Kiai Badri adalah tokoh NU berdarah Madura, dia tinggal dan mendirikan pondok di Kraksaan Probolinggo. Dalam memperjuangkan Tarekat Tijaniyah, dia pantang mundur walau harus beradu argumentasi dengan kiai yang sangat memiliki pengaruh besar di Jatim, kiai As’ad Syamsul Arifin.
Tabeng Pote matah, bengo’ah pote tolang (Daripada Putih Mata mending Putih Tulang)
tabeng mateg siksa bengo’ah mate perang (Daripada mati siksa mending mending mati perang).
Sebagai orang Madura, mungkin pantun diatas dapat menjadi prinsip dari sosok kiai Badri yang tak pernah gentar adu argumentasi dengan siapa saja. Dalam tarekat Tijaniyah, kiai Badri sebagai muqaddam memang punya keharusan untuk memperjuangkan tarekat yang dianutnya sehingga dia harus berhadapan dengan kiai As’ad yang sangat menolak Tijaniyah sebagai tarekat mutabaro’ an-Nahdiyah.
Dalam pidatonya kiai As’ad mengatakan “sekarang dimana-mana tersebar tarekat Tijaniyah yang cenderung menyimpang dari kesucian aqidah dan syari’ah. Lebih mempercayai mimpi dari pada keabsahan al-Qur’an dan Hadist Nabi. Saya nilai tarekat Tijaniyah itu sesat dan menyesatkan dan berbahaya buat kita. (Panji Masyarakat 20 Oktober 1998)
Beredarnya kelompok anti-Tijaniyah yang dipelopori oleh kiai As’ad, kiai Badri tidak bisa tinggal diam, dia mengatakan secara tegas saat acara pengajian “saya sudah menantang para ulama’ itu untuk bicara. Apa yang salah, mari kita bicarakan, bukan menyalahkan di depan orang awam”( Majalah editor).
Tarekat Tijaniyah telah diresmikan menjadi tarekat mu’tabarah an-Nahdliyah saat muktamar NU ke-3 di Surabaya yang dipimpin lansung oleh kiai Hasyim Asy’ari. Keputusan muktamar masih belum bisa diterima oleh kelompok anti-Tijaniyah.
Tokoh NU yang tidak ikut campur sangat prihatian melihat dua kubu, kiai As’ad Vs kiai Badri. Mereka ingin mendamaikan dua kubu tersebut agar tidak berakibat fatal terhadap kerukunan umat islam lebih-lebih Internal NU. Para muqaddam sepakat untuk mempertemukan dua kubu dalam agenda Seminar yang bersamaan dengan Idul Khodmi tarekat Tijaniyah.
Dalam acara seminar Kiai Husaen Muhammad sebagai perwakilan yang mengkritik Tijaniyah dari sudut pandang historisdan aliran pemikiran. Menurut kiai Husaen, syekh Ahmat Tijani banyak dipengaruhi oleh paham arabi, abdul karim al-jili, dan al-Hallaj dan syaikh Ahmad sangat jauh masanya dengan Nabi.
Kiai Badri sebagai kubu pembela Tijaniyah mengkritik kiai Husaen, khilafah atau perselisihan di bidang aqidah harus dibendung, hanya aqidah Ahlussunnah waljama’ah yang harus tegak berdiri, sedang khilaf di bidang fiqh harus jalan terus demi kelonggaran jalannya kehidupan umat islam di bidang hukum.
Dalam mengembang tanggung jawab sebagai muqaddam Tijaniyah, kiai Badri cukup berhasil mengembangkan tarekat Tijaniyah di wilayah Probolinggo dan sekitarnya, semua itu dapat dilihat sampai saat ini. Masjid Pondok Pesantren yang didirikannya menjadi tempat dalam melakukan wirid bersama setiap tanggal 17 Hijriah.(Cipto/PR.ID)




