PILIHANRAKYAT.ID, Tangerang-Sejumlah ulama di Banten berharap Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada 2026 melahirkan pemimpin yang mampu menjawab tantangan organisasi sekaligus tetap berpijak pada tradisi pesantren.
Harapan itu disampaikan Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Junaidi, saat ditemui di kediamannya pada Ahad, 9 Agustus 2026. Menurut dia, pemimpin NU mendatang setidaknya harus memiliki tiga modal utama: keilmuan, integritas, dan komitmen terhadap ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
“NU ini jam’iyah besar. Pemimpinnya harus alim, memahami persoalan umat, dan istiqamah menjaga manhaj Aswaja,” kata Ahmad Junaidi.
Ia mengatakan tantangan yang dihadapi NU semakin kompleks. Persoalannya tidak hanya berkaitan dengan keagamaan, tetapi juga kebangsaan dan perubahan akibat perkembangan teknologi digital. Karena itu, pemimpin NU, menurut dia, harus mampu menjadi rujukan umat sekaligus memiliki kemampuan membaca perubahan zaman.
Kedekatan dengan Pesantren
Harapan serupa disampaikan KH Aliyuddin Zen, Pengasuh Pesantren Al Hikmah El Ali Cinding, Pendawa, Kresek. Ia menilai pemimpin NU perlu memiliki kedekatan dengan pesantren dan para santri.
Bagi Aliyuddin, pemimpin organisasi sebesar NU semestinya tidak tercerabut dari akar tradisi pesantren. Pemimpin juga diharapkan memiliki kedalaman ilmu, dekat dengan para kiai sepuh, serta bersedia turun langsung menemui warga pesantren.
Ia berharap pemimpin yang terpilih nantinya turut merawat khazanah keilmuan klasik dan memperkuat kaderisasi di lingkungan pesantren. Dengan begitu, estafet perjuangan NU dapat terus berjalan.
Harapan dari Akar Rumput
Harapan terhadap pemimpin NU juga datang dari masyarakat akar rumput. KH Khazinul Asror, tokoh masyarakat Desa Jiput, mengatakan warga membutuhkan pemimpin yang membumi dan memahami persoalan sehari-hari.
Menurut dia, pemimpin NU tidak harus hanya piawai dalam urusan internasional. Persoalan masyarakat di tingkat lokal justru harus menjadi perhatian.
“Di desa butuh pemimpin yang tegas dan ilmunya merakyat, yang bisa dipahami orang-orang di musala dan majelis taklim,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai sosok yang dianggap ideal, Khazinul menyebut KH Said Aqil Siroj sebagai salah satu tokoh yang diidolakan kalangan santri.
Ia menilai kemampuan keilmuan dan cara Said Aqil menyampaikan materi keagamaan menjadi daya tarik tersendiri. Khazinul berharap mantan Ketua Umum PBNU itu bersedia menerima amanah apabila dipercaya menjadi Rais Aam PBNU.
“Jamaah menitipkan harapan besar pada Muktamar. Semoga beliau berkenan menerima amanah sebagai Rais Aam PBNU,” katanya.
Ketiga ulama tersebut berpandangan bahwa proses pemilihan dalam Muktamar ke-35 NU harus berlangsung dengan mengedepankan pertimbangan keilmuan, integritas, kedekatan dengan pesantren, serta kemampuan memahami persoalan umat.
Bagi mereka, pemimpin yang lahir dari Muktamar bukan sekadar pemegang jabatan struktural. Ia diharapkan menjadi qiyadah atau kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi NU sekaligus membawa organisasi menghadapi perubahan zaman.




