Candu Cemburu (Bisik Bisik Cinta di Jendela #14)

Kontributor: Selendang Sulaiman

Senin, 18 Juni 2012 / 05.25 “Pada akhirnya, kita akan menulis sejarah kita masing-masing.” Ungkapku pada seorang teman di meja Kebun Laras, tempat biasa aku nongkrong setiap hari. “Aku masih ingat jelas ungkapanmu itu, dan masih terus melekat di benak dan pikiranku,” kesan temanku itu tadi malam, beberapa menit sebelum pertandingan sepak bola antara Portugal vs Belanda (Piala Euro 2012).

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Lalu aku menengahi perkataan-perkataannya dengan menunjukkan sehalaman dari catatan ini. Tepatnya, di halaman yang menyatakan tentang cinta dan apa yang aku baca tentang keadaan di warung kopi (Blandongan dan Kebun Laras). Ia hanya menatap tulisan-tulisanku sambil mendengarkanku membacakannya dengan suara sedang yang bisa ia jangkau kata per katanya.

Gambar via Foto editor “Arah Nasib”/ SEL/ Pilihan Rakyat

Namun, percakapanku dengannya tak juga menepis rasa sedihku yang tumbuh satu jam sebelumnya. Ya, dalam senyum dan tawa yang cair. Aku juga menyimpan keresahan yang tiada tara. Tak lain itu lahir dari cintaku yang tiba-tiba begitu kesal padaku karena cemburu dan (mungkin) terlampau takut untuk kehilangan diriku. Aku tersanjung dengam ungkapannya dan oleh sebab itulah aku merasa bersalah.

Tengah malam tadi, aku main catur bersama teman yang lain. Tiba-tiba cintaku miss call. Sengaja aku tak mengangkatnya. Untuk yang kedua kalinya, aku tetap merasa bersalah jika aku pura-pura tidak tahu jika dia miss call aku tengah malam. Pilihan yang tepat dan benar, aku angkat telphone darinya.

Dia bicara samar, aku mendengar suaranya. Dia bertanya, aku lagi dimana. Kujawab jika aku sedang di Kebun Laras, dengan nada sedikit ketus. “Dengan siapa, sedang apa?” Lanjutnya.
“Bersama Cungkring, main catur, kenapa?”
“Aku tidak suka, kau kirim puisimu yang kau tulis untukku, kau berikan pada orang lain!”
“Sudahlah, jangan bicarakan di telephone, besok saja kita bicarakan.”
“Aku kesalnya sekarang!”
“Iya, tapi jangan dengan begini!” Tanpa ada jawaban, handphone mati.

Aku melanjutkan main catur. Sambil cerita tentang pembicaraan telephone tadi. Si Cungkring hanya tersenyum hambar. Aku tertawa kecil bersama kesal yang sesak di dada.

 Lagi, aku kalah untuk yang kedua kalinya. Pikiran kosong. Bidak catur terlihat jadi labirin.

“Tidak suka! Kau tulis puisi buat apa? Diobral? Manis sekali, kupikir puisimu itu memang ungkapan hatimu waktu kita pisah khusus buat aku. Ternyata buat (…namanya) tersayang juga to..? Aku tidak persoalan kau ikut event begituan, tapi aku tidak suka kau kadi opurtunis!” Kubaca SMS darinya. Aku terkejut bukan kepalang. Betapa usahaku untuk sekedar membuka jalan untuk pintu-pintu di masa depan dengannya, telah berarti duri yang menusuk tumitnya.

Baca juga  Miễn trừ trách nhiệm vn88 - Hiểu rõ quyền lợi và nghĩa vụ trong lĩnh vực cá cược trực tuyến

 “Mau bilang kau koyol, terserah! Sebab menurutku, akulah yang konyol. Sejak kapan aku menganut prinsip “Asal mbak senang?” Mencipta puisi itu ungkapan kejujuran, dan tak semurah itu harganya, bisa diperjual-belikan. Atau begitu saja harga kejujuranmu?” Belum sempat aku kirim SMS balasan padanya. Dia telah kirim SMS lagi.

 “Terserah kau, aku hanya butuh duit, jalan yang kulewati ini untuk masa depanku, benar aku sudah lemah, hanya mampu di hari ini untuk masa depan dengan mengobral puisi-puisi cintaku. Jika kau tidak suka, silahkan. Aku hanya yakin dengan jalan ini, aku jadi punya harapan.” Usai kubaca SMS kedua darinya, sms ku ini kukirim padanya. Aku benar-benar merasa lemah tengah malam tadi, tapi aku terus mencoba untuk berpura-pura tegar, biar tidak terlihat galau di mata teman-teman.

Hanya selisih semenit, di sudah kirim balasan sms lagi, “Serius aku kecewa padamu, aku benar-benar yakin tadinya puisimu itu begitu personal. Tidak masalah hendak kau ikutkan lomba apapun, tapi menyelipkan nama perempuan lain? Menyakitkanku, walaupun itu sekedar basa-basi.” Kemudian masuk sms sususlan:

“Banyak jalan yang bisa ditempuh. Kenapa harus memilih jalan ini? Baru saja tumbuh harapan baru di hatiku, kenapa kau hancurkan begini? Belum sampai sehari kau bilang “sayang” padaku, sekarang?” Iya, aku paham, tetapi aku merasa sedih yang amat atas segala pernyataannya itu. Wajar jika aku kemudian balas smsnya begini:

“Demi Tuhan (walau aku sering melupakan-Nya) aku melakukan ini demi cinta ku padamu. Jadi penyair itu, besar resikonya. Aku hampir putus asa, pun ak sudah tahu itu, jika aku sering mengharap kematian segera datang. Itu tal lain karena puisi telah terasa jadi hidupku. Jika aku sudah berkecukupan hari ini dan untuk seumur hidup, tentu ceritanya akan berbeda. Aku sangat sedih dengan ungkapan-ungkapanmu, tadi. Sungguh sakit hatiku dengan pernyataanmu.” Entah, aku harus selalu jujur sejujur-jujurnya padanya, tetang apa yang sebenarnya aku rasakan.

Baca juga  Intrik Politik Aktifis Kampus Putih di Warung Kopi (Bisik Bisik Cinta di Jendela #15)

“Aku paham, aku Cuma sakit, nyeri sekali, sesak di sini, di jantungku. Sajak yang begitu personal, yang dengannya kau bicara padaku, mengetuk pintu hatiku untuk kedua kalinya, tiba-tiba terselip nama lain di sana. Perih, sungguh perih. Luka kemarin bahkan belum kering sempurna.” Aku menahan sesak sejenak dalam dala. Aku berusaha melakukan sesuatu demi masa depan dan impian cinta dengannya. Malah berarti yang lain. Aku hanya mencoba bersabar untuk diam. Namun SMS selanjutnya hadir lagi:

“Kau tahu kenapa aku begini? Itu karena kau begitu mudah dicintai, sedang aku tak punya apapun untuk ditawarkan atar kau tidak pergi bersama mereka yang mencintaimu!” Sungguh, aku kian terpukul. Nyeri yang hadir terasa pilu dan mengacaukan seluruh syaraf otak. Aku jadi takut untuk bicara. Takut kian menyakitinya.

Kemudian, dalam diamku, beberapa menit kamudian, dering sms bunyi lagi. Tentu darinya, dari cintaku yang dihantam batu cemburu dau tertampar rasa takut untuk kehilangan, atau entah rasa apalagi yang sedang mencekik prasaannya. “Terima kasih, kau pernah membuatku merasa begitu berarti,” Aku tidak berani berkesimpulan atas kalimat smsyang ringkas itu. Aku ragu. Aku kaku memaknainya. Aku semacam jadi orang dungu yang kurang paha, makna isyarat dan tanda.

 Namun aku mencoba memberi sedikit penjelasan.Entah akan diartikan seperti apalagi nanti olehnya. “Ya Tuhan, jika kau benar merasa takut untuk kehilanganku, kenapa mestibegini caranya? Apa usahaku selalu tidak benar di matamu. Demi ibu yang mendoakan kita, aku pun takut kehilanganmu,” gagal terkirim. Sedihpun memuncak. Tentu ini malam ia harus menikmati nyeri dari tusukan jarum-jarum kecil di hati dan kepalanya, atas perbuatanku yang konyol.

Baiklah, aku hanya bisa berharap sejak SMS aku gagal terkirim sebab pulsa tak terasa habis. Sempai aku juga tak bisa tertidur dan harus menikmati nyeri dengan catatan ini. Catatan yang sedang kutulis ini dan sedang kau baca ini.

Bersambung…. baca selanjutnya…. #15

Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *