PILIHANRAKYAT.ID, Surabaya-Sekretaris Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jawa Timur, Abdur Razak, mengecam keras aksi penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Peristiwa itu terjadi di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, pada 12–13 Maret 2026.
Razak menilai serangan tersebut tidak sekadar kekerasan fisik terhadap individu, melainkan ancaman serius bagi kehidupan demokrasi. Menurut dia, luka bakar sekitar 24 persen yang dialami Andrie Yunus menjadi simbol rapuhnya ruang kebebasan sipil di Indonesia.
Dalam keterangan tertulisnya di Surabaya, Razak mengatakan pola kekerasan terhadap aktivis hak asasi manusia kerap muncul ketika mereka vokal mengkritik kebijakan negara. Ia menyinggung sikap Andrie yang belakangan aktif menyuarakan penolakan terhadap rencana revisi Undang-Undang TNI.
“Tindakan penyiraman air keras ini merupakan cara pengecut untuk membungkam kritik. Ini bukan hanya serangan terhadap individu, tetapi juga upaya menebar ketakutan di kalangan masyarakat sipil,” kata Razak.
Ia menegaskan kader PMII di Jawa Timur menyatakan solidaritas terhadap Andrie Yunus. Menurut Razak, intimidasi fisik tidak boleh memadamkan keberanian aktivis dalam menyuarakan kebenaran.
Razak juga mendesak aparat kepolisian segera mengusut tuntas kasus tersebut. Ia meminta Polda Metro Jaya bekerja cepat dan transparan untuk mengungkap pelaku serta kemungkinan adanya aktor intelektual di balik serangan tersebut.
“Jika pelaku dan dalangnya tidak segera diadili, kepercayaan publik terhadap penegakan hukum bisa runtuh,” ujarnya.
Razak turut mengajak mahasiswa dan masyarakat sipil untuk tetap bersuara dan tidak gentar menghadapi intimidasi. Menurut dia, upaya membungkam satu suara kritik justru dapat memunculkan solidaritas yang lebih luas di kalangan gerakan sipil.




