di malam yang entah aku sedang cemburu, aku memang tak sanggu menjawabnya. Selain hanya bisa senantiasa mengigau di dekat telingamu sambil ragu memelukmu.

Sungguh aku pasrah dengan kehendak takdir Tuhanku. Walau aku tahu, sangat tahu, bahwa Tuhanku telah lama aku hindarikarena cinta dan kebesarannya yang aku miliki tak kuasa aku kuasai. Aku terlena, terbuai dengan segala nikmat dan pesonanya. Aku terjerambab dalam kepuasan sementara yang tak lebih dari benih siksa akhirat yang aku tanam di usia cintaku-cintamu.

Barangkali dengan kepasrahan ini yang beratasnamakan pasrah pada yang Maha. Aku bisa kembali pada kenyataan yang sebenar-benarnya mesti aku jalani sebagai fitrah kemanusiaanku. Kemudian aku akan benar-benar yakin bahwa cinta kita sudah benar sempurna dan akan abadi (semoga!).

Sumber Gambar: Sketasa Mujibur Rohman 
Judul “Menatap Diri” 
via www.facebook.com/rahmanovic.barcelonista

II/ 12:28 
Catatan ini sedikit memberi dampak positif buat diriku. Daya imanku yang sudah lama rapuh, kini mulai lahir kekuatan megnetik dari cinta yang diimpikan bersumber dari cahaya Ilahi. Benar kiranya bahwa, cinta semestinya kian mendekatkan seorang hamba pada Tuhannya. Sebagaimana Rabi’ah Al-Adawiyah dalam Islam atau sebagaimana perjalanan cinta seorang Penyair besar Italia bernama Dante Alighairi yang atas nama cinta kepada Beatrice di masa remajanya mampu membawa jalan terang menuju Tuhannya (Kristiani).

Namun sungguh, cintaku padamu walau sudah benar, tetap saja kurang dari kesempurnaan hidup dan kehidupan yang memiliki fitrah dan eksistensi. Dunia tenggelam dalam arus deras nafsu asmara dan birahi yang sialan. Begitulah cinta kita bukan! Aku tahu alasan-alasan sudah menguatkan inginmu untuk aku sepakati bahwa; Cinta adalah gairah dan kita mesti menjalani masa terpisah ruang dan rasa yang begitu dekat.

Bukan! Ini semua hanyalah kecerobohan diriku dalam meperlakukan cinta dalam hidupku. Sampai kebosanan memaksamu untuk menentukan jalanku, jalan kita.

Kamu tentu lebih tahu tentang jalan-jalan terjal yang kita lintasi dengan air mata dan darah dari bengkak yang tersumbat batu-batu cadas. Bahkan setiap kata-kata yang lahir dalam setuap perseteruan kita menjelma duri-duri kaktus melengket di tubuh kita masing. Apalah daya jika kehidupan di perlintasan cinta ini menjadi sebegitu ambigunya. Tak lain dan tak bukan adalah berpasrah diri sebagai batu sandaran sebenarnya tanpa harus menyulut pertikaian rasa dan percakapan berapi-api.

Catatan ini aku tuliskan bukan untuk mengungkapkan sekian banyak pertengkaran yang pecah di ntara kita, dulu. Kemesraan yang kita jalani tak lebih dari sekedar percakapan sederhana suatu waktu di tempat-tempat remang dan sepi. Atau di tempat yang bising oleh percakapan orang-orang yang sepertinya sibuk membicarakan nasib rakyat atau bahkan sedang mencoba-coba merumuskan strategi untuk mentabilkan dunia politik yang menggoyahkan negara.

Sebagaimana cinta kita, sayangku. Mereka juga memiliki kehendak dan cita-cita yang luhur dari setiap ucapan dan tindakannya. Walaupun seringkali jatuh ke jurang kekhilafan.

III/ a long time 

Baiklah, sebaiknya kututup catatan ini dengan suratmu tempo waktu yang begitu menegangkan pikiran dan perasaanku. Suratmu itu kusimpan baik-baik dan sesekali kubaca lagi dan lagi. Dan dalam kesempatan kali ini, kutuliskan kembali menjadi bagian dari catatan ini.

Surat Dari yang Hijau 
to Cindie Cemeng 

Aku bukannya marah padamu atau pada keadaan ini. Aku marah pada diriku sendiri. Aku mara pada hatiku karena merasakan luka, merasa perih. Aku kesalpada keingintahuanku, yang membuatku membaca tulisan tanganmu. 

Cinta seorang laki-laki sangat besar artinya bagiku, terlebih jika itu darimu. Duhai betapa aku terbang terlalu tinggi bersama khayalan, aku paham bahwa, tak semudah itu menghapus kenangan dan cinta masa lalu. Tapi tidak jugakah kau paham, ketakutanku senantiasa muncul. Sebab ia perempuan yang jauh lebih baik dariku. Dan satu hal lagi, ia masih utuh sebagai perempuan. Aku takut kau pergi. 

Ya, memang semua salahku. Andai aku setegar yang kumau, tent tak perlu kita pertengkarkan hal yang itu-itu saja. Ya, aku tahu jika aku egois dan kekanakan, dan aku butuh waktu lama untuk berubah. Sungguh aku pun lelah ters menerus bertengkar denganmu. Tapi aku juga sungguh tak punya obat bius yang bisa membuatku kebal dari rasa sakit. Maah karena aku terlalu mencintaimu. Dan aku terlalu takut kehilanganmu. 

Ya, begitulah isi suratmu yang penuh cinta untukku, dulu, dulu sekali. Di mana kau benar-benar butuh sandaran hangat yaitu aku, kini mungkin kau telah bisa bersandar pada dirimu sendiri.

Bersambung…. baca selanjutnya…. #6

Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *