PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Setiap tahun, ratusan ribu umat Muslim Indonesia menunaikan ibadah haji. Namun, menurut Menteri Haji dan Umrah, Dr. K.H. Moch Irfan Yusuf, M.Si., perjalanan ke Tanah Suci bukanlah akhir, melainkan awal dari transformasi spiritual. “Haji harus menjadi jalan menuju sukses peradaban dan keadaban,” kata Gus Irfan dalam kuliah umum di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, pekan lalu.
Gus Irfan menegaskan, semangat haji dalam sejarah Indonesia bukan sekadar ibadah personal. Para ulama dan tokoh pergerakan yang pulang dari haji kerap membawa visi kebangsaan.
Ia menyebut nama K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang menggulirkan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945; K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang mengusung pembaruan pendidikan; hingga HOS Cokroaminoto, yang usai berhaji pada 1902 menggugah semangat perlawanan kolonial.
“Sejarah perjuangan kemerdekaan kita sebagian besar disokong oleh para kiai dan ulama yang pulang dari haji. Dari sana mereka justru meningkatkan keindonesiaannya,” ujar Gus Irfan.
Karena itu, Kementerian Haji dan Umrah berencana memasukkan kurikulum kecintaan tanah air dalam manasik haji. “Artinya, setelah pulang, jamaah harus lebih cinta kepada negaranya, lebih cinta kepada Indonesia,” tambahnya.https://infohaji.tv/
Dari Penjajahan ke Korupsi
Jika dahulu para pejuang haji menentang kolonialisme, tantangan umat Islam hari ini, menurut Gus Irfan, adalah korupsi. Ia menyebut praktik rasuah sebagai “penjajah baru” yang merampas hak rakyat dan menggerogoti sendi-sendi bangsa.
Semangat haji, kata dia, harus diwujudkan dalam nilai-nilai integritas, kesederhanaan, keadilan, dan kepedulian sosial. “Menolak suap dan hidup sederhana adalah cermin dari istikamah haji,” ucapnya.
Bagi Gus Irfan, gelar haji seharusnya bukan hanya status sosial, melainkan komitmen moral untuk memerangi korupsi dan memperkuat keadaban publik. “Dengan begitu, sukses peradaban dan keadaban haji akan menyuburkan kebaikan dan memajukan Indonesia,” katanya.




