Rekonstruksi Novel Baswedan Harus Terbuka

- Advertisement -

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Suasana rekonstruksi kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Jumat, 7 Januari 2020. Polisi sempat meminta para wartawan yang ada di sekitar rumah Novel untuk tidak terlalu dekat dengan proses Rekonstruksi.

Hal itu langsung dibantah oleh Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menilai proses rekonstruksi kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan seharusnya dilakukan secara terbuka.

“Kenapa? Karena rekonstruksi itu bukan alat bukti dan hanya mengkonfirmasi alat alat bukti yang sudah didapat, apakah itu keterangan saksi, keterangan ahli, surat dan keterangan tersangka. Dengan merangkaikan alat-alat bukti itu, penyidik bisa mendapatkan alat bukti petunjuk,” kata Fickar saat dihubungi pada Senin, 10 Februari 2020.

Baca juga  7 Artis Berikut Ini Alami Baby Blues Sindrom, Yang Nomer 6 Hampir Buang Anak

Selain itu, kata Fickar, keterbukaan proses rekonstruksi dimaksudkan agar semua pihak, termasuk kuasa hukum tersangka atau saksi, bisa ikut mendampingi.

Rekonstruksi kasus penyerangan terhadap Novel yang digelar pada 7 Februari 2020 itu dilakukan secara tertutup oleh kepolisian. Jurnalis yang ada di sekitar lokasi dilarang untuk meliput. Polisi menyatakan rekonstruksi digelar tertutup agar tidak mengganggu berjalannya proses tersebut.

Menurut Fickar, proses rekonstruksi secara tertutup memunculkan potensi terjadinya kesewenang-wenangan penyidik terhadap pihak yang terlibat.

Baca juga  Timnas Indonesia Dibantai 0-3 Oleh Thailand, Ternyata Ini Penyebabnya
Baca juga  IKASUKA Sumenep Konsolidasikan Pertemuan Alumni Milenial

“Secara subjektif penyidik merasa publik akan mengetahui detail peristiwa pidananya, tapi pandangan ini sering tidak konsisten. Biasanya dalam kasus-kasus pidana biasa, yang tidak ada kepentingan politisnya, rekonstruksi dibuka seluas luasnya,” kata Fickar.

Novel Baswedan disiram dengan air keras pada 11 April 2017 di dekat rumahnya setelah menunaikan salat subuh di masjid. Polisi menetapkan dua personel polisi aktif sebagai tersangka. Mereka adalah Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette. Menurut mereka, penyiraman air keras itu dilakukan karena marah terhadap Novel yang dianggap sebagai penghianat. (Rifa’i/PR.ID)

- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

Bocil Top Up Voucher Game Online 800 RB; KPAI Serukan Lindungi Anak Dari Pengaruh Game Online

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Di media sosial (medsos) viral video diduga orang tua sedang memarahi kasir minimarket Indomaret karena anaknya...

Serangan Hamas Tewaskan 2 Warga Israel; PM Israel Murka

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Saling serang antara Israel dan kelompok Hamas di Gaza kian intens. Gempuran roket yang ditembakkan Hamas...

Kaukus Muda PPP: Penyerangan di Masjid Al Aqsha adalah Bentuk Kekejaman Negara Apartheid Israel

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Wakil Koordinator Nasional Kaukus Muda PPP Aas Subarkah mengutuk keras aksi pengusiran paksa warga Palestina di...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

20 Besar Seyembara Buku Puisi HPI 2018

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Hari Puisi (YHP) Maman S. Mahayana mewakili Dewan Juri yang lain hadir pada bincang-bincang Hari Puisi yakni Abdul Hadi...