PILIHANRAKYAT.ID, BALI – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan bahwa Indonesia telah berkomitmen kuat untuk melindungi laut serta menjadi negara poros maritim dunia.
“Saya ingin kelestarian laut tetap terjaga untuk generasi-generasi mendatang,” ungkap Menteri Susi saat menjadi co-host bersama Menteri Luar Negeri Retno Lestari Marsudi pada acara perhelatan ke-5 Our Ocean Conference 2018 di Nusa Dua Convention Center, Bali pada Senin (29/10/2018) lalu.
Baca Juga:
- Menteri Susi Ajak Mahasiswa Universitas Columbia Kelola Perekonomian Laut Berkelanjutan
- Susi Pudjiastuti: Laut Tumpuan Hidup Bangsa Tengah Menghadapi Ancaman
- Empat Tahun Jadi Menteri, Susi Tenggelamkan 488 Kapal Illegal Fishing
Ia pun berharap, salah satu forum internasional terbesar dalam sektor kelautan tersebut, dapat menghasilkan komitmen dan aksi yang nyata.
“Saya ingin OOC mengirimkan pesan mengenai komitmen nyata, transparansi, dan lainnya. Semoga OOC ini dapat menjadi wadah diskusi untuk laut yang lebih produktif dan lebih baik,” kata Susi pada acara yang secara resmi dibuka oleh Presiden Joko Widodo itu.
Sebelumnya, di sela-sela kegiatan OOC, Menteri Susu melakukan pertemuan bilateral dengan Komisioner Uni Eropa (EU Commisioner for Enviroment Maritime Affairs and Fisheries ), Karmenu Vella di Ayodya Resort Bali, Minggu (28/10).
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Susi menegaskan penggunaan Fish Aggregating Devices (FAD) atau rumah ikan buatan untuk menangkap ikan (rumpon), secara masif harus dihentikan. Menteri Susi menilai keberadaan rumpon dapat mengubah ekologi perairan.
Simak:
- Susi Optimis Riau Akan Kembali Menjadi Bandar Ikan
- Menteri Susi: Indonesia Luar Biasa, Tapi Kita telah Gadaikan Kedaulatan kita
- Susi: Negeri Tanpa Kedaulatan Seperti Kita Tanpa Harga Diri
“Let them free as its nature. Karena kalau kita pengauhi dengan rumpon, yaitu mempengaruhi supaya ikan kumpul di situ untuk bisa diambil. Itu pasti mempengaruhi ekologi. The way the fish is flow is an ecologic. The way the fish is living is an ecologic,” ujarnya usai pertemuan tersebut.
Editor: Didik Hariyanto





