Puisi Pilihan Karya M. Choirudin | Aku dan Enam Lainnya | Kau Yang Bertahta di Puncak Himalaya | Roman Secangkir Sukop

Aku dan Enam Lainnya 

Panas tengah hari semakin memuncak diatas mahkota
Menghasilkan sebuah kemalasan bercampur dalam satu komposisi

Disini tak sama saat ku berada kemarin
Dalam tembok-tembok kesunyian
Di bawah atap-atap keilmuan

Aku dan enam lainnya berpencar mencari arti dan misteri
Ada yang metropolitan,
Ada yang dekat pelabuhan
Ada yang negara hadiningrat,
Ada yang pulang ke rahim tanah kelahiran

Sketsa Mujibur Rohman “Fokus”

Aku dan enam lainnya menapaki jalan panjang
Dia batavia, aku jogja
Dia semarang, Dia magetan
Dia tasik, Dia magelang
Walau masih ada yang terdiam dalam lamunan impian

Aku dan enam lainnya mengembara dalam buaian harapan dan impian
Kelak ‘tuk menjadi orang yang disebut orang sebagai orang
Bukan orang yang menjadi orang dalam manuskrip kehidupan

Aku dan enam lainnya tak sama
Karena aku bukanlah mereka dan mereka bukanlah diriku
Tapi aku dan enam lainnya sempat sama
Saat masih bersama dalam suatu masa

Saat tertawa bersama dalam satu dekapan jiwa

Kini, aku dan enam lainnya ‘kan bertemu, dalam ruang dan waktu
Saat matahari merubah hari
Untuk menceritakan kembali masa kita tempo hari

Yogyakarta, 2012

Kau Yang Bertahta di Puncak Himalaya 
                                  :Dewi 

Kata yang muncul tiba-tiba dalam kesekian kali

Dalam kesesakan rindu menghimpit hati
Memberi gemetar perasaan seakan tubuhku dilanda gempa
Senyum yang engkau lukis dipipi tercermin dimataku
Alunan nada suaramu mengalir damai dalam sukmaku

Baca juga  Tabik Bagi Jokowi

“ya Allah, ada apa dalam hatiku?”
Mencoba memahami dalam diam, terbisik suara hati;
                                    “ini cinta, bujang!”

Aku sadar antara aku dan kamu adalah perbedaan dunia
Sosokmu yang dibalut keindahan taqwa nuansa agama
Lantas diriku masih jauh dari alur syurga

Engkau adalah segenap komposisi keindahan mimpi
Harapan masa depan untuk merubah hidupku
Namun semuanya macet di kerongkongan
Karena,
memilikimu adalah pemikiran tak berujung diotakku,
melambai tangan pada awan bisu,
dan kefanaan yang tanpa titik akhir

Perdebatan yang selalu menderu dihatiku
Tentang arti setiap apa-apa yang muncul dalam mendeskripsikanmu
Menjadi sosok yang bertahta diatas Himalaya
Segumpal pengertian abstrak, bernama cinta

Cintaku padamu sebatas harapan yang terhalang tulang rusuk dadaku
Impian yang tak dapat tervisualisasikan
Namun aku berharap keberuntungan selalu berpihak padaku
dan tuhan membaca suara hati yang aku lantunkan saban sepertiga malam

Malam ini tiada nampak kedipan bintang
juga senyum rembulan
Sehingga diriku merasa tak ada yang indah kecuali yang saat ini
di dalam hatiku, didalam pikiranku
adalah engkau wahai dewi
Dan kini saatnya terdengar suara hatiku dalam telingamu
bahwa,
memlikimu yang halal adalah sebagian cita-citaku

Yogyakarta, 14 Mei 2012

Roman Secangkir Sukop 

Bersamamu tempo dulu, kini tak lagi dapat kurasa
Cerita romansa telah berlalu,
Bersama kenangan indah disetiap detik-detik yang kita petik bersama
Malam-malam itu kita selalu bercengkarama tentang cinta
Antara hatiku juga kecintaanku padamu
Juga engkau dengan perasaan yang selalu tampak bersama kemunafikan

Baca juga  Kau Hariku

Kau hadir dikala purnama belum waktu menampakkan dilangit malam
Namun kau pergi ketika hati berkali-kali tersayat pisau-pisau kejam
Sekali waktu keindahan berubah menjadi duri-duri tajam
Tapi tak jarang juga menjelma menjadi purnama berpusar di rasi-rasi bintang

Langit semakin pekat
Dingin mengeroyok kulitku
Tembus juga ditulangku
Namun langkahku tak henti bertamasya dikegelapan malam
Bersamamu

Tegukan demi tegukan sukop melumasi tenggorokan
Terdiam dikeheningan
Diatas mahkota kepala berkerumun rasi bintang tak beraturan A
sap-asap rokok itu berputar, berkejaran dengan angin
Nyanyian jangkrik menderu-deru kuping
Remang-remang lampu menghiasi cakrawala malam
Suara gitar tak lagi merdu
Kartu poker tak lagi bertampar lantai
Kantuk menyambar
Secangkir sukop membangkang
Namun gagal menjadi pemenang

Disini tak ramai pun tak hening: sedang saja
Karena kau selalu hadir dipikiranku
yang selalu menyusun kata tentangmu, wanita

Yogyakarta, 2012

Biodata Singkat Penulis 

M. Choirudin, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis cerpen dan puisi. Beberapa puisinya termaktub di beberapa antologi bersama. Kini aktif berdikusi di beberapa komunitas sastra di Yogyakarta seperti Komunitas Rudal, Komunitas Panjang Umur, dan komunitas Vaspa Indonsia. Ia suka pelang pergi antara Jogja-Magelang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *