Kau Pantai Putih (Sajak-Sajak Kamil Dayasawa)

Pantai Putih (foto: pixabay)
Pantai Putih (foto: pixabay)

Rumah Kecil, Gamping

Di gardu bambu tanpa tirai, kau duduk bersandar
Lenganmu legam semerbak garam
Cahaya remang lampu kuning jatuh di pangkuan
Bagai Kalijaga, mengamati surut-pasang hilir sungai

Aku memandang ke dalam dadamu: sebuah lapangan terbuka
Anak-anak bermain sepakbola di bawah lecutan petir dan hujan
Sepasang matanya tiba-tiba pecah ketika langit bertambah basah
Bulan bagai perawan baru mekar, tersipu sendiri dicium bintang

“Bila banyak penyair memuja bunga dan bulan
Aku memilih jatuh cinta pada diam,” ucapmu tenang.

Seribu bahasa tak bisa mengungkap rahasia
Tapi satu rasa sanggup memberi makna
Seperti kupu-kupu yang datang malam hari
Terbang lewat jendela dan hinggap di sisi lemari

Begitulah akhirnya aku mengerti,
Kau bukan puisi atau sebungkus nasi
Laut Legung mengajarimu arung
Walau terkepung tetap terdengar detak jantung

Baca juga  Resmi, Pelantikan Kepala Daerah 20 Februari, Ini Perpresnya

Marwah kesunyian tak bisa ditangkap muka pintu
Sabda arwah bukan kerlipan lelatu
Rumah kayu kecil dan tua, saksi bisu
Rumput halaman akan terus menjulang

-meski angin terus menggoyang

/Yogyakarta, 2015

Sebuah Nyanyian

Kau tahu aku bukan anak sulung gelombang
Perahuku karam jauh di laut kenangan
Sauh dan jangkar terserak di dasar
Rindu debar jadi mawar

Setelah angin tenggara
Membangun menara pasir
Kau dan aku berdekapan
Saling menghirup bau tubuh masing-masing
Sebelum air yang asin menggarami
Jejak kita yang terakhir

Kita berpisah menuju ruang yang bukan kematian:
Sebuah gurun tak berpasir
Hutan tak berpohon
Gunung tanpa api

Tempat segala yang berarti tinggal ilusi:
Padang tanpa musim semi
Hujan dan kemarau tak dikenal lagi

/Yogyakarta, 2015

Kau Pantai Putih

Baca juga  Dialog Kota

Kau pantai putih tempat lokan menahan perih
Gunung ombak berkejaran, mendekat
Padamu
Segala resah laut mengadu

Misalkan nelayan kepada perahu
Sepanjang waktu terus bersatu
Ingin kudekap kau selalu
Hingga angin pun tahu
Tak ada rahang lebih putih dari rongga karang

Bukankah telah kau saksikan
Seorang pelayar tenggelam di samudera jauh
Jiwanya yang muda menyatu dengan ikan
Camar terbang di atasnya
Melantunkan kalimat-kalimat talqin
Sedang layar putih timbul tenggelam
Diseret gunung gelombang

Pernahkah kau bayangkan
Aku pulau kecil tak berpenghuni
Menanti desau suaramu
Datang dari negeri seribu lampu

Misalkan nelayan kepada perahu
Sepanjang waktu terus bersatu
Ingin kutembangkan sebuah lagu
Dengarkanlah, sebelum aku tidur dan mimpi basah

Dan cintaku yang lemah habis dikikis badai
-badai dari lembah purbakala

/Yogyakarta, 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *