Romantisme Cinta Segi Tiga; antara Teks,Penulis, dan Pembaca

cinta segi tiga (Foto: aliransket)
cinta segi tiga (Foto: aliransket)

Ahmad Faidi
(Nelayan di Samudera-Nya)

Kajian tentang teks, dapat dipastikan selalu berkelindan dalam tema“posisi teks” di antara penulis dan pembaca. Begitu banyak pakar bahasa, dengan berbagai macam teori dan perspektif, telah mencoba mendefinisikan posisi teks; terutama kaitannya dengan jalinan cinta segitiga antara teks, penulis, dan pembaca. Meski demikian, kajian-kajian teks yang telah dilakukan—tanpa berniat untuk mendiskreditkan upaya-upaya serius yang telah dilakukan oleh para pakar bahasa—ternyata belum mampu menyibak kemisteriusan teks secara gamblang. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar sekaligus “pelik” yang belum mampu terjawab. Sehingga, dunia literasi atau teks sampai sejauh masih menjadi ruang-ruang misteri yang tak pernah habis untuk ditelusuri.

Salah satu pertanyaan dasar terkait “posisi teks” yang cukup populer skaligus masih misterius di kalangan para pengkaji bahasa adalah; apakah teks itu “bebas” atau “terikat”?Pendapat yang pertama menekankan bahwa “teks” itu merupakan sebuah karya yang hidup dan bebas. Setelah teks itu dicipta, maka dia akan hidup merdeka dari penulisnya. Dalam pendapat yang pertama ini teks diposisikan sebagai makhluk hidup yang akan berkembang pesat secara bebas di tengah-tengah rimba “perspektif” yang ada di kepala para pembacanya. Teks itu akan hidup dan berkembang biak sesuai dengan konteks pembaca yang begitu beragam. Kondisi semacam inilah yang menjadikan sebagian pakar, teurtama pakar sastra modern di Amerika, lebih sepakat bahwa teks itu “merdeka” dan “bebas.” Menurut mereka, untuk menelusuri sebuah teks tidak boleh dibayang-bayangi oleh “kehadiran” penulis di dalamnya. Bacalah teks itu sebagai “murni” teks dan bukan teks sebagai “karya” sang penulis.

Sedangkan pendapat yang kedua menyatakan bahwa “teks” itu tidak dapat dilepaskan dari penulis dengan berbagai latar yang melingkupinya. Setiap penulis, khususnya dalam membuat teks, pasti didorong oleh keberadaan dua faktor; internal dan eksternal. Faktor internal yang dimaksudkan di sini adalan konteks pemikiran dan suasana batin kedirian penulis. Sedangkan faktor eksternal bagi penulis adalah dorongan yang datang dari ruang-lingkup sosial yang mengitari penulis. Tentu, keberadaan dua faktor dominan ini tidak dapat dinisbikan begitu saja dalam proses pembentukan sebuah teks. Secara tidak langsung pendapat ini mengatakan bahwa lahirnya sebuah “teks” pastilah dilatarbelakangi oleh adanya “maksud” dan “tujuan” yang ingin dicapai oleh penulis. Dalam konteks inilah maka para pakar bahasa di era postmodern ini bersepakat menyatakan bahwa “teks” itu tidak independen.

Tentu, kedua pendapat tersebut sama-sama benarnya dan sama-sama realistisnya. Setiap teks itu pasti lahir dari “keinginan” penulis yang didukung pula oleh jiwa zaman yang mengitarinya. Pada sisi yang lain, teks yang telah tercipta tersebut berkembang sesuai dengan “keinginan” pembaca. Dalam konteks yang kedua ini, sebagian besar teks yang telah lahir dari keinginan dan jiwa zaman tertentu akan dicerabuti dari masa lalunya dan akan dikontekstualisasikan sesuai dengan keinginan pembaca. Sehingga, hal-hal dasar yang tersisa dari masa lalunya hanyalah sebatas bentuk-bentuk formal belaka.

Terlepas dari hal itu, kamus Besar Indonesia mengartikan literasi sebagai kemampuan menulis dan membaca serta kemampuan mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Oleh karena itu, literasi dapat dikatakan sebagaikemampuan dasar manusia yang merepresentasi keutamaannya sebagai makhluk yang “berakal.” Dengan kata lain, kemampuan literasi dapat dikatakan sebagai “setempel” ke-manusiaan-nya. Tanpa kemampuan literasi, manusia tidak ubahnya seperti makhluk-makhluk lainnya yang tidak berakal; artinya tidak bisa menulis dan membaca, serta tidak mampu mengolah realitas di sekitarnya menjadi kristal-kristal pengetahuan.

Dengan kemampuan literasi, manusia tidak hanya mampu mengolah pengetahuan untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat dibagikan dengan manusia-manusiadi luar zamannya. Dalam konteks inilah, teks menjadi sarana komunikasi, sarana tukar-menukar pengetahuan, serta sarana pewarisan tradisi pengetahuan. Bayangkan saja, karena kemampuan literasi itulah hingga saat ini kita masih bisa mempelajari kajian-kajian filsafat Plato, Socrates, dan Aristoteles yang telah wafat sejak ribuan tahun yang lalu.

Baca juga  20 April, Pimpinan Nazi Lahir.

Teks sebagai “Karya”

Tentu, sebuah teks tidaklangsung jatuh dari langit atau tumbuh begitu saja dari tanah. Tetapi teks itu diciptakan untuk memenuhi keinginan dan tujuan tertentu yang ingin dicapai sang penulis; baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Sehingga, teks tidaklah independen sebagaimana yang diungkapkan oleh para kritikus sastra Amerika pada tahun 40-an. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam posisi ini teks dapat dimaknai sebagai “objek” yang diciptakan sang subjek (penulis). Karena itu, wacana yang diusung oleh sebuah teks pasti tidak akan jauh dari pola pikir dan kepribadian, serta maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh sang penulis. Gampangnya, teks dicipta sesuai dengan keinginan dan tujuan penulis.
Dalam menggambarkan proses “penciptaan” teks (baca: menulis), beberapa sastrawan senior Indonesia memberikan definisi yang saling berbeda antara satu sama lain. Beberapa definisi di antaranya adalah adalah ;

Stephen King
“Menulis berarti menciptakan duniamu sendiri”

Seno Gumira Aidarma
“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.”

Pramodya Ananta Toer
“Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Goenawan Mohamad
“Menulis adalah proses yang minta pengerahan batin, proses yang berjerih payah dan bukan sekadar soal keterampilan teknik.”

Helvy Tiana Rosa
“Menulis adalah ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru memperpanjang umurnya lagi.”

Secara garis besar, definisi-definisi di atas menunjukkan betapa kentalnya hubungan penulis dengan teks. Pengertian-pengertian tersebut di atas tentu sangat berbeda dengan cara pandang dalam tradisi akademik yang senantiasa berupaya mengambil jarak dari subjektifitas yang sifatnya “utopis.” Pada satu sisi, tradisi akademik mengupayakan “teks-teks” yang tercipta haruslah objektif. Sedangkan pada sisi yang lain, mereka tak pernah berhasil menunjukkan secara gamblang tentang “objektifitas” teks itu sendiri. Sehingga, robot “objektifitas” dalam tradisi mereka tidak lebih hanyalah sebatas subjektifitas-subjektifitas yang diakui.

Konteks ini menandakan bahwa, baik dalam tradisi akademik dan utamanya dalam dunia sastra, subjektifitas itu merupakan sebuah “kepastian”. Sehingga, tidak ada satupun teks yang terlepas seluruhnya dari subjektifitas sang penulis.Demikian juga sang penulis bukanlah subjek yang berdiri secara independen. Dia dilahirkan dan dibesarkan oleh lingkungan dan jiwa zaman. Artinya, faktor eksternal penulis memiliki peran cukup dominan, meski bukan satu-satunya, dalam membentuk karakteristik penulis yang kemudian tertuang dalam teks.

Pembaca yang “Liar”

Argumen yang menyatakan bahwa “teks itu independen dan terlepas dari sang penulis” barang kali lebih pas dikaitkan terhadap proses komunikasi antara teks dan pembaca. Sebab, sering kali, latar belakang pembaca yang berbeda-beda ternyata memiliki pengaruh yang cukup dominan bagi pembaca; terutama dalam memperlakukan teks. Setidaknya, jika dilihat dalam hal perlakuan pembaca terhadap teks, menurut hemat penulis maka pembaca dapat dibedakandalam duakriteria umum; yakni pembaca yang konsumtif dan produktif.

Pembaca yang pertama, sering kali memposisikan teks sebagai media pemenuhan kebutuhan dan keinginan pembaca. Bagi pembaca kriteria pertama ini, teks diperlakukan layaknya sebilah “pisau”; bebas untuk digunakan sebagai apa saja sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Dalam konteks ini, pemilik pisau tidak perlu tahu apa maksud dan tujuan si pembuat pisau. Sebagian besar pembaca dalam konteks ini hanya memahami pola-pola umumnya saja; bahwa produk si A biasanya lebih tajam dari produk si B, dan lain sebagainya.

Baca juga  Mendengar Kahlil Gibran Berkisah Soal Cinta

Sedangkan kriteria pembaca yang produktif adalah sosok pembaca yang menjadikan media teks sebagai proses rekonstruksi pengetahuan. Pembaca kedua ini tidak hanya memahami makna verbal yang terkandung dalam teks, tetapi juga memahami pola dan latar belakang terciptanya makna teks. Perlakuan pembaca terhadap teks dalam posisi ini lebih banyak diarahkan untuk mempelajari pola dan dinamika terbentuknya makna teks, serta mencoba menerawang maksud dan tujuan penulis melalui simbol-simbol bahasa yang disusunnya. Sehingga, melalui pembacaan teks semacam itu diharapkan pembaca mampu menyentuh “makna” teks milik sang penulisnya. Meski demikian, upaya pemahaman pembaca tipe ini tidak akan pernah tercapai. Sebab, lagi-lagi pembaca akan terhalang oleh subjektifitasnya sendiri.

Terlepas dari hal itu, pembaca dalam kriteria ini biasanya cenderung mengkonsumsi “teks lama” untuk menciptakan “teks baru.”Perlakuan semacam inilah yang menyebabkan hubungan antara penulis dan pembaca, melalui teks, selalu dinamis dan romantis;dimana tradisi ini melahirkan pola-pola pembacaan baru dengan perspektif “kebaruan” pula. Hubungan romantis ini terus bergerak secara dinamis, dan bahkan sampe pada zaman kita sekarang ini.


Generasi Milenial dan Masa Depan Taks

Ditengah-tengah hempasan tradisi “konsumtif” yang melanda masyarakat milenial kita ini, romantisme antara penulis, teks, dan pembaca menjadi serba paradoks. Di satu sisi, kemajuan teknologi informasi, memberikan angin segar bagi para pembaca. Masyarakat tidak perlu lagi beli buku atau datang ke perpustakaan untuk sekedar membaca buku. Sederhananya, teks-teks dari berbagai macam dsiplin ilmu, bahkan berbagai fasilitas mewah lainnya, dapat kita nikmati dalam sebuah genggaman (baca: smarthone). Dalam istilah generasi milenial, kondisi ini sering disebut “dunia dalam genggaman.” Sedangkan pada sisi yang lain, secara psikologis, kondisi tersebut menyebabkan generasi kita semakin terpuruk dalam lembah kemalasan. Bahkan, tradisi konsumtif telah mengungkung mereka dalam kemalasan-kemalasan yang berkepanjangan. Mereka lebih suka pada hal-hal yang praktis dan cepat saji. Dan, begitu juga dalam hal ilmu pengetahuan.

Lebih ironis lagi, lahirnya generasi milenial yang semakin dangkal pembacaannya terhadap teks mengakibatkan lahirnya penulis-penulis baru yang hanya berorientasi untuk memenuhi “kepentingan” sesaat. Betapa banyaknya teks-teks yang diproduksi hanya untuk memenuhi kepentingan-kepentingan sesaat tanpa memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah sebagaimana mestinya (baca; hoax). Tentu, tradisi ini mengakibatkan pergeseran nilai-nilai dasar ilmu pengetahuan. Kepakaran seseorang tidak lagi diukur oleh kualitas karyanya tetapi lebih berdasarkan pada “like” dan “dislike.” Kondisi inilah yang mengakibatkan para pakar menyebutnya sebagai era post-truth atau pasca-kebenaran.

Tentu, kondisi ini akan berdampak pada “suramnya” masa depan teks. Teks, yang secara idealis diposisikan sebagai ruang dialektika pengetahuan yang konstruktif, justru berubah menjadi ruang-ruang pertarungan kepentingngan yang cenderung destruktif. Teks tidak lagi menduduki posisinya sebagai teks pembebasan tapi justru pengerangkengan. Karena itu, semoga kita tidak menjadi generasi terakhir yang hanya menggunakan “teks” sebagai konsumsi belaka untuk memenuhi hasrat dan kepentingan sesaat. Semoga, fenomena teks sebagai “hoax”, pemecah-belah, bahkan pembunuh, hanyalah arus kecil di tengah-tengah derasnya perkembangan tradisi literasi kita yang membangunkan kemanusiaan. Tentu, salah satu alternatifnya adalah meneguhkan kembali tradisi “pembacaan mendalam” pada generasi milenial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *