PILIHANRAKYAT.ID, Bali-Di tengah gemuruh kedatangan dan keberangkatan penumpang di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, sebuah inisiatif baru digulirkan untuk memperluas makna layanan kebandarudaraan. Mulai akhir November 2025, petugas frontline — customer service dan keamanan (Avsec) — resmi mengikuti pelatihan bahasa isyarat.
Program ini bukan sekadar pelatihan bahasa tambahan. Bagi pejabat bandara, kemampuan berisyarat adalah gerbang ke layanan yang inklusif — agar penumpang penyandang disabilitas, terutama tunarungu, mendapat pengalaman serupa tanpa ketidaknyamanan. “Kami ingin memastikan layanan yang semakin inklusif, sehingga penumpang dengan kebutuhan khusus dapat memperoleh pengalaman yang lebih nyaman dan setara,” kata PH General Manager bandara.
Inisiatif itu merupakan bagian dari 24 paket program perbaikan yang dijalankan manajemen bandara: mulai revitalisasi terminal, pembaruan fasilitas pendukung transportasi publik, penataan signage, hingga optimalisasi sistem digital dan layanan self-check-in.
Dengan menghadirkan staf yang mampu berkomunikasi lewat bahasa isyarat, Bandara Ngurah Rai menunjukkan bahwa aspek kenyamanan dan aksesibilitas tak hanya sebatas fasilitas fisik — tetapi juga komunikasi manusiawi. Bagi calon penumpang dengan disabilitas, perubahan ini bisa menjadi penopang rasa aman dan dihargai di pintu gerbang pariwisata terbesar Indonesia.
Di balik gemerlap lampu terminal dan riuh langkah kaki penumpang, inisiatif sederhana seperti pelatihan bahasa isyarat menjadi bagian kecil dari upaya besar: meredefinisi bandara — bukan sekadar sebagai titik transit — tetapi ruang yang ramah dan setara bagi semua orang.




