PILIHANRAKYAT.ID, Surabaya-Musim kemarau masih menjadi karakter utama cuaca di Jawa Timur pada Rabu, 12 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi periode kemarau masih berlangsung di sebagian besar wilayah Jawa Timur, meski potensi perubahan cuaca tetap ada di sejumlah daerah.
BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada periode Juli hingga September. Kondisi tersebut membuat cuaca kering dan minim hujan masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah Jawa Timur pada Agustus.
Dalam prospek cuaca periode 7–13 Agustus 2026, BMKG menyebut kondisi kering masih berlanjut di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau Dasarian III Juli 2026, sebanyak 516 Zona Musim atau sekitar 73,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut juga perlu diwaspadai karena periode kering dapat meningkatkan risiko kekeringan meteorologis serta kebakaran hutan dan lahan.
Meski demikian, kemarau bukan berarti seluruh wilayah Jawa Timur akan terbebas dari hujan. Kondisi atmosfer dan faktor lokal dapat memicu pertumbuhan awan serta hujan di wilayah tertentu. Karena itu, prakiraan cuaca tingkat kabupaten dan kota tetap menjadi acuan yang lebih tepat untuk aktivitas harian.
Data prakiraan BMKG untuk Surabaya menunjukkan kondisi cerah dalam pembaruan prakiraan yang tersedia pada 11 Agustus 2026.
Sementara itu, masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir juga perlu memperhatikan kondisi angin dan gelombang. Informasi maritim BMKG menunjukkan kondisi angin timuran masih cukup dominan di sejumlah perairan sekitar Jawa pada 12 Agustus 2026.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memantau pembaruan prakiraan cuaca sebelum beraktivitas, terutama bagi warga yang bekerja di luar ruangan, nelayan, pengguna transportasi laut, serta masyarakat di kawasan yang rawan kekeringan dan kebakaran lahan.
Dengan demikian, cuaca Jawa Timur pada Rabu, 12 Agustus 2026, secara umum masih berada dalam karakter musim kemarau. Cuaca cerah hingga cerah berawan berpotensi mendominasi sejumlah wilayah, sementara kondisi lokal dapat berbeda sehingga pemantauan prakiraan BMKG secara berkala tetap diperlukan.




