Kamis/Jum’at, 14/15 Juni 2012 / 23:03
Kebun Laras, “kamu lagi, lagi-lagi kamu di warung kopi,” sapa seorang kawan yang kukenal dengan pertemuan yang jarang dan percakapan yang pura-pura serius. Kawan yang memiliki aktifitas perfilman kampus. Aku senang bisa berkawan dengannya karena berteman dengan siapapun adalah kesenanganmu. Perjumpaan denganmu pun diawali dengan percakapan-percakapan kaku. Mungkin itu hal wajar dan bisa terjasi setiap orang. Sampai rasa suka dan senang tumbuh di hatiku. Sebagaimana aku menulis vatatan ini, berawal dari rasa ingin yang biasa menjadi kebiasaan yang menyiksa. Ya, aku harus menulis terus menulis terus menerus. Menuliskan keadaan, walau di sini tak sanngup aku menguasainya. Karena inilah keterbatasanku yang selalu aku maklumi.
Hari sudah malam, orang-orang kopi kian riang menghibur diri dengan teriakan demi teriakan menyoraki tim jagoannya di piala EURO 2012. Aku suka nonton permainan apapun itu. Sebab setiap permainan ada strategi yang tersimpan. Aku senang mengira-ngira strategi yang diuji coba di lapangan, sepak bola misalnya. Walalu pun mungkin aku termasuk orang yang stress. Seperti kata seorang teman: salah satu ciri orang stress, pura-pura suka nonton bola.
“Mengisi waktu kosong,” anggap saja demikian. Bukan kemudiab menjadi orang stress. Aku hanya senang menertawakan keadaan di luar atau aku lupa kalau sebenarnya aku sedang tertawa untuk kelucuan-kelucuan diri sendiri yang sering jadi sumber tawa bahak do orang-orang. Atau jangan-jangan aku memang sudah sungguh stress karena telah memikirkan cintaku padamu. Bisa jadi itu benar, ini terjadi saat keputusan itu kita sepakati. Ditambah lagi oleh persoalan-persoalan klasik dalam proses aktivisme gerakan yang hanya tumpah pecah di warung-warung kopi. Pun cintaku ada benar di sini.
![]() |
| Sketsa Mujibur Rohman “Adam dan Hawa” |
Karenamu, aku bertahan kuat di sini. Bukan tanpa sebab dan tujuan. Bukan pula untuk melupakan segala impian dan cita-cita di mula asal. Sejak belum mngenal-mencintaimu. Namun itulah adanya cintaku padamu, cinta yang luhur yang meluruhkan segala ketegangan dan ketakutan dalam perjalananku. Mungkin dalam beberapa tahun ini aku selalu acuh tak acuh akan tugas dan kewajiban sebagai seorang hamba Tuhan. Tetapi, aku tak menyalahkan cinta ini yang subur hanya padamu, melainkan hanya penyakit malasku yang terlampau parah. Cintaku, Bersabarlah dulu, aku akan menceritakan banyak hal pada semua orang tentang cintaku padamu.
***
Sabtu, 16 Juni 2012/ 11:36
“Selamat pagi, La Noche!” Kuucap salam pagi ini kepadMu La Noche. Aku tidak tahu kenapa, pagi ini aku terbangun dari tidur dengan kejutan. Kufang lebih satu jam setengah aku tertidur di atas kasur dalam selimut. Aku kaget. Terbangun tanpa mimpi butuk dan bukan pula mimpi indah. Ada yang lain pagi ini. Terada asing hadirnya. Pantas aku terjaga dengan tenang dan penuh ketegaran. Meski tanpa harus kuketahui isayarat dan tanda.
Sebentar, aku ingat sesuatu, dalam kagetku saat mata terbuka, telingaku mendengar pintu kamar mandi terbuka dengan keras dan semacam ada yang mencet sakelar. Mesin air berhenti berdering. Hening. Sepi merayap ke sekujur tubuhku. Aku mencoba meringkuk, membenarkan selimut. Lalu berpejam mata.
Tiga puluh menit kemudian kira-kira, menurut hitungan jam di layar handphone. Mataku terbuka kembali. Lantas aku merasa tak punya alasan lelah untuk tidur kembali, bukan pula sebab ada rasa takut oleh mimpi buruk. Rasanya yang hadir dan yang asing meminta tubuhku untuk bangkit. Aku lihat jam di layar handphone yang kupasang alarm: 09:30.menunjukkan pukul 06:00. Aku bangkit, lalu menuju ruang tamh dan keluar pintu.
Udara masih dingin. Aku merSakannya lain dari pagi sebelumnya, seolah ada tiupan dari yang entah. Di luar pintu sejenak aku pandangi sekitar. Daun-daun hening dalam diam bersama batang pohon, dahan, dan reranting. Seperti biasa, setiap sebangun tidur, aku menemui Pablo (anjing piaraan di rumah SUKAB) walau hanya sekedar menyapa dati jarak jangkau.
Sebelum sempat menyentuhnya, aku kembali masuk rumah. Ke kamar mandi, buang air kecil, vuci muka. Dingin air mengangkat semangat pagiku yang lama tak kurasakan. Lalu menuju kamar, ganti pakaian, kemudian menyulut rokok. Setekah utu pergi menemui La Noche di kontrakan sahabat kRib. Pagi-pagi ku jalan kaki dengan tenang dan damai, melewati rel yang membujur dari timur ke barat, batu-batu kecil terasa menggelayuti telapak sandalku. Aku terus berjalan sambil membingarkan pandangan ke samping kanan dan ke kiri menuruti kehendak ingin mencari rumput buat oleh-oleh pada La Noche yang baru berusi tiga hari.
Segenggam bayam terasa segar di tangan kiri. Aku senang dan girang. Terasa La Noche akan cepat berteman denganku. Benar, aku damai pagi ini. Mungkin La Noche yang membangunkanku.
Selain La Noche ada yang lain pula, semacam bisik kecik yang samar di telinga batinku. Entah itu suara dari bibir cintaku yang sedang dilandavcemburu agau dari lidah kenangan yang tengah terengah-engah dalam angan. Aku jadi ingat impian yang juga selalu mencipta renung di masing-masing orang dan mungkin di insting La Noche dan Pablo.
Takdir sudah sebegitu adanya. Sudah benar nyatanya. Setiap binatang yang jinak dan liar sama-sama tak berakal hanya mempunyai insting. Itu sebabnya aku mau banyak belajar dari binatang. Dengan insting barangkali aku bisa kebih peka akan hasrat dan lingkaran dalam diri.
Aku suka memelihara binatang. Aku mencintaiku dengan cintamu dan karena perhatianku pada binatang. Aku suk memeluk, mengelus bulu-bulu Pablo, yang kata cintaku, nasibnya sudah dinajiskan sejak lahir. Aku pun tidak kurang perhatian pafa Godam (kucing kuning) yang cintaku memanggilnya koneng, aku suka memanggilnya koning dari pada godam. Sebab terasa manis terfengar dari bibir cintaku.
Pagi ini, perjatianku tertuju pada piaraanku dan cintaku, dia itu La Noche, dia masih bayi, masih menyusu pada pada induknya. Aku sudah jatuh cinta sejak ia dalam kandungan.
Lagi, catatan ini tetwarnai oleh kata cinta-cinta yang tak pernah aku lupakan setiap waktu. Cinta yang meyakinkanku pada setiap kehendak dan keyakinan rasa ingin. Aku peduli pada sesama karena cinta. Sebagaimana sejarah yang berputar oleh karena cinta. Cinta yang mencetuskan setiap perjanjian dan persaksian. Cinta yang melahirkan peperangan. Cinta yang membuat peradaban dan kebudayaan manusia ini ada.
Begini sudah adaku kini, menjadi pengasuh La Noche. Menjadi lelaki pencinta kenangan dan impian bersama cintaku yang juga entah. Tetapi keyakinan ini tak akan dapat bergeset setipis rambutku oleh cerita-cerita yang tumbuh sejak zaman antah berantah. Aku mencintai diroku karena cintaky padamu. Aku mengSihi dieiku sendiri sebab kSihmu yang mujur. Aku mengamini hadir hidupku karena takdir dan kehendak Tuhan. Aku menjadi begini karena iman pada Tuhan. Ya, Tuhan yang menjadikan semua ini ada. Menjadikan yang ada dengan kefanaan. Itulah hidup yang seutuhnya. Aku kini sudah mengalir sebagai air yang bearus besar, mencari muara, bersama ikan-ikan penuh warna, dengan batu-batu cadas dan sampah. Tuhan, aku ingin istirah dalam cintamu.
Bersambung…. baca selanjutnya…. #11
Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.


