Sastra Dunia Ketiga

- Advertisement -

Tan Hamzah

Perang dingin telah memisahkan dunia dalam dua ideologi besar, Komunisme dan Kapitalisme. Kedua ideology tersebut membelah dunia, Amerika serta koloninya menganut paham Kapitalis, sedangkan Uni Soviet membentang luas di Eropa Timur dan sebagian Asia untuk menanamkan idelogi Komunis. Tetapi diantara kedua ideologi yang berseteru muncul konsep dunia ketiga, yang dicetuskan oleh negara yang baru saja merdeka.

Dunia ketiga merupakan ancaman sekaligus tantangan untuk merebut hegemoni kekuasaan diantara dua ideologi. Kekuasaan tertinggi bukan lagi soal tahta kekuasaan, bukan lagi soal kekuatan militer, tetapi pengaruh ekonomi yang  ganas dan tidak mengenal batas negara, kekuasaan secara otoritatif dan sulit diintervensi. Dunia ketiga merupakan negara berkembang yang secara ekonomi masih tidak stabil dan perlu mendapat bantuan keuangan. negara dunia ketiga tersebut ialah India dan Indonesia. India mendapat kemerdekaan dari Inggris, sedangkan Indonesia mendapat kemerdekaan dari Belanda.

Kedua negara tersebut menyimpan segelintir cerita heroik dalam menggapai kemerdekaannya, cerita tersebut terekam dalam ingatan bangsanya serta bukti tertulis berupa arsip administratif dan koran. Sebelum kedua negara dijajah oleh bangsa asing, masyarakat pribumi telah mengenal tradisi sejarah, dalam bentuk lisan maupun tulisan. Namun kedua negara tersebut cenderung mempunyai karakter penulisan sejarah yang sama, Logika Mistika seperti yang pernah ditulis oleh Tan Malaka dalam menggambarkan tradisi bangsa timur (Asia).

Esai tentang perbandingan sastra di dua negara tersebut pernah ditulis oleh I Gusti Agung Ayu Ratih dalam Jurnal Kebudayaan Kalam Nomer 6 Tahun 1995. I Gusti membedah dua Sastrawan besar yang menulis tentang sejarah fiksi dari negara India dan Indonesia, yaitu Salman Rushdie dengan karyanya Midnight’s Children dan Pramoedya Ananta Toer dengan karya agungnya Tetralogi Pulau Buruh dengan empat seri bukunya, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Kedua karya tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu menyadarkan bangsanya akan pentingnya nasionalisme dan mengingat sejarah perjalanan bangsanya. Meskipun dalam penulisan mempunyai ciri khas yang mencolok, Salman Rhusdie terlalu menitik beratkan pada kebiasaan bangsa India yang terkungkung Mitos dan Mistis, sedangkan Pramoedya menempuh jalur penelitian arsip Koran yang ia kliping bertahun-tahun. Corak penulisan Surealis dan Realis tergambar dalam kedua karya.

Baca juga  Pembangunan Bandara Di Kediri Selangkah Lagi

Salman Rhusdie mengimajinasikan negara India sebagai negara spiritualis, yang plural dan bangsa yang egois. Tiga agama dalam satu negara, berbeda budaya dan bahasa, serta aktor politik yang tidak bisa mengorganisir negara, terlebih lagi mencoba membelokkan sejarah yang sudah diasumsi secara kolektif. Meminjam perkataan dari Ernest Renan bahwa esensi suatu bangsa adalah selurh individual memiliki banyak hal yang sama, dan bahwa mereka telah melupakan banyak hal, atau menurut Ben Anderson “Amnesia Nasionalisme”. Dalam Midnight’s Children sebuah novel tentang alegori India sebagai negara yang ditopang oleh beberapa bangsa yang menginginkan perubahan sosial secara radikal, massif dan kolektif ketika mencetuskan kemerdekaan.

Baca juga  Kapal Laut

Cita-cita itu sirna sejak munculnya konflik di berbagai kota karena perbedaan identitas, kemudian India sebagai negara yang luas dan mempunyai sumber daya manusia yang besar terpecah menjadi tiga bagian, India, Bangladeh, dan Pakistan. Saleem dan Shiva mempunyai peran berbeda dalam perkembangan negara India. Saleem dipresentasikan sebagai tokoh yang dipuji banyak orang karena kegigihannya membangun sistem negara awal. Ia percaya akan kekuatan pemuda dalam membangun bangsa dan bisa mempertahankan kemajemukan dalam satu naungan kekuasaan. Meski terdengar sentralistis dan feodalistik, tetapi tokoh ini mempunyai visi kenegaraan yang bisa menyatukan mimpi rakyat negara, hidup damai dan bebas dari penindasan. Sedangkan Shiva ditampilkan sebagai sosok pembaharu politik yang berperan sebagai tokoh antagonis, dan kerana tingkahnya berakibat menghancurkan eksistensi persatuan India. Ia berkuasa dan memenjarakan rival politiknya seperti Saleem. Kemudian India yang imajinatif menurut pandangan Saleem sirna.

Hal yang bisa ditafsiri dalam karya Salman Rhusdie ialah bahwa sejarah dalam bentuk realitas merupakan sejarah yang imajinatif, jadi kita terjebak dalam keambiguan dalam menentukan fiksi atau nyata. Negara yang damai hanyalah ilusi, masyarakat akan terus bergejolak dengan tuntutan yang berbeda setiap zaman, dan tugas negara ialah memenuhi hasrat manusia yang heterogen.

Sedangkan novel pembandingnya ialah Tetralogi Pulau Buruh yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, jenis novelnya hampir sama, tetapi dalam karya Pram, sejarah yang ditulis merupakan adaptasi dari kisah nyata kemudian dipoles dengan fiksi, sehingga genre yang tersaji berbentuk sastra surealis. Empat jilid buku yang ditulis Pram merupakan kisah panjang sejarah pergerakan Indonesia, yang dimulai sejak sebelum tahun 1900, era politik etis hingga masa mendekati kemerdekaan. Bumi Manusia pada buku pertama menceritakan tentang sesosok pribumi yang bernama Minke. Ia seorang keturunan priyayi jawa yang mendapat pendidikan modern Hindia-Belanda, dalam Bumi Manusia Pram memaparkan perseteruan antara pribumi dan kolonial Belanda, seperti kasus perampasan tanah, dan kesewenangan hakim dalam memutuskan suatu perkara, yang paling menonjol dalam konflik ini ialah ketika Annelies Mellema dipulangkan ke negeri Belanda karena ibunya saat itu Nyai Ontosoroh tidak mendapat hak asuh.

Baca juga  Kasus Mulan Jameela, Ternyata Staf Presiden masih Belum Tau Fungsi UU MD3

Kemudian dalam Anak Semua Bangsa, Minke mencoba menacri jati dirinya, hakikat seorang manusia, yang ingin sama status sosialnya, dan tidak ada diskriminasi antara pribumi dan kolonial. Ia mencoba mencari kesetaraan tersebut dengan masuk sekolah dokter STOVIA dan ikut terlibat dalam kegiatan sosial, bersama kekasih barunya yang berasal dari Tiongkok, Ang San Mei. Dalam Jejak Langkah Pram menggambarkan Minke sedang dalam tahap membangun organisasi dan mendirikan surat kabar yang bernama Medan Prijaji disinilah petualangan Minke dalam membangun bangsa dan mengkritik keras pemerintahan Belanda dimulai. Tetapi pada akhirnya perjuangan itu harus berakhir dan Minke di buang dalam pengasingan. Rumah kaca mempunyai pemeran baru yang bernama Pangemanann, ia merupakan polisi, dan dalam hidupnya telah banyak berjasa dalam membnatu minke, termasuk menyelamatkan arsip berharga serta tulisannya untuk kemudian diterbitkan. Rumah kaca melambangkan Indonesia modern yang tembus pandang, dan bisa digerogoti oleh bangsa lain.

Baca juga  Romantisme Cinta Segi Tiga; antara Teks,Penulis, dan Pembaca

Pramoedya menempuh penulisan sejarahnya melalui kajian arsip dan beberapa tokoh yang mempengaruhi kepenulisannya, seperti Maxim Gorky dan Revolusi Kaum Muda Tiongkok. Semua peristiwa penting tersebut ia konstruk dalam tulisannya, sehingga pesan kebangsaan yang ia tulis, menyiratkan bahwa dalam membangun nasionalisme bangsa Indonesia, ia telah dipengaruhi oleh bangsa yang lain, pemikiran revolusi dunia, pembentukan hukum, dan sistem negara, banyak menganut sistem negara yang sudah ada. Meski akhirnya mempunyai ciri khas yang berbeda, Indonesia satu negara dengan ditopang oleh beberapa suku bangsa, agama, dan perbedaan lainnya, sehingga menciptakan satu asas ideologi yang sama, dan disebut Pancasila.

Baik Rushdie maupun Pramoedya, seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya, menulis dalam rangka menanggapi suburnya praktek fasisme di negaranya masing-masing. Akan tetapi terlihat jelas betapa berbedanya tanggapan masing-masing. Kalau Rushdie larut dalam putaran-putaran dongeng gaib, yang berakhir dengan leburnya kenyataan perhubungan antar-manusia dan pengunduran diri ke ruang-ruang pribadi, Pramoedya mengembangkan penelitian sejarahnya menjadi suatu cerita panjang yang tidak saja memperdalam kepekaan kita terhadap pergerakan nasional Indonesia tetapi juga mempertegas komitmen sosial dan politik kita.

- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

Pratikno, Resmi Ganti Nama Tol Jakarta Cikampek II Menjadi MBZ

PILIHANRAKYAT.ID. Jakarta-Jalan Tol Jakarta-Cikampek II (Elevated) resmi berganti nama menjadi jalan tol layang Mohamed Bin Zayed, pada...

PSTI DIY Gelar Rakerda, LTAD Jadi Fokus Garapan

PILIHANRAKYAT.ID, Jogja – Pengurus Daerah Persatuan Sepaktakraw Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2021- 2025 terus bergerak. Setelah...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

250 Juta Harga Jabatan di Kudus

PILIHANRAKYAT.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sebelumnya telah menangkap Bupati Kudus, Muhammad Tamzil terkait kasus “jual-beli Jabatan” terus menelusuri dan memeriksa sekda dan...