Jaksa KPK, Tuntut Eks Mensos Juliari Batubara 11 Tahun, Gak Jadi Seumur Hidup

- Advertisement -

PILIHANRAKYAT, Jakarta-Wacana menuntut hukuman maksimal, bahkan hukuman mati, untuk pelaku korupsi bantuan sosial (bansos) Covid-19 sebagaimana digaungkan pimpinan KPK tahun lalu hanya isapan jempol.

Buktinya, jaksa KPK hanya menuntut eks Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara dengan hukuman penjara 11 tahun. Tuntutan itu jauh dibawah hukuman maksimal dalam pasal yang didakwakan. Yakni pidana seumur hidup.Tuntutan itu dibacakan jaksa penuntut umum (JPU) KPK dihadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta pada Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat kemarin (28//7/2021)

Selain menuntut hukuman penjara, jaksa juga meminta hakim untuk menjatuhkan hukuman denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan kepada Juliari. Pun, jaksa menuntut hukuman tambahan berupa uang pengganti Rp 14,5 miliar.

Baca juga  Soal Mendikbud Nadiem, Rektor UII; Masih Banyak PR yang Harus Dikerjakan

“Menetapkan agar terdakwa membayar uang pengganti kepada negara sebesar Rp14.557.450.000 selambat-lambatnya satu bulan setelah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap,” kata jaksa KPK Ikhsan Fernandi dalam sidang tuntutan yang ditayangkan secara langsung di kanal Youtube KPK tersebut. Jaksa juga menuntut hakim agar mencabut hak politik Juliari selama 4 tahun.

Jaksa berkesimpulan Juliari terbukti menerima suap Rp 32,482 miliar dari 109 perusahaan penyedia bansos sembako Covid-19 wilayah Jabodetabek tahun 2020. Duit haram tersebut dikumpulkan oleh anak buah Juliari di Kementerian Sosial (Kemensos). Dari penerimaan itu, total uang yang sudah digunakan untuk operasional Juliari sebesar Rp 14,7 miliar.

Anak buah Juliari, yakni Matheus Joko dan Adi Wahyono, kemudian menggunakan uang tersebut untuk sejumlah kegiatan Juliari sebagai mensos maupun operasional lain di Kemensos. Diantaranya membeli ponsel, biaya tes swab, membayar makan dan minum, membeli sepeda Brompton, membayar honor artis Cita Citata, membayar hewan kurban hingga menyewa pesawat jet pribadi.

Baca juga  Bertajuk 'Kampus Merdeka', Nadiem Makarim Luncurkan 4 Kebijakan Baru, Apa Saja?
Baca juga  Belajar Sabar Penyintas Gempa Palu-Donggala, Nurul Sang Pahlawan

Dalam analisis yuridis, jaksa berpendapat bahwa dakwaan yang paling tepat dibuktikan kepada Juliari adalah dakwaan kesatu pasal 12 huruf b juncto pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto pasal 64 ayat (1) KUHP. Dalam dakwaan itu, sejatinya ancaman hukuman maksimal yang dapat dijatuhkan kepada terdakwa adalah pidana penjara seumur hidup.

(RED/PR.ID)

- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

Tekan Perpres No 82, Menag Yaqud: Ini Bukti Kehadiran Pemerintah

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta- Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meneken Peraturan Presiden No 82 Tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan...

PCNU Jakarta Pusat Bentuk Pencak Silat NU Pagar Nusa di Masjid Istiqlal

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Jakarta Pusat, secara resmi mengukuhkan anggota pencak silat NU Pagar...

PT. Cipta Makmur Sentausa rutin Ekspor Bawang Merah keThailand

PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo – Komoditas bawang merah asal Kabupaten Probolinggo patut diberi apresiasi oleh pemerintah baik pemerintah daerah...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Nestapa Papua dan Konflik yang Berlanjut

“Mata saya memang tidak bisa melihat, tapi hati saya merasakan air mata dan penderitaan  orang Papua. Maka dari itu wahai orang Papua, hari ini kukembalikan...