Tia Setiadi selaku moderator memberikan pengantar dari diskusi “Manusia, Budaya, Kota” tadi malam. Bagi Tia Setiadi, di setiap sudut di Yogyakarta, ada penyairnya. Setiap tempat yang ada di Yogyakarta hampir semuanya terdapat dalam puisi-puisi karya para penyair.
![]() |
| Fotografer/ Bagas Jiddan |
Selanjutnya Tia Setiadi memperkenalkan sedikit latar belakang para pembicara yang sudah siap menyampaikan materi diskusi.
Pertama, Iman Budi Santosa merupakan salah satu anggota PSK yang diampu oleh presiden penyair Malioboro bernama Umbu Landu Paranggi. Buku Antologi Puisi yang beru dilaunching beberapa bulan lalu berjudul “Kampung Halaman”.
Kedua, Rebecca Harkins-Cross asal dari Melbourne, Australia. Rebecca juga salah satu peserta UWRF yang berlangsung antara tanggal 28 Oktober sampai 1 November2015 kemaren. Rebecca merupakan seorang penulis sekaligus kritikus yang berbasis di Melbourne. Karya-karya Rebecca fokus pada tema-tema kesenian dan kebudayaan. Karya-karya Rebecca hasilkan telah banyak tersiar di berbagai media di seluruh Australia. Sekarang, Rebecca aktif sebagai editor film untuk “The Big Issue”, Kritikus teater untuk ”The Age” dan kolumnis film “The Lifted Brow. Lebih lengkapnya tentang siapa sosok Rebecca dapat berkunjung ke http://rebeccaharkinscross.com/about/”
Dan ketiga adalah Sam Cooney, jurnalis Australia yang menjadi salah satu peserta UWRF yang berlangsung antara tanggal 28 Oktober sampai 1 November2015 kemaren. Sam Cooney di Australia menjalan sebuah majalah “The Lifted Brow”. Sam Cooney adalah seorang jurnalis yang bekerja di berbagai jurnal dan penerbit Australia. Tulisan-tulisannya pun telah banyak dipublikasikan di surat kabar nasional, majalah, dan antologi bersama. Selain itu Sam Conney juga aktif sebagai pengajar dalam dunia kepenulisan dan penerbitan di beberapa universitas di Melbourne, Australia.
Setelah Tia Setiadi menyampaikan sedikit profile para pembicara yang sudah siap berduet, berlangsunglah disku tadi malam di Ayumi Cafe dengan suasa santai namun serius dan penuh informasih yang baik dan berguna.
Kesempatan pertama, diberikan kepada Imam Budi Santosa, kemudian dilanjutkan oleh Sam Cooney, dan terakhir adalah Rebecca Harkins-Cross. Masing-masing menyampaikan beberapa informasi terkait perkembangan kesusastraan di Yogyakarta dan Australia. Acara diskusi tadi malam di kemas dengan model ceramah dan tanya jawab dengan tiga sesi yang diatur oleh sang moderator. Diskusi pun berlangsung dengan penuh semangat dan antusiasmu pengunjung. Hal itu ditunjukkan dengan lahirnya penanya yang tidak semuanya dapat ditampung oleh sang moderator dari saking banyaknya. (SEL)





