KISAH KIAS KRISTUS
Seorang mempunyai 100 domba,
Seekor hilang, lalu ia pergi mencari,
Turun gunung, naik gunung negeri,
Domba 99 tinggal, tak punya gembala.
Di sebuah ngarai menguak domba hilang,
Terjepit di antara semak-semak berduri,
Si gembala turun, mengambil si malang,
Digendongnya, seperti menggendong bayi.
Ia pun berpesta, mengundang teman-teman,
Orang datang, tapi semua pada heran,
Bisik orang meninggalkan 99 domba,
Mencari seekor yang tak tentu rimbanya.
Berkata tuan rumah: Kamu kuundang
Bergembira di rumah saya, oleh karena
Dombaku yang hilang telah jumpa!
Tapi aku tahu, kamu semua tercengang.
Bahwa aku meninggalkan yang 99,
Mencari seekor di ladang dan hutan,
Sesungguhnyalah aku lebih bahagia,
Karena seekor ini telah jumpa,
Karena yang satu ini telah tersesat,
Sekarang bersama yang lain selamat!
CHATEDRALE DE CHARTRES
Akan bicarakah Ia di malam sepi
Kala salju jatuh dan burung putih-putih
Sekali-sekali ingin menyerah hati
Dalam lindungan sembahyang bersih
Ah, Tuhan, tak bisa kita lagi bertemu
Dalam doa bersama kumpulan umat
Ini kubawa cinta di mata kekasih kelu
Tiada terpisah hidup dari kiamat
Menangis ia tersedu di hari Paskah
Ketika kami ziarah di Chartres di gereja
Doanya kuyu di warna kaca basah
Kristus telah disalib manusia habis kata
Ketika malam itu sebebelum ayam berkokok
Dan penduduk Chartres meninggalkan kermis
TErsedu ia dalam daunan malam rontok
Mengembara ingatan di hujan gerimis
Pada ibu, isteri, anak serta Isa
Hati tersibak antara zinah dan setia
Kasihku satu, Tuhannya satu
Hidup dan kiamat bersatu padu
Demikianlah kisah cinta kami
yang bermula di pekan kembang
Di pagi buta sekitar Notre Dame de Paris
Di musim bunga dan mata remang
Demikianlah kisah kisah hari Pasah
Ketika seluruh alam diburu resah
Oleh goda, zinah, cinta dan kota
Karena dia, aku dan siteri yang setia
Maka malam itu di ranjang penginapan
Terbawa kesucian nyanyi gereja kepercayaan
BErsatu kutuk nafsu dan rahmat Tuhan
Lamabaian cinta setia dan pelukan perempuan
…..Demikianlah
…..Cerita Pasah
…..Ketika tanah basah
…..Air mata resah
…..Dan bunga-bunga merekah
…..Di bumi Perancis
…..Di bumi manis
…..Ketika Kristus disalibkan
1953
KRISTUS DI MEDAN PERANG
Ia menyeret diri dalam lumpur
mengutuk dan melihat langit gugur
Jenderal pemberontak segala zaman,
Kuasa mutlak terbayang di angan!
Tapi langit ditinggalkan merah,
pedang patah di sisi berdarah,
Tapi mimpi selalu menghadang,
Akan sampai di ujung: Menang!
Sekeliling hanya reruntuhan.
Jauh manusia serta ratapan,
Dan di hati tersimpan dalam:
Sekali ‘kan dapat balas dendam!
Saat bumi olehnya diadili,
dirombak dan dihanguskan,
Seperti Cartago, habis dihancurkan,
dibajak lalu tandus digarami.
Tumpasnya hukum lama,
Menjelmanya hukum Baru,
Ia, yang takkan kenal ampun,
Penegak Kuasa seribu tahun!
1955
Sitor Situmorang lahir di Harianboho, Samosir, 2 Oktober 1923. Bekerja sebagai wartawan, menulis esai, kritik, sajak dan cerita pendek. Ketika aksi militer II pernah ditawan Belanda di Wirogunan, Yogya. Tahun 1950 mulai berkelana ke Eropa, mula-mula Belanda, kemudian Paris. Juga sempat studi film dan drama di Amerika Serikat tahun 1956-1957. Kumpulan puisinya: Surat Kertas Hijau (1954), Dalam Sajak (1955), Wajah tak Bernama (1956), Zaman Baru (1962), Dinding Waktu (1976), Peta perjalanan (1977), dan Angin Danau (1982). Kumpulan cerpen: Pertempuran dan Salju di Paris (1956), Pangeran (1963), dan Danau Toba (1981). Kumpulan drama: Jalan Mutiara (1954).
Lahir 21 Oktober 1924 di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Pendidikannya: HIS di Balige dan Sibolga, MULO di Tarutung, dan AMS di Jakarta. Ia memperdalam studi sinematografi di Los Angeles, California, Amerika Serikat (1956-1957). Bermukim di Singapura (1942), Amsterdam (1950-1951), Paris (1952-1953). Sejak 1984 dia tinggal di Leiden dan Den Haag, Belanda.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, dia menjadi wartawan Suara Nasional (1945), Waspada (1947), Berita Nasional, dan Warta Dunia. Dia pun pernah menjadi pegawai Jawatan Kebudayaan Departermen P&K, dosen Akademi Teater Nasional Indonesia, ketua Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia (1959-1965), anggota Dewan Nasional, anggota Dewan Perancang Nasonal, anggota MPRS, dan anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan Departermen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (1961-1962).
Bukunya yang sudah terbit: Pertempuran dan Salju di Paris (1956) kumpulan cerita pendek; mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN untuk prosa yang terbit tahun 1955-1956. Peta Perjalanan (1976) kumpulan sajak; mendapat Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta tahun 1978 untuk buku puisi yang terbit tahun 1976-1977.
Sitor menulis puisi, cerita pendek, esei, lakon dan menerjemahkan beberapa karya sastra asing. Dia pun menulis puisi dalam bahasa asing.
Bukunya yang lain: Surat Kertas Hijau (1954), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1956), Zaman Baru (1962), Dinding Waktu (1976), Angin Danau (1982), Jalan Mutiara (1954), Pangeran (1963), Sastra Revolusioner (1965), Sitor Situmorang Seorang Sastrawan ’45 Penyair Danau Toba (1982), Danau Toba (1982), dan Pertempuran dan Salju di Paris (1956).
Sumber: jendelasastra.com | kepadapuisi
Editor: Dian Danastry





