Opini  

Sekolah Alternatif

Sekolah Alternatif (foto: ist)
Sekolah Alternatif (foto: ist)

(Tan Hamzah)

PILIHANRAKYAT.ID, Sekolah telah menjadi sebuah intitusi pendidikan yang mengikat, dengan sederet aturan berupa penyeragaman identitas almamater atau baju maupun pola pikir dan ideologi. sekolah modern, menerapkan klasifikasi kelas berjenjang dengan mata pelajaran yang sangat diskriminatif, dalam artian sebuah ilmu pengetahuan dikotakkan sesuai umur peserta didik. Sekolah kelas, menkerdilkan ilmu, sekolah kelas, memisahkan antara bodoh dan cerdas, sekolah kelas membedakan antara kaya dan miskin. itulah fenomena pendidikan modern.

Sistem kelas berjenjang di sekolah modern, tidak bisa disalahkan semua, pasti mempunyai sisi baiknya. Tetapi jika dilihat dari kurikulum pembelajaran yang diterapkan, saya masih setuju dengan pendapat Paulo Freire dengan sistem banknya. Menurut Freire sekolah modern hanya mampu menjadi alat transfer ilmu pengetahuan, murid diajari mengikuti cara berpikir gurunya, tanpa menyuruh murid berpikir kritis dan inovatif, sehingga menjadi catatan kaki dari guru. Idealnya seorang murid, ia harus berani berpikir sendiri setelah mendapat stimulus ilmu dari guru, ia harus mampu membaca keadaan lingkungan barunya, dengan begitu akan tercipta sebuah ilmu pengetahuan, melalui cara berpikir kritis, meminjam perkataan Immanuel Kant, Sapare Aude, beranilah berpikir sendiri. atau kutipan Rene Descartes, Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada.

Baca juga  Fenomena Bersatunya Jokowi dan Prabowo

Pendidikan modern yang beroirentasi pada industri kerja, justru mengkhianati ilmu pengetahuan, karena semua ilmu pengetahuan tidak bisa direalisasikan dengan kerja praktis, ilmu pengetahuan seperti filsafat, sejarah, dan sastra menuntut kerja produktif, tetapi melalui kepekaan berpikir, dan hasilnya ialah buku atau tulisan. Tetapi orientasinya bukan kerja dengan upah yang setimpal melalui jam kerja seperti yang diterapkan pemerintah, karena kerja berpikir membutuhkan wawasan yang luas, dan tidak terikat kontrak dengan perusahaan, mereka kerja demi ilmu pengetahuan. Ilmu yang tidak pasti dan tidak berorientasi pada industri negara, dianggap tidak penting, karena pemerintah hanya butuh pekerja bukan pemikir ulung.

Masalah pendidikan modern yang sangat kompleks, akan berimpas pada kemajuan negara, di negara kita kurikulum belum jelas, setiap ganti kementrian programnya juga akan berubah, pemerintah negara belum punya patokan yang jelas. Seumpama kurikulum pendidikan nasional sudah ditetapkan dan tidak boleh dibombardir oleh menteri yang baru, sebab masalah pendidikan bukan masalah kekuasaan politik, dan masalah pendidikan akan dirasakan sampai akar rumput, masyarakat paling bawah. Sekali lagi bagaimana kurikulum pendidikan Indonesia yang baik, itu patut kita fikirkan.

Sekolah alternatif, merupakan pendidikan tanpa institusi, tanpa guru, tanpa kurikulum, dan tanpa murid. Bagaimana penerapannya, sekolah alternatif mengajak semua elemen masyarakat untuk belajar bersama, tanpa klasifikasi umur, semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru. Sekolah menerapkan belajar di semua ruang, dengan diskusi terbuka, tanpa dibatasi waktu, hal itu bisa diterapkan di warung kopi atau dimanapun, seinget saya para filsuf dan sastrawan eropa sering menghabiskan waktunya di warung kopi untuk diskusi, sebut saja Albert Camus dan Jean Paul Sartre. Mereka bukan menggurui, tetapi saling belajar. Kemudian berbicara ruang kelas, karena kita tidak mempunyai ruang kelas yang cukup efektif untuk belajar secara sistematis, maka kita butuh waktu luang untuk belajar, bukan semua waktu untuk belajar.

Baca juga  Presiden 3 Periode, Kepentingan Kelompok.

Ketika kita kembali membaca sejarah yunani kuno, kita akan melihat esensi dari sekolah sesungguhnya, masa Socrates, ia mengajar pada murid-muridnya ketika mereka selesai bekerja, sesuai tugas dalam masyarkat, kehidupan seperti biasa, berternak, bertani, melakukan pekerjaan seni dan lain sebagainya. Murid tersebut akan datang ke Socrates untuk meminta nasehat dan diskusi segala hal tentang kehidupan, sehingga akan terjadi pertemuan berbagai macam pendapat, forum tersebut pernah ditulis oleh Plato, salah satu murid Socrates.

Pendidikan yang baik, ialah kembali pada tujuan ilmu pengetahuan, membebaskan manusia dari belenggu kebodohan, manusia yang mulanya takluk pada alam, sekarang bisa menaklukkan alam, manusia yang percaya mitos akan diganti pada hal logis. Tetapi ilmu pengetahuan terus mengalir mengikuti zaman, dan aka nada hal baru pada setiap zaman yang dilalui, dan sekali lagi ilmu itu bukan hanya terletak di ruang kelas sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *